SETIAP kali mengikuti pesta atau ketika berjalan-jalan di Kota Kupang, rasanya telinga ini tak pernah lepas mendengar alunan lagu dan musik "Iki Mea" yang kini begitu hits. Begitu tenar, bahkan mungkin sudah menjadi milik seluruh pencinta musik di tanah air.
Mata saya juga selalu merekam gerakan yang sungguh ritmik tatkala lagu yang mengisahkan pesta syukuran panenan ini menghantar siapa saja untuk ber-jai, salah satu tarian khas dari etnis Ngada dan Nagekeo. Ada kebanggaan luar biasa kala menyelami irama lagu itu.
Indah, gegap gempita dan semarak meski saya tak memahami makna kata-kata di balik lagu ini. Menghibur, apalagi dengan suara lelaki dan perempuan yang bersahut-sahutan. Saling jawab- menjawab. Ada komunikasi dalam lagu itu. Menunjukkan sebuah kolektivitas dalam meramu sebuah musik yang bukan saja indah, tapi menghentak rasa. Membanggakan!
Yang pasti bahwa "pasar" menerima lagu itu. Sama dengan lagu-lagu berirama jai lain, rokatenda atau dolo-dolo atau lagu bercorak khas tebe-tebe di Timor sini.
Kita memang tak bicara lagi tentang siapa itu Yonas Parera yang sukses menulis lagu "Bukit Berbunga" atau de Rosen Grup yang begitu setia memperkenalkan semua lagu daerah di "kampung" kita ini. Juga bukan tentang lagu "Musim Gugur" karya Max da Gama.
Semua memiliki keunikan masing-masing. Pada generasi berikut muncul Eman Bata Dede yang eksis dengan lagu-lagu gawi, Boby Tunya, Wens Kopong dan Sius Ottu. Belum lagi kita menyebut dua too, Obbie Messakh dan John Seme yang sukses di tangga musik genre pop Indonesia.
Ternyata kita punya talenta luar biasa. Obbie Messakh, pernah membuat negeri ini "haru biru" dengan karya-karya sentimentilnya karena memang pasar saat itu tengah gandrung.
Bakat bermusik orang-orang kita memang tak kecil. Stigmatisasi bahwa daerah kita ini akrab dengan musik dilukiskan oleh
Max Weber, sebagaimana dikutip oleh J Kunst (1942). Weber menulis begini. "Tentang musik instrumen, saya tidak banyak menemukan, tetapi adalah sebuah fakta bahwa penduduk Flores memiliki bakat musikal yang lebih dibandingkan suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang saya jumpai di Sumatra, Jawa dan Sulawesi.
Saya tidak pernah mendengar suara nyanyian yang kompak dan serasi dengan melodinya. Ini berbeda di Flores. Banyak terdengar suara pria yang dalam, gema nyanyian di sepanjang sungai, tetap terngiang-ngiang di telingaku. Melodinya menyenangkan telinga Eropa juga. Dan, di manakah orang Flores yang berjalan tanpa menyanyikan pantunnya, lengkap dengan solo dan refrainnya dalam koor?"
Weber menulis lagi, di antara penyanyi-penyanyi solo ini, terdapat beberapa suara yang dengan latihan yang lebih baik, akan menjadi penyanyi tenor, sopran dan bas yang baik. Tetapi, hal ini jelas hampir tidak terlihat pada suara penduduk Melayu asli, termasuk Bugis dan Makassar.
Barangkali inilah pembedaan morfologis dalam ekspresi vokal, yang mendukung gagasanku tentang kekeluargaan di Flores dengan suku-suku yang hidup di timur jauh (hal. 32).
***
KITA harus jujur mengatakan bahwa bakat musikal itu tak hanya di Flores tetapi di NTT. Pukul rata semua penduduk di tanah ini akrab dengan musik terutama dalam nyanyian koor.
Tentang hal ini almarhum Frans Seda mengatakan bahwa kemampuan musikal orang Flores dan NTT karena sering berlatih koor untuk perayaan liturgi gereja pada hari Minggu. Ia juga mengatakan, perjalanan yang jauh antarkampung justru menjadi ajang bagi penduduk setempat untuk bernyanyi. Karena merasa takut penduduk terpaksa bernyanyi dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.
Penduduk (umat) di sana juga sungguh inkulturatif. Mereka mengungkapkan dalam liturgi gereja yang menyentuh, berbasis budaya setempat. Yesus bahkan Maria tersimbol sebagai orang Flores dan NTT. Dan, jangan heran ada begitu banyak komponis musik gereja yang berbakat. Tentu saja menjadi khazanah musik bagi daerah kita.
Kini, musik di daerah itu sudah maju. Apa yang dilukiskan Max Weber yang saat itu sulit menjumpai perangkat musik, kini tak ada lagi. Musik di sana sudah maju dan dapat ditemukan di mana-mana. Zaman sudah berubah. Tengoklah sekarang. Lagu- lagu jai merajai daerah ini, seperti Iki Mea itu. Juga irama rokatenda dan dolo-dolo.*