87 Gema Nyanyian di Sepanjang Sungai - Pos Kupang
Pos Kupang
Gema Nyanyian di Sepanjang Sungai
Sabtu, 12 Maret 2011 11:44 WITA
Share |

SETIAP kali mengikuti  pesta atau ketika berjalan-jalan di Kota Kupang, rasanya  telinga  ini tak pernah lepas mendengar alunan lagu dan musik "Iki Mea" yang kini  begitu hits. Begitu tenar, bahkan mungkin sudah menjadi milik  seluruh pencinta  musik di tanah air.

Mata saya  juga  selalu  merekam gerakan yang sungguh ritmik   tatkala lagu yang mengisahkan  pesta syukuran panenan ini menghantar  siapa saja untuk ber-jai, salah satu tarian khas  dari etnis Ngada dan Nagekeo. Ada kebanggaan luar biasa  kala menyelami  irama lagu itu.

Indah, gegap gempita dan semarak meski  saya tak memahami  makna kata-kata  di balik lagu ini. Menghibur, apalagi dengan suara lelaki dan perempuan yang bersahut-sahutan. Saling jawab- menjawab. Ada komunikasi dalam lagu itu. Menunjukkan  sebuah kolektivitas dalam meramu  sebuah musik yang bukan saja indah, tapi menghentak  rasa. Membanggakan!

Yang pasti bahwa "pasar" menerima  lagu itu. Sama dengan  lagu-lagu berirama jai lain,  rokatenda atau dolo-dolo atau lagu bercorak khas  tebe-tebe di Timor sini.   
Kita memang  tak bicara lagi  tentang siapa itu Yonas Parera yang sukses  menulis lagu "Bukit Berbunga" atau de Rosen Grup  yang begitu setia memperkenalkan semua lagu daerah di  "kampung" kita ini. Juga bukan tentang  lagu "Musim Gugur" karya Max da Gama.

Semua memiliki keunikan masing-masing.  Pada generasi berikut muncul Eman Bata Dede yang eksis dengan lagu-lagu gawi, Boby Tunya,  Wens Kopong dan  Sius Ottu. Belum lagi kita menyebut dua too, Obbie Messakh dan John Seme yang sukses  di tangga musik  genre pop Indonesia. 

Ternyata  kita punya  talenta luar biasa. Obbie Messakh,  pernah membuat negeri ini "haru biru" dengan karya-karya sentimentilnya karena memang pasar saat itu tengah gandrung.

Bakat bermusik  orang-orang kita memang tak kecil. Stigmatisasi bahwa daerah kita ini akrab dengan musik dilukiskan oleh      

Max Weber, sebagaimana dikutip oleh J Kunst (1942). Weber menulis begini.  "Tentang musik instrumen, saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi.

Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku. Melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan, di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor?"

Weber menulis lagi, di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bas yang baik. Tetapi, hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makassar.

Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh (hal. 32).

                        ***

KITA harus jujur mengatakan bahwa bakat musikal itu tak hanya  di Flores tetapi di NTT. Pukul rata semua  penduduk di tanah ini  akrab dengan musik terutama  dalam nyanyian koor.

Tentang hal ini almarhum Frans Seda  mengatakan bahwa kemampuan musikal orang  Flores dan NTT karena sering berlatih koor untuk   perayaan liturgi gereja pada hari Minggu. Ia juga mengatakan, perjalanan yang jauh antarkampung  justru menjadi ajang bagi  penduduk  setempat untuk bernyanyi. Karena merasa takut penduduk terpaksa bernyanyi dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.  

Penduduk (umat) di sana  juga sungguh inkulturatif.  Mereka mengungkapkan  dalam liturgi gereja yang menyentuh, berbasis  budaya setempat. Yesus bahkan Maria  tersimbol sebagai orang Flores dan NTT. Dan, jangan heran ada begitu banyak komponis  musik gereja yang  berbakat. Tentu saja menjadi  khazanah  musik bagi daerah kita. 

Kini, musik di daerah itu  sudah maju. Apa yang dilukiskan  Max Weber  yang saat itu sulit menjumpai perangkat musik, kini tak ada lagi.  Musik di sana sudah maju  dan dapat ditemukan  di mana-mana. Zaman sudah berubah. Tengoklah sekarang. Lagu- lagu jai merajai daerah ini, seperti Iki Mea itu. Juga irama rokatenda dan  dolo-dolo.*