Kupang, POS KUPANG.Com - Eksplorasi blok minyak dan gas Kolbano di bagian selatan Pulau Timor, Kabupaten Timor Tengah Selatan, tidak perlu dicemaskan warga setempat, karena berdasarkan hasil survei kegiatan tersebut belum berdampak buruk/negatif bagi kesehatan manusia.
"Survei ini dilakukan menyusul munculnya kecemasan warga di sekitar lokasi ekplorasi blok Migas Kolbano akan muncul semburan seperti lumpur Lapindo," kata Dosen Geologi dan Jurusan Teknik Tambang Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Noni Banunaek di Kupang, Rabu (8/9/2010).
Menurut dia, hasil kajian dari penelitian tersebut menyebutkan apa yang dilakukan oleh Eni West Timor di Kolbano, baru sebatas tindakan seismik atau upaya untuk mencaritahu dan mengidentifikasi lapisan atau struktur tanah dan batuan lewat pancaran getaran.
"Seismik itu suatu proses yang masih jauh dari tahapan pelaksanaan pengeboran atau penambangan migas yang sesungguhnya dan tidak mempunyai dampak berbahaya bagi kehidupan warga sekitar jika dilakukan sesuai sistim dan teknik yang benar.
Ia menjelaskan dalam kegiatan eksplorasi itu akan muncul pancaran getaran akibat ledakan dinamit yang ditempatkan dalam lubang tanah itu skalanya kecil sekali, sehingga kalaupun terjadi letupan skalanya jauh dibawah gempa bumi yang sering terjadi di pulau Timor.
Dia mengatakan Seismik itu dilakukan dengan cara mengebor lapisan tanah, untuk sejumlah titik. "Dalam lubang pengeboran itu dimasukan dinamit atau peledak. Ledakan dinamit itu yang nanti dipancarkan dan terekam oleh suatu benda atau alat, yang juga ditempatkan dalam lubang tersebut. Dari cara itu, akan diketahui struktur lapiasan tanah," katanya.
Menurut dia, untuk keperluan survei migas, umumnya tanah dibor menggunakan pipa dua inci, dan kedalam pengeboran umumnya hanya mencapai sekitar 30-60 meter jauh dari ukuran ke dalam.
"Ledakan dinamit yang dipakai untuk menimbulkan getaran itu, tambah Noni, tidak sampai menciptakan lubang besar dalam tanah, karena sifatnya dinamit itu hanya untuk menciptakan ledakan skala kecil, untuk menimbulkan getaran yang nantinya terekam oleh alat perekam yang dinamakan Geophone," katanya.
Dia mengatakan Seismik untuk keperluan eksplorasi migas bukan baru pertama kali dilakukan. "Sekitar 1989 hingga 1993 pernah juga ada sesimik dan pada saat itu, ada enam line siesmik untuk keperluan eksplorasi migas perusahaan Amoses," katanya.
Waktu itu katanya ada enam line seismik yang terhubung antara Besikama-Belu, TTS, hingga Kabupaten Kupang, namun meski eksplorasi tidak jadi dilakukan namun hingga kini belum ada dampak dari seismik tersebut bagi warga maupun lingkungannya. Manager Program Walhi wilayah Nusa Tenggara, Hery Naif mengatakan masyarakat di sekitar lokasi hulu dan hilir pesisir Selatan Pulau Timor, sebelumnya mulai mencemaskan kegiatan eksplorasi blok Minyak dan Gas Bumi oleh Eni West Timor di Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.
"Sejak Juni 2010 ketika satu dari tiga blok minyak dan gas bumi yang ditemukan di Provinsi Nusa Tenggara Timur yakni Blok Kolbano dieksplorasi Eni West Timor, masyarakat sekitar mulai diliputi berbagai kecemacan akan dampak negatif dari kegiatan tersebut," katanya. (ant)
salam hormat: kepada pos kupang mohon di perjelas mengenai prosedur yg benar, mengenai segala hal yang berkaitan dengan hasil alam kita di kupang, seperti batu mangan. yg saat ini lagi gencar. termasuk uu dan sgala perijinan. sehingga investor dr luar yg ingin masuk ke NTT tdk salah. untuk pemerintah tolong jangan kecolongan lagi seperti batu marmer yg cuman di bawa keluar trus. tp kalo bisa ada pabrik di kupang. itu sangatlah evektif, dan banyak manfaat bg rakyat kita d NTT.trimkasih. salam sukses.