1473 Pengaruh Gizi pada Mata, Defisiensi Vitamin A - Pos Kupang
Pos Kupang
Pengaruh Gizi pada Mata, Defisiensi Vitamin A
Senin, 10 Januari 2011 21:09 WITA
Share |
Berita Terkait

DEFISIENSI (kekurangan) vitamin A yang dapat memberikan kelainan pada mata merupakan penyebab utama kebutaan di negara berkembang selain infeksi pada mata.

Menurut WHO dan UNICEF kebutaan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan penglihatannya sebagai hal yang esensial sebagaimana orang yang sehat.

Di Indonesia, atas anjuran WHO untuk negara yang sedang berkembang, sejak tahun 1981 dipakai kriteria untuk kebutaan jika tajam penglihatan 3/60 atau lebih rendah yang tidak dapat dikoreksi.

Defisiensi vitamin A, sering disebut sebagai xeroftalmia, dapat terjadi pada semua umur akan tetapi defisiensi yang disertai kelainan pada mata umumnya terdapat pada anak berusia 6 bulan sampai 4 tahun, dimana kira-kira 15-25 persen menjadi buta total dan 58-60 persen menjadi buta sebagian.

Setiap tahunnya lebih dari 60.000 anak pra sekolah di Indonesia yang terancam menderita kebutaan akibat defisiensi vitamin A ini.

Di Indonesia penyakit ini ditemukan secara berkelompok dan terutama di daerah pedesaan.

Penyakit ini ditemukan pada masyarakat dengan keadaan kehidupan sosial ekonomi yang rendah, sehingga biasanya pada anak-anak tersebut juga terdapat kelainan kalori protein malnutrisi (gizi kurang).

Bila defisiensi vitamin A ditemukan pada keluarga dengan penghasilan cukup, biasanya hal ini disebabkan karena kurangnya pengertian dan kesalahan gizi bersamaan dengan penyakit gastrointestinal (saluran pencernaan) dan penyakit hati menahun.

Sehingga secara umum, defisiensi vitamin A dapat disebabkan: primer, dimana kurangnya vitamin A dalam makanan; dan sekunder dimana penyerapan usus tidak baik.

Faktor-faktor penyebab tetap banyaknya xeroftalmia di Indonesia antara lain:

-.    Keadaan sosial ekonomi buruk (=kemiskinan).

-.    Ignorancy, ketidakpedulian.

-.    Kurangnya pendidikan kesehatan

-.    Masih adanya tahayul atau pantangan makan di masyarakat.

    -.    Masih tingginya angka infeksi pada anak-anak, misalnya bronchitis, tuberculosis paru, morbili (campak) dan penyakit saluran cerna.

Sumber vitamin A alamiah yang baik antara lain: ASI (Air Susu Ibu), susu sapi, hati, telur, ikan segar, bermacam- macam buah-buahan dan sayur-sayuran.

Gejala Klinis
Pasien yang menderita defisiensi vitamin A akan mengeluh mata kering, seperti kelilipan, sakit, buta senja dan penglihatan lama kelamaan akan turun perlahan.

Jika pada pemeriksaan oleh dokter ditemukan buta senja, kekeringan selaput lendir mata dan kornea, serta bercak Bitot maka kelainan tersebut masih bisa kembali normal (reversibel) dengan pengobatan.

Tetapi apabila penderita datang terlambat dan sudah ditemukan luka pada kornea (ulserasi kornea) atau pelunakan kornea (keratomalasia) maka kelainan ini merupakan kelainan yang tidak bisa kembali normal (ireversibel).

Bercak Bitot merupakan tanda yang khas untuk defisiensi vitamin A, yaitu bercak berwarna putih seperti mutiara yang berbentuk segitiga dan seperti terdapat busa diatasnya.

Bercak ini terletak di selaput lendir bagian putih mata (konjungtiva bulbi). Ada beberapa klasifikasi kelainan mata karena vitamin A ini yang dipakai oleh dokter spesialis mata seperti klasifikasi WHO, Kemenkes dan Ten Doeschate.

Pada defisiensi vitamin A kelainan akan diderita kedua mata, walaupun derajat kelainan yang diderita kadang- kadang tidak sama. Defisiensi vitamin A juga akan memberikan gejala sistemik berupa: retardasi mental, terhambatnya perkembangan tubuh, apatis, kulit kering, dan keratinisasi mukosa.
Pengobatan
Ada empat tujuan pengobatan defisiensi vitamin A yaitu:
-.    Memberi makanan TKTP (tinggi kalori tinggi protein).
-.    Mengobati penyakit infeksi yang diderita.
-.    Memberi vitamin A (dosis terapetik).
-.    Mengobati kelainan mata.

Biasanya penderita xeroftalmia juga menderita malnutrisi, karena itu dokter dapat meminta pendapat ahli gizi untuk memberikan nasihat gizi anak dan mengobati penyakit infeksi yang juga diderita. Pengobatan pemberian vitamin A ada dua cara yaitu diberi dosis total 50.000-75.000 IU/Kg berat badan dengan pegangan dosis maksimal 400.000 IU.


Cara pertama diberikan 100.000 IU tiap minggu selama empat minggu. Apabila masih ada tanda-tanda xeroftalmia boleh ditambah pemberian vitamin A dengan mengingat jangan sampai timbul hipervitaminosis A (gejalanya seperti tidak nafsu makan, mual, muntah dan sakit kepala).

Cara kedua (WHO) yaitu pada hari pemeriksaan pertama diberikan 100.000 IU pada penderita usia satu tahun keatas. Minggu berikutnya diberi 100.000 IU, waktu pulang diberi 200.000 IU.

Pencegahan
Ada dua cara pencegahan defisiensi vitamin A yaitu:

1.Pencegahan jangka pendek.
Pada setiap anak balita diberikan kapsul vitamin A oral dosis 200.000 IU setiap enam bulan atau 300.000 IU setiap tahun. Biasanya dilakukan oleh tenaga medis di Puskesmas atau Posyandu melalui bulan kapsul vitamin A. Pemilihan salah satu cara tergantung dari tenaga kesehatan yang tersedia, biaya, luas daerah yang harus dikerjakan.

2.Pencegahan jangka panjang.
    - Memberikan minyak kelapa sawit kurang lebih 4 cc sehari pada anak balita
    - Nutritional education, fortifikasi makanan dengan vitamin A misalnya gula, garam, susu dan vetsin.

Penulis adalah dokter PTT di Puskesmas Seba,
Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua-NTT.


BIODATA

1. Nama            : dr. U TEI DOMINICA FREDLINA
2. Tempat dan Tanggal Lahir    : Denpasar, 3 Oktober 1982
3. Jenis Kelamin        : Perempuan
4. Status Perkawinan        : Menikah
5. Alamat            : Jl. Tunggul Ametung VB no.8, Denpasar – BALI
                   Hp: 08123631198
6. No. KTP            : 5171044310820005, Prop. Bali
7. Lulusan            : FK Univ. Udayana, th. 2006
8. No. STR Dokter        : 5121100106063118, Tanggal : 08 Desember 2006
                10. Tempat Tugas    : Puskesmas Seba, Kec. Sabu Barat, Kab. Sabu Raijua.