KETIKA silang pendapat soal tambang di NTT mulai bergulir di media masSa, saya menduga diskusi bakal memunculkan ruang pencermatan baru, yaitu hasrat para pejuang tambang. Hasrat antara mereka yang mengklaim diri aktivis lingkungan sekaligus pembela kepentingan rakyat yang terpolarisasi dalam kelompok 'tolak-tambang' dengan kelompok 'pro-tambang'.
Silang pendapat dan saling kritik dibutuhkan untuk membangun kehidupan yang demokratis. Ia menjadi sarana mengontrol bekerjanya fungsi-fungsi yang membangun keteraturan dan kesejahteraan bersama. Bahkan di dunia ini ada orang yang kerjanya jadi tukang kritik (Kleden: Kompas, 17/1/2007). Itu menjadi profesi yang dibayar. Publik pun menanti pikiran dari siapa pun atas masalah tambang di NTT. Namun, itu tidak selalu harus datang dari mereka yang tolak-tambang, tetapi juga yang pro-tambang, agar dibangun jalan keluar bak 'pelangi'.
Nuansa penghakiman
Dalam catatan saya, ada dua perdebatan yang terkesan berhadap-hadapan, di rubrik Pos Kupang (PK). Pertama, pada pertengahan tahun 2007 antara Fidel Hardjo dan Yustinus Kapitan. Saat itu, perdebatan soal tambang bagai ajang unjuk kadar filsafat antara mereka yang pernah belajar filsafat (PK, 9/7/2007). Perdebatan itu terpolarisasi dalam kubu pro-tambang dan tolak-tambang. Yang pro-tambang tidak berarti terima 'bulat-bulat', namun yang tolak-tambang secara tegas 'menolak'.
Kedua, yang masih hangat adalah tanggapan Steph Tupeng Witin (PK, 23/8/2010) terhadap opini Ignas K Lidjang (PK, 12/8/2010). Beberapa tanggapan lain terlihat proporsional. Pro dan kontra opini adalah bagian dari usaha membangun wacana dan jalan keluar. Namun, saat pihak bersilang pendapat meluapkan kritik yang menohok pribadi/institusi tertentu tanpa kedalaman data pendukung, maka di situ patut dipertanyakan tujuan dan manfaatnya.
Membaca tulisan Steph sebelumnya, kita masuk dalam alur pikir penuh inspirasi. Tapi tulisan terakhir terkesan menghakimi pribadi dan institusi tertentu dengan dalih mereka hidup dari uang rakyat. Steph terkesan tidak siap menerima perbedaan pendapat. Tulisan Steph tinggi bobotnya, namun cara itu mengkooptasi isi dan menyebarkan aroma penghakiman. Mungkinkah menghakimi sebuah institusi penelitian yang melahirkan teknologi pertanian dengan serta-merta jadi gudang mangan, peneliti/pegawainya jadi satpam, hanya karena 'sebuah' opini dari 'seorang' Ignas. Jika usul itu keluar dari evaluasi mendalam, ya!
Kemampuan menghakimi seperti itu hanya mungkin lahir dari arogansi dan spirit penghakiman, bukan atas dorongan cara kerja ilmiah/intelektual. Kekecewaan Steph yang terekspresi dalam nuansa penghakiman itu menunjukkan pilihan senjata terakhir dari orang yang tak sabar menempuh jalur komunikasi/advokasi untuk perubahan. Terkesan Steph tidak siap berbeda pendapat dan memosisikan buah pikirnya adalah final. Hasrat menghakimi itu memperlihatkan 'empati' yang masih harus kita bangun.
Steph tentu senang dengan opini terakhirnya karena tulisan itu selain untuk tujuan mendorong perubahan cara pandang, juga untuk menawar hati-dirinya yang kecewa. Menohok pribadi adalah salah satu taktik mempengaruhi orang lain. Namun, cara menyerupai perang urat saraf tidak pantas untuk sebuah diskusi pemecahan masalah. Tidak mesti orang yang kerap menulis di media yang memiliki empati atas NTT. Banyak orang bekerja banting-tulang, keluar masuk desa, bantu masyarakat, tanpa tahu apakah yang mereka lakukan itu dinamai 'empati'. Mereka lakukan itu bukan karena 'bayaran'.
Saya terharu atas seruan Steph di akhir tulisannya, 'Mari kita berpikir bersama untuk membangun NTT tercinta penuh empati.' Ironisnya, seruan itu 'jauh panggang dari api.' Bisa jadi, seruan itu sekadar hasil kerja motorik jari tangan Steph yang terlatih, sementara hatinya penuh spirit penghakiman. Bobot substansi tulisan Steph tidak diragukan, tapi cara saji mengkooptasi bobot dan menggoga perhatian tertuju pada kelakuan penulis. Apalagi, itu datang dari seorang pastor yang akrab dengan cara persuasif. Steph tentu punya alasan kuat, tapi pentas yang terbaca tak elok.
Bangun nuansa persuasif
Mengapa tambang di NTT dimaknai beragam? Bumi NTT bukan ruang kosong. Ini tempat berbagai pihak dengan kepentingan berbeda. Kita tak bisa membuat pagar berduri agar kepentingan luar tidak masuk di NTT. Para aktivis pun tentu diliputi ragam kepentingan. Kepentingan dari masyarakat, pemerintah, pengusaha, aktivis, tokoh agama, dan akademisi, bisa bertarung mencari jalan keluar. Itulah cara membangun peradaban masa kini, bukan dengan prinsip 'pokoknya'. Saya pun kritis terhadap tata-kelola alam dan masyarakat NTT, sejauh kita belum benar-benar belajar dari akibat 'salah-urus' masa lalu (lihat, misalnya, opini saya di PK: 8/9/2009; 16,17,18/6/2010). Namun, saya hormat terhadap pikiran alternatif.
Semua pihak yang berkepentingan atas tambang berpijak di atas perspektif, cita-cita, strategi, dan taktik berbeda. Yang berpijak di atas kepentingan masyarakat dan lingkungan tidak bisa serta-merta diseret ke orientasi berpikir ekonomi kapitalistik. Pemegang kekuasaan dan pengusaha ambisius tidak bisa serta-merta diseret ke orientasi berpikir yang mengutamakan masyarakat dan lingkungan. Ignas dan kelompok yang pro-tambang tidak bisa dengan serta-merta diseret ke cara berpikir dan bertindak Steph. Jika Steph melihat pilihannya paling tepat, maka harus memiliki banyak akal untuk mempengaruhi pihak lain, bukan enteng menuding pihak lain bodoh dan 'menghadirkan' setan.
Mendorong perubahan tidak harus menjadikan pihak berbeda pandangan jadi lawan. Perbedaan kepentingan tentu karena beda posisi, alasan otoritas, histori, kedekatan, dan sosial/ekonomi. Masing-masing pihak memiliki pengalaman, pengetahuan, dan basis refleksi berbeda. Yang kita saksikan hanyalah tindakan yang terekspresi. Tindakan itu hasil dari pergulatan perspektif, pengalaman, dan cita-cita yang digeluti. Di sini, kita tidak bisa memaksa mereka berubah, karena keputusan untuk berubah ada pada mereka, sekalipun mereka hidup dari uang rakyat.
Dengan asumsi semua pihak memiliki basis argumentasi tertentu dan berbeda, maka penting kata kunci 'cara berkomunikasi dan mengadvokasi'. Melalui ini kita dorong proses perubahan dan transformasi sosial agar lahir hubungan-hubungan kekuasaan yang demokratis, yang mengutamakan masyarakat sebagai orang-orang yang dipinggirkan (Miller & Covey, 2005). Cara berkomunikasi (advokasi) jangan sampai kontraproduktif, mencederai tujuan 'besar', dan kelak memosisikan orang-orang yang diperjuangkan terjebak pada situasi 'kritis' seperti konflik dan kekerasan.
Berkomunikasi (advokasi) harus terus dilakukan dalam berbagai cara tanpa prasangka agar tercipta lingkungan nyaman dan produktif. Hendaknya tidak dibuat garis batas bahwa yang harus belajar dan berubah adalah kelompok pro-tambang. Mereka yang kritis terhadap tambang pun perlu belajar. Ignas dan orang lain yang berbeda pikir dengan Steph pun harus mendapat lingkungan yang nyaman. Biarkan 1000 bunga 'ide' tumbuh-mekar di kebun Flobamora, pemimpin kebunlah yang bertanggung jawab menatanya jadi apik-menawan. Jika pemimpin tertidur, bangunkan! Tapi jangan mengejutkan, nanti ia menghardik! Jika pemimpin tak mampu, dampingi dan jadi mitranya! Tapi jangan menggurui, nanti ia tersinggung!
Bung Steph, mungkinkah meninggalkan etika antroposentris di tengah kemerosotan bumi akibat ulah manusia? Etika antroposentris perlu ada dan ditransformasi untuk memastikan posisi manusia sebagai subyek/obyek di tengah kemerosotan bumi. Agar kemerosotan bumi tidak ditanggapi sebagai fenomena tanpa subyek dan bersifat anonim. Saatnya etika antroposentris dan biosentris bersinergi untuk keselamatan bersama dan membuyarkan tesis tragedy of the commons. Bukan penguatan posisi demi kepuasan para pendukung yang ada di balik paham-paham tersebut. Paham eco-friendly adalah wajah sinergitas itu yang kini membuka peluang membangun mutualitas hubungan antara manusia dan alam.
Kita senang saat para pastor (seperti Steph Tupeng Witin) memperjuangkan kepentingan rakyat dan alam. Namun, etika global yang diklaim Steph sebagai mesin penggerak hendaknya tidak berhenti pada mengibarkan bendera kepedulian, tetapi juga etika global soal 'cara' mewujudkan kepedulian. Banyak pihak mulai meninggalkan cara konfrontatif, berseberangan, bermusuhan, resistensi, berkonflik, dan kekerasan, menuju pendekatan proses belajar bersama, pendekatan multistakeholders, dan mendorong kolaborasi mewujudkan tujuan bersama melalui strategi dan mekanisme kontrol bersama. Dalam kejernihan memahami, inti ide Ignas adalah ajakan membangun mekanisme bersama yang beradab.
Saat eskalasi konflik dan kekerasan perebutan sumberdaya kian menguat, kita dambakan pendekatan persuasif. Pendekatan yang membuat semua pihak merasa bermartabat dan dihargai agar kita bangun tata-kelola alam dan manusia berkelanjutan. Di sini, peran strategis ada pada tokoh dan pemimpin (politik, agama, adat, ilmuwan, dan masyarakat). Kecemasan atas degradasi alam tidak membenarkan pendekatan yang memperuncing hubungan sosial dan membawa kita tiba pada zona 'keras-hati' yang menutup jalan perubahan. Garis batas antara negara/pemerintah, rakyat, gereja, dan kekuatan lain, jangan dipertajam agar kita tidak terjerat dalam kebanggaan 'menepuk dada sendiri' dan menghakimi pihak lain. *
Antropolog, Pendiri Lembaga Pengkajian Antropologi Kekuasaan Indonesia
Salam. slamat berlebaran bagi yang merayakannya. banyak komentar yang violent di sini. kasihan. saya kira baik pak prudens maupun pak steph mesti belajar menulis dengn santun. tak menyerang pribadi orang lain. ini soal kepribadian, bukan lagi soal horizon pengetahuan, kenukikan analisis, atau jabatan. maaf ya, kesannya beri nasehat. banyak kok referensi tentang verbal violence. bukan hanya pak prudens dan pak steph tapi kita semua yang mesti membacanya. semoga opini pos kupang makin bermutu, baik dalam substansi maupun dalam etika menulis.
Si baga ini belajar logika tidak ya? Orang tulisan lain dia komentar lain.
Hi Baga, calon makan tai tambang....Ide Prudens ini pencerahan? Cerahkan mata kamu yang buta ya? Asal Ngomong, kosong melompong. Sadarlan, dulu itu makan tai tambang ya? Maka sekarang kerasukan. Baca baik-baik itu opini Prudens ini: tidak jelas sikapnya. BANCi tulen! Mau jadi banci seperti Prudens? Jangan-jangan calon doktor tambang? Tambang aja di bawah tempat tidurmu? Biar sekalian gali lubangkubur.
Hai si kloangpoot, nalar pak prudens itu justru sangat lurus. Kalian yang sudah terlanjut jatuh cinta pada yang suka arogan dan sok suci, jadinya biar dikasih tai kambing pun terasa coklat. Giliran dikasih pencerahan malah diomeli.... anda mesti baca tulisan pak lidjang, baca tulisan pak stef, lalu cerna tulisan pak prudens ..dari situ anda dapat pencerahan ..
Perdebatan mungkin tetap akan abadi. Jalan keluar (solusi alternatif) telah banyak ditawarkan. Pada prinsipnya menjunjung tinggi etika kehidupan (manusia dan aneka ragam hayati lainnya)itulah yang menjadi arah perjuangan melawan pertambangan di NTT. Mengapa, kurang ada usaha yang maksimal untuk meningkatkan PAD dengan kekayaan alam lain, selain tambang? Intensifikasi dan ekstensifikasi serta perusahan jasa mungkin bisa menjadi solusinya. Mampukah kita (NTT) mewujudkannya?