SOE, POS KUPANG.Com ---Ini ironis dengan tekad pemerintah kembali menjadikan NTT sebagai gudang ternak. Di Kecamatan Toianas, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), ratusan ternak sapi milik warga setempat mati dalam rentang waktu satu bulan.
Fakta memilukan ini dikemukakan beberapa anggota Komisi C dan D DPRD TTS kepada Pos Kupang, di SoE, Rabu (1/9/2010). Anggota Dewan ini melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Toianas mengisi masa reses, Senin (30/8/2010).
Anggota Komisi C, Marhten Tualaka, SH, mengatakan, saat berada di Kecamatan Toianas, mereka memperoleh data 72 ekor sapi milik tiga orang warga setempat mati. Jumlah tersebut belum termasuk warga lain yang 2 sampai 3 ekor sapinya juga mati. Jika diakumulasi, kata Tualaka, diperkirakan sekitar 200- an ekor ternak andalan TTS itu mati.
Tualaka mengatakan, kunjungan kerja gabungan mengisi reses di Kecamatan Toianas itu melibatkan beberapa anggota Dewan, yakni Chandra Sianto, SE, Gordon Banoet, S.Sos, Berthloens Liufeto, Simon B Liunokas, Benyamin David Magang, Zakarias Tafui dan Rosalina Makleat. Di kecamatan ini mereka mendapat banyak informasi yang disampaikan masyarakat, termasuk puluhan ternak yang mati.
Sebagai wakil rakyat, Tualaka meminta agar pemerintah segera turun mengidentifikasi lapangan agar kejadian ini tidak berkelanjutan. "Ini merupakan kejadian luar biasa, sehingga perlu penanganan serius dari pemerintah dan pihak terkait agar tidak menyebar ke daerah lain di TTS," kata Tualaka.
Tualaka mengatakan, saat melakukan kunjungan kerja di tiga desa, yakni Desa Toianas, Tuataum dan Desa Lobus, diperoleh data riil sebanyak 72 ekor sapi milik warga mati kedinginan. Sebanyak 30 ekor itu milik M Talelu, warga Kampung Amfore, Desa Toianas, 26 ekor milik salah seorang guru SD Inpres Tuataum, Desa Tuataum dan 16 ekor milik Yulius Tualaka warga desa Lobus.
"Jumlah ini belum termasuk milik warga lain. Jadi diprediksi sapi yang mati kedinginan dan hilang terbawa arus banjir mencapai 200an ekor," tegas Tualaka.
Menurut Tualaka, secara kasat mata masyarakat melihat penyebab kematian itu akibat udara dingin. Namun secara teknis Dinas Peternakan harus bisa mendeteksi secara baik agar bisa mengetahui penyebab kematian puluhan ternak sapi milik warga setempat. "Bisa jadi ada virus sebagai penyebab kematian ternak yang tidak diketahui warga," katanya.
Mengutip warga setempat, Tualaka mempertanyakan bentuk pendataan dan penyuluhan yang dilakukan pemerintah. Soalnya, kata Tualaka, dua kali dirinya turun ke lokasi kejadian warga menginformasikan bahwa sampai saat ini tidak ada petugas resort peternakan dari kecamatan maupun dari Dinas Peternakan turun ke lapangan untuk melakukan penanganan.
"Kalau Dinas Peternakan mengaku sudah lakukan pendataan melalui petugas resort peternakan kecamatan, mana data riilnya? Dan langkah nyata penanggulangan di lapangan. Jangan tunggu ada korban jiwa baru kaget," tegas Tualaka. (mas)