"DEMIKIANLAH semuanya telah terjadi dan memang seharusnya terjadi. Ada simalakama dalam rajutan kehidupan. Hidup terus berlanjut, kita pun merasakan bahwa dunia mati dan dunia yang tak akan pernah mati, dunia yang setia dan tidak setia. Kita semua pernah merasakan cinta yang membawa kita ke tempat tertinggi. Kita pun merasa terjatuh karena dominasi sebuah pilihan. Cinta kita tidak mati tetapi karena ia merupakan sebuah pilihan hidup yang membuat kita tak dapat berjalan seperti yang dulu lagi."
Keindahan dan keagungan alam kini harus menjadi saksi bisu sebuah kisah cinta yang tak akan ada akhirnya. Senja memerah di horizon barat, berpalun warna keemasan yang masih tersisa. Angin dingin sore berhembus perlahan, namun tajam seiring hembusan ombak di setiap sudut dermaga tua, dermaga Sadang Bui tercinta. Gaung ombak sore memberikan warna tersendiri dan semakin memperjelas kisah di senja itu.
Beberapa jam kemudian, sang malam pun melebarkan sayap-sayap kesejukan di setiap tembok dermaga yang telah termakan usia. Mungkin tempat ini menjadi tempat terakhir di mana harus berpisah dengan seseorang yang telah menjadi sandaran hatinya.
Sadang Bui mulai ramai lantaran hiruk-pikuk suara para penumpang yang siap berlayar ke negeri seberang. Ada banyak nuansa yang menghiasi alam pelabuhan sore ini. Ada gelak tawa, ada pula rintihan duka dan isak tangis. Raut dan mimik wajah yang dihiasi aneka ekspresi terlihat di mana-mana, membuat siapa saja yang melihat pasti dapat menebak bahwa warna perpisahan sedang terjadi.
***
Keramaian sore itu kian bertambah ketika sebuah mikrolet biru yang kutumpangi dan beberapa penumpang lainnya berhenti di depan pintu dermaga. Di antara para penumpang itu, terlihat juga dua orang sahabatku.
Kami memiliki tujuan yang sama yakni melanjutkan pencarian hidup di tanah seberang. Setelah turun, keduanya pamit dariku karena sanak keluarga mereka tampak menunggu di sudut dermaga. Kepergian mereka membuat suasana di sekelilingku sunyi dan sepi. Aku sendirian, tak ada yang menemani.
Sanak keluargaku tak ada yang mendampingi dan mengantarku. Yah, mereka tak merestui perjalananku. Namun, kenyataan ini tidak menyurutkan semangatku untuk terus berjuang keras dan mencapai hidup yang sudah kupilih.
Namun di sela-sela kesendirianku, serta di antara para penumpang yang akan siap berlayar, terdengar teriakan halus dari arah kapal. Suara itu! Suara yang sangat khas kudengar dan senantiasa mengisi ruang hatiku. Mulanya terbersit perlahan-lahan tetapi rasanya desingan suara itu semakin lama tampak jelas. Aku pun menoleh dan melemparkan pandangan pada sumber dan asal suara itu. Nadia!!
Ya, benar itu Nadia.
Raut wajahku pun berubah seketika itu juga ketika melihat Nadia pelan mendekatiku.
"Mengapa kamu harus hadir di saat aku harus meninggalkanmu?" bisikku pelan, tak menyangka. Siapa yang memberitahukan kepergianku pada Nadia?
"Kak, Kak Dy, ini aku, Nadia," panggil Nadia tak sabar. Rasanya aku belum sadar dan belum bisa berdiri di hadapannya.
Namun kenyataan ini tak dapat kutolak lagi. Perasaan hatiku begitu tak karuan. Tercampur berbagai perasaan sedih yang mendalam sehingga membuatku tidak sanggup dan tidak dapat bertahan di hadapan seseorang yang akan kutinggalpergikan.
Perasaan sedihku bertambah hebat ketika aku memberanikan diri untuk menatap wajah lugunya. Saat-saat seperti ini, kapal menghadirkan senyum ejekan dan lara.
"Mengapa Kak Dy bersedih?" sela Nadia, memecah kesedihanku. Ia memang pantas menuntut jawaban atas diamku. Tanpa sadar, air mata kepedihanku pun segera berlinang, jatuh, dan membasahi sebagian bajuku.
Aku tahu ia dilanda kebingungan atas sikapku. Dengan suara yang masih tersisa, kumencoba untuk berani mengungkapkan semua yang selama ini pantang kuungkapkan padanya.
"Maaf, maaf.. Nadia. Mungkin keputusanku hari ini adalah sebuah kepastian yang tidak dapat kamu tolak. Maaf, karena mungkin selama ini aku merahasiakan sesuatu kepadamu. Ini tentang jalan panggilan hidupku. Maaf, karena ketika cinta kita menuntut sebuah keterbukaan, aku telah menutupnya rapat-rapat dan harus memilih yang lain. Dan saat ini mungkin menjadi saat terakhir bagi kita dan bagi cinta kita. Dan kiranya dermaga tua ini menjadi sebuah kenangan yang takkan terlupakan. Ia menjadi saksi bisu cinta kita yang tak abadi."
Nadia terkejut tak percaya. Aku tahu itu. Aku siap mempertanggungjawabkannya. Pilu dan kesedihan meliputi jiwanya yang terlukis lewat deraian air mata dari kedua bola matanya yang begitu indah. Rupanya ia belum siap untuk menerima realita kisah kasih ini. Namun, aku memberanikan diri untuk meraih dan memegang tangan halus dan lembutnya.
Nadia, gadis jebolan sebuah SMA favorit di kota Ruteng, kini harus menerima segalanya yang akan terjadi. Kisah di mana akhir dari pertekukkan lututku dalam menjawabi panggilan cinta yang lain. Aku turut bersalah atas genangan air mata perpisahannya. Oh Nadiaku!
Dua jam lagi kapal akan meninggalkan pelabuhan tua ini. Kesedihan tetap menyelimuti kami berdua. Nadia seakan-akan tak mau melepaskan kepergianku. Puncak kesedihan begitu kurasakan ketika Nadia berusaha memeluk dan merangkulku yang hanya berdiri tertegun dan kaku. Rupanya ia meminggirkan kesungkanannya. Rangkulan ini berlangsung lama dan diakhiri dengan saling pandang dalam kesedihan.
Tampaknya, sang pujaanku menahan gejolak kalbunya, namun kekuatan cinta yang bersemi selama ini begitu kuat. Kesedihannya tidak tertahankan lantaran air mata kian deras guyurannya dan membasahi tubuhku pula.
"Sudahlah Nadia. Hapuslah air mata dan kepedihanmu," ungkapku sambil menepuk pundaknya untuk memberikan aura ketenangan baginya.
"Kak Dy, ubahlah keputusanmu, lagi pula kepergianmu tidak direstui oleh orangtua, apalagi aku. Kak, aku sungguh mencintaimu. Aku takut kehilanganmu." Jawab Nadia dalam nada kesedihannya. Sungguh sebuah kesedihan yang masih tersimpan. Mendengar ungkapan Nadia yang penuh harap, hatiku serasa mati, niatku seakan rapuh dan luntur secepat kilat.
Aku terkerangkeng dalam dilema. Aku pun harus bergulat; antara perjalanan cinta yang sudah sekian lama tercipta antara kami dan jalan yang harus kupilih. Aku dituntut untuk bertindak bijaksana. Aku tahu konsekuensinya. Aku harus memilih antara menjauh dari hatinya atau bersamanya untuk seumur hidupku. Dan, sebuah keberanian datang dan menguatkanku untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Na.. Nadia.. bukannya aku menolak tetapi, keputusan dan tekadku sudah bulat. Aku telah memutuskan bahwa aku harus menjalin cinta dengan 'yang lain'. Jujur aku telah memilih sebuah kehidupan baru yang menjanjikan sebuah kebahagiaan. Akupun tidak mengingkari akan kebahagiaan kita selama ini. Ingatlah Nadia bahwa aku pun sungguh mencintaimu, namun pilihanku ini telah memeteraikan bahwa cinta kita tak bersatu selamanya. Asaku, semoga suatu hari nanti kita bersua dalam cinta yang lain."
"Apa??? Kak, tetapi andaikan ketika kita bertemu lagi semuanya telah berubah, segalanya bukan seperti yang dulu di mana aku dan kak harapkan. Kak, kak begitu ego dalam menjawabi sebuah pilihan. Mungkin titah hati kak lebih menjawab ketimbang permintaan hatiku," ujar Nadia di balik tangisnya yang tak tertahankan.
"Nadia.. ini permintaanku yang terakhir kalinya. Jika engkau begitu mencintaiku lepaskan dengan rela tanganku dan izinkanlah aku bersanding dengan pilihan hatiku ini."
Nadia hanya terdiam. Bisu tanpa kata. Genggamannya kian erat.Aku sangat cemas!
Kami terhimpit dalam sunyi.
"Nadia...," ucapku sendu mengiba. Nadia mendesah pelan. Aku tahu tak mudah baginya untuk menerima kenyataan ini secepatnya.
"Benarkah kak? Apakah ini berarti bahtera cinta kita akan berakhir dalam laraku?" tuturnya berusaha meyakinkanku. Aku hanya menggangguk pelan. Tak ada untaian kata yang lahir dari bibirku lantaran semuanya telah terkubur dalan kepedihan ini. Kuharap Nadia mengerti keputusan hatiku.
Ruang hati yang begitu sesak dan ruang waktu yang kian sempit menuntut Nadia untuk mengamini dengan ikhlas atas pilihan yang sungguh menggores dan menyakitinya. Sesaat kemudian Nadia melepaskan tanganku.
Ada rasa haru bercampur pilu yang mendalam ketika perlahan tangan Nadia yang halus dan lembut terlepas dari genggamanku. Sebuah simbol perpisahan tanpa kata. Selang beberapa menit kemudian terompet kapal pun bergema di sudut-sudut dermaga tua itu.
Pratanda bahwa kapal akan meninggalkan pelabuhan. Kedua orang teman seperjalanku melambaikan tangannya sebagai isyarat bahwa mereka sudah siap berlayar. Mereka menunggu kedatanganku.
"Selamat jalan kak, semoga kak bahagia dengan JALAN ini, doaku menyertai setiap jejak dan langkah hidupmu," ujarnya dengan nada yang lemah dan suara yang tersisa. Memang inilah kenyataan jiwanya, di mana ia harus merelakan orang yang sudah menjadi bagian dari keseluruhan hidup dan matinya.
Tanpa menoleh ke Nadia, aku berbalik dengan langkah yang berat, menuju kapal yang siap membawaku 'tuk memulai sebuah hidup yang sudah menjadi pilihan hatiku. Aku harus bisa, seru batinku! Aku melihat kedua temanku sedang menanti kedatanganku. Aku mulai merasa aman, jiwaku bebas dari sebuah pergulatan yang begitu hebat, pergulatan cinta antara aku dan Nadia.
***
Kapal perlahan meninggalkan pelabuhan tercinta ini. Aku terus berdiri, menatap dari kejauhan Nadia yang berdiri seorang diri dalam keramaian di pinggir dermaga itu. Lambaian tanganku yang diliputi sejuta kenangan yang telah lewat menyadarkan aku bahwa kini kutelah meninggalkan kota kelahiranku.
Sebuah kota yang bagiku dihiasi sejuta kenangan, termasuk kisah di dermaga tua itu. Sebuah kota yang di dalamnya terpatri cerita cinta antara aku dan Nadia. Namun label cinta terlarang justru memeteraikan dan memisahkan cinta yang kami miliki. Ini memang konsekuensi dari jalan-NYA.
Kotaku kian menjauh, aku berusaha menatap Nadia sekaligus melupakan wajah gadis yang selalu melekat dalam pikiranku. Kapal itu akhirnya menghilang di balik dua pulau di depannya, menghilang bersama keindahan dan kesempurnaan sang malam.
Selamat tinggal Nadia! *
Semoga setiap orang yang membaca cerpen ini semakin menghargai nilai sebuah cinta sebagai sesuatu yang luhur dan bernilai, bukanlah sesuatu yang didasarkan hanya kepuasan nafsu sesaat. Trima kasih teman atas cerpennya. Saya telah membacanya.