»Home » Editorial » Salam »
Datang, Dengar dan Ayomi
Jumat, 3 September 2010 | 00:11 WITA

KUNJUNGAN kerja  anggota DPRD Timor Tengah Selatan (TTS) pada masa reses ke Kecamatan Toianas, menemukan sejumlah persoalan. Salah satu persoalan  yang menonjol adalah akumulasi matinya ratusan ekor sapi dalam sebulan terakhir. Sebab musababnya, yakni  cuaca dingin yang menimpa  daerah itu.    

Temuan wakil rakyat ini tentu patut disikapi oleh pemerintah secara serius. Benar, sebagaimana dikemukakan anggota Dewan yang mengutip masyarakat bahwa sapi yang mati itu akibat cuaca dingin. Inilah merupakan pengakuan jujur masyarakat. Mereka mungkin saja melihat hanya di atas permukaan.

Karena itu pemerintah perlu turun ke sana. Turun untuk mencari tahu duduk perkara ini. Jangan sampai alasan musim dingin sebagai pemicu semata. Mungkin saja ada wabah seperti penyakit ngorok yang kerapkali menimpa ternak-ternak besar itu.  Sebab penyakit ini muncul ketika terjadi perubahan  musim yang kontras. Asumsi kita mengarah ke sana. Selama tahun ini, musim hujan tak pernah henti. Juga panas yang menyengat.

Kita juga melihat persoalan ini seakan ditutupi sehingga laporan itu belum juga sampai ke pemerintah kabupaten. Seberapa jauh Toianas dari SoE? Benar, letaknya  di perbatasan TTS dan Belu. Jarak yang jauh dari segi geografis. Tapi jarak komunikasi? Rasanya tak ada.  Saat ini siapa pun akan dengan mudah memperoleh akses informasi berbagai hal meski di sudut desa sekalipun.

Memang sudah bukan  rahasia lagi. Kerapkali pemerintah di tingkat bawah menyembunyikannya dengan berbagai alasan. Takut dinilai gagal, takut  menjadi sorotan media massa dan sejumlah alasan yang kerapkali sulit dicerna akal sehat.

Padahal jika kita lihat secara jernih dengan membuat laporan, maka persoalan itu akan tuntas. Dan, masyarakat segera mendapat bantuan dari pemerintah. Seringkali  masyarakat di desa karena keterbatasan pikiran, menyerah saja pada kenyataan. Padahal masih ada seribu satu jalan yang bisa  membantunya. Ketua RT, kepala dusun dan kepala desa pun mungkin sulit mengadministrasikan, apalagi melaporkan secara runut tentang kejadian atau peristiwa itu.

Menurut laporan Dewan, jumlah sapi yang mati  bisa saja lebih dari itu karena beberapa desa belum didata. Tugas pemerintah adalah bagaimana mendatangi desa-desa ini. Dalam konteks otonomi desa dan kecamatan, maka di pundak kepala desa dan camat kita harapkan   ada follow up.  Ada tindak lanjut dari mereka.

Kepada mereka  patut diberi deadline atau batas waktu. Jika tidak, maka bulan depan bahkan hingga setahun mendatang belum ada laporan. Mengapa? Karena watak orang-orang kita sering  mengulur-ulur waktu. Ada dua persoalan, pertama, karena malas atau tak fokus; dan kedua, karena ketidaktahuan.  Orang yang tak tahu persoalan seringkali  mengulur-ulur waktu dengan seribu satu argumentasi.

Jika persoalan kedua karena ketidaktahuan, maka perlu pendampingan kepada mereka. Pendampingan itu diharapkan dapat memberi jaminan agar perangkat pemimpin di bawah  segera mendapat bekal pemahaman. Tentunya, pola pendekatan yang dilakukan secara sederhana. Menghindari konsep-konsep yang memusingkan.  Orang-orang kita di bawah sana membutuhkan hal-hal yang praktis dimengerti, dicerma dan dijalankan karena sumber daya manusianya terbatas.

Pola pematronan kepada pimpinan juga kerapkali menjadi kendala. Aparat di bawah tak tega membuat laporan yang memberi kesan seolah pimpinannya tak berhasil dalam tugasnya. Ada kesan tak tega menyakiti hati pimpinannya, apalagi bila sang pemimpin itu punya keterkaitan klen atau suku dengannya.

Jika demikian, maka peran wakil rakyat dan pers yang masih  kita harapkan. Ketika birokrat kita pada semua level tak bisa menuntaskan persoalan, maka peran pers dan  DPRD  sungguh menjadi harapan. Benar kata orang, melalui Dewan  persoalan bisa tuntas. Melalui  pers persoalan ini diketahui dan tentu akan tuntas.

Tinggal saja bagaimana pemerintah menyikapinya. Jika pemerintah menutup mata,  maka kelak akan menjadi bumerang.  Sebaliknya, ketika pemerintah menaruh perhatian secara serius, ikhlas dan mengucurkan bantuan, maka akan mendapat simpati dari rakyatnya. Pemerintahan yang sukses dapat kita ukur melalui kerelaan hati untuk  datang, mendengar, memecahkan dan mengayomi masyarakat. *

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 67 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

pemimpin yang bijaksana adalah .datang,duduk,mendengarkan serta memberikan solusi dan bekerjasama untuk memajukan masyarakat.selamat dan sukses.

Komentar Oleh: da Ine Meluk | Senin, 13 September 2010 | 09:18 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 8 Februari 2012 | 09:26 WITA
Sabtu, 4 Februari 2012 | 09:13 WITA
Selasa, 31 Januari 2012 | 09:38 WITA
Senin, 26 Desember 2011 | 19:30 WITA
Senin, 12 Desember 2011 | 08:56 WITA