»Home » PK Minggu » Tamu Kita »
Alfred Dama
Drs. Falentinus Bhalu Ria : Siswa SLB Harus Bisa Mandiri
POS KUPANG/ALFRED DAMA
Drs. Falentinus Bhalu
Jumat, 27 Agustus 2010 | 11:08 WITA

PEMBANGUNAN pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, hampir selalu luput dari perhatian. Padahal anak-anak ini memerlukan perhatian khusus. Kebutuhan pendidikan bagi mereka pun harusnya mendapat perhatian khusus.

Di Propinsi NTT, perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus atau anak-anak cacat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, namun keinginan pemuda untuk menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini masih sangat minim.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Propinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Falens Bhalu Ria mengatakan, saat ini jumlah guru untuk sejumlah sekolah luar biasa (SLB) di NTT mencapai  446 orang, namun yang memiliki latar belakang pendidikan luar biasa jenjang S1 hanya 13 orang dan D3 sekitar 59 orang.

Hal inilah yang menjadi salah satu kendala dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan di SLB.


Meski demikian, para guru SLB ini memiliki komitmen kuat untuk mengajar, mendidik dan melatih para siswa SLB menjadi anak-anak  cerdas, unggul dan mandiri.
Berikut petikan wawancara Pos Kupang dengan Falens Bhalu belum lama ini.

Anda memimpin unit yang mengurusi anak berkebutuhan khusus yakni yang berkaitan dengan pendidikan di SLB. Bagaimana perkembangannya di NTT?
Kebijakan pemerintah dalam upaya pengembangan pendidikan luar biasa hingga kini berjalan baik. Jumlah anak cacat yang disebut dengan anak berkebutuhan khusus per 31 Desember 2009 sekitar 10 ribu anak.

Dari 10 ribu ini kita di pemerintah telah mengupayakan mengsosialisasikan, membuka sekolah-sekolah khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus di berbagai wilayah di NTT dan  hingga Agustus sudah terdapat 3.775 anak berkebutuhan khusus yang tertampung di SLB-SLB.
Hingga kini SLB baru ada di 17 kabupaten/kota di NTT dengan jumlah 21 SLB. Ttarget kita semua kabupaten/kota di NTT harus ada SLB.

Kabupaten yang belum memiliki SLB adalah Manggarai Barat, Nagekeo, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua. Sedangkan tahun 2009, pemerintah sudah membangun satu USB di Kabupaten Sumba Tengah dan Tahun 2010 ini akan direncanakan satu USB SLB di Borong- Kabupaten Manggarai Timur.

Bagaimana perhatian sekolah non SLB?
Pemerintah melalui peraturan No 70 Tahun 2009  mengintruksikan semua sekolah reguler itu menampung anak-anak berkebutuhan khusus, yaitu di sekolah- sekolah inklusi. Sekolah inklusi ini dimana anak-anak cacat atau berkebutuhan khusus ini bersama-sama dengan anak-anak normal mengikuti pelajaran.

Sampai saat ini sudah 28 sekolah di NTT  yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus mulai dari SD hingga SMA. Ke depan, kita berupaya agar semua sekolah mulai  SD, SMP dan SMA menerima anak-anak yang berkebutuhan khusus ini.

Karena anak-anak berkebutuhan khusus ini bukan hanya ada di ibukota kabupaten atau ibukota propinsi, tetapi mereka juga berada di pedalaman di desa-desa, kampung-kampung yang tidak ada SLB.

Apa perbedaan SLB dan sekolah inklusi ini?
Sebenarnya tidak ada beda. Hanya SLB itu khusus untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk bebagai jenis ketunaan, baik tuna netra, tuna grahita, tuna rungu, tuna daksa, tuna laras, anak autis. Sedangkan di sekolah-sekolah inklusi itu juga anak-anak berkebutuhan khusus ini tapi mereka belajar bersama anak-anak normal. Di kelas inklusi, anak-anak tuna netra tidak kalah dengan anak-anak normal.

Bedanya anak-anak mengalami kesulitasn dalam penulisan sedangkan daya tangkap sama. Terbukti anak- anak tunanetra yang ada di sekolah reguler sudah ada yang bisa sekolah hingga perguruan tinggi, lalu anak- anak tuna daksa itu hanya alami gangguan fisik, tapi kemampuan belajar, kemampuan akademik sama dengan anak-anak normal.

Guru SLB biasanya guru yang memiliki kompetensi khusus. Apakah guru di sekolah inklusi ini juga guru- guru yang memiliki kompetensi demikian?
Masalah guru itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Seharusnya anak-anak SLB diajar oleh guru-guru yang berlatar belakang pendidikan luar biasa dan itu harus dan wajib hukumnya. Tapi sekarang yang kita hadapi ini seperti kata pepatah, tiada rotan akar pun jadi.

Kalau kita tunggu guru-guru yang berlatar belakang pendidikan luar biasa (PLB), bearti sampai saat ini anak- anak berkebutuhan khusus tidak mendapat pendidikan karena sampai dengan saat ini, 21 SLB dengan jumlah guru 446 guru tapi yang berlatar belakang pendidikan luar biasa (PLB) itu S1 hanya 13 orang, D3 atau 59 orang. Selebihnya guru-guru umum. Ini merupakan kendala kita, bagaimana kita mau meningkatkan pendidikan di SLB bila gurunya hanya guru umum yang dimana hanya diikuti diklat, pelatihan-pelatihan. Guru untuk SLB ini mempelajari khusus tentang metode belajar untuk anak- anak berkebutuhan khusus.

Saya juga memberikan apresiasi pada guru-guru ini, meski bukan berlatar belakang PLB, tapi mereka punya semangat dan dedikasi untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus ini. Saya tidak bisa meremehkan guru-guru yang ada yang berjumlah 446 orang ini, tapi untuk itu dari pemerintah sudah memberikan pelatihan pada guru-guru di SLB maupun inklusi.

Kalau guru umum, bagaimana mereka bisa mengajar anak-anak berkebutuhan khusus ini?
Sampai saat ini antara guru-guru di SLB dan guru-guru di inklusi itu kita masih pakai guru umum, tapi kita beri bekal melalui pelatihan-pelatihan. Pemerintah memberikan peluang sebesar-besarnya pada tahun ini untuk melatih guru-guru tersebut. Karena kita untuk mendapat guru yang latar belakang PLB masih mengalami kesulitan. Tidak banyak orang yang berminat masuk ke PLB.

Kenapa demikian?
Orang berpikir, untuk apa masuk ke program studi PLB untuk mengajar anak-anak yang penuh kekurangan? Lebih baik ambil prodi atau perguruan tinggi yang ambil FKIP misalnya untuk mengajar anak-anak normal. Jadi sebelum mengajar, mereka sudah merasa susah.

Apalagi mereka mau kuliah jurusan itu. Oleh karena itu saya sudah kesekian kalinya mengatakan sebaiknya memotivasi para siswa yang sudah tamat SMA, kita mau memberikan beasiswa untuk mengambil prodi PLB.

Mudah-mudahan ke depan, anak-anak yang berminat mengajar di SLB kita berikan beasiswa untuk mengikuti pendidikan S1 PLB. Dan, ini masih dalam wacana. Kalau mutu pendidikan di SLB harus meningkat berarti adalah guru ini yang harus diperbaiki.

Bagaimana Anda melihat perhatian orangtua pada anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus?
Saya lihat masyarakat pada umumnya, khususnya para orangtua yang anaknya mengalami kekurangan, memang beberapa tahun sebelumnya mereka enggan menyerahkan anak-anak mereka ke SLB atau inklusi, tetapi setelah mereka melihat akhir-kahir ini anak-anak yang mengalami kekurangan itu diperhatikan penuh oleh pemerintah, akhirnya mereka mmasukkan juga. Sebab ternyata mereka berprestasi luar biasa. Jadi awalnya orangtua berpikir bahwa anak mereka tidak  mungkin berkembang. Tapi sekarang semua orangtua sudah mencari SLB.

Pola pendidikan di SLB lebih menekankan life skill.

Memang, KBM di SLB maupun di sekolah inklusi itu 60 persen life skill dan 40 persen akademik.  Pada anak- anak SLB ini kita lebih utamakan keterampilan. Karena pengharapan kita adalah setelah anak ini tamat saat SMA nanti, dia sudah bisa berbuat sesuatu.

Oleh karena itu saya sudah tekankan pada teman-teman saya di sekolah bahwa anak-anak kelas I hingga kelas III SDLB harus sudah memberikan dia pola dasar tentang keterampilan. Lalu hingga kelas VI, mereka sudah bisa melakukan walaupun dalam bentuk kasar. Kalau anak itu belum bisa melakukan sesuatu dalam aspek keterampilan maka kita upayakan mereka ditahan dulu, Karena itu siswa SDLB itu bisa tidak saja enam tahun, mereka bisa sampai sembilan tahun.

Kenapa demikian?
Karena dilihat dalam aspek keterampilan, lain dengan anak-anak yang tuna rungu, atau tuna netra bisa enam tahun. Tapi kalau anak-anak, misalnya tuna grahita, kita bisa kasih mereka kesempatan hingga sembilan tahun. Karena kalau kita lihat saat di kelas enam itu dia sudah bisa berbuat sesuatu maka sudah dianggap layak ikut UASBN dan siap masuk kelas SMPLB. Demikian juga di jenjang SMPLB, arahnya juga sudah pada keterampilan.

Misalnya tata boga, seorang instruktur keterampilan, dia harus bisa menggiring anak  untuk bisa mengelola barang jadi. Misalnya buat kue, anak itu dilatih benar, dibimbing benar sehingga setelah tamat, dia bisa menjadi pekerja, paling tidak bisa bekerja di rumah tangga.

Kalau dia ke busana, maka dia bisa melatih bagaimana cara menjahit. Jadi sampai sekarang anak-anak kita ini sudah sampai pada tingkat pembuatan pola. Jadi SLB mestinya mencapai 39 jenis keterampilan, tapi di NTT baru ada delapan keterampilan di SLB Pembina Kupang. Sementara di SLB-SLB lain , ada yang baru 3 keterampilan, ada yang empat keterampilan.

Artinya setelah tamat SLB langsung bisa kerja?
Dengan adanya kurikulum 60 berbanding 40, seorang guru SLB harus punya target bahwa anak didiknya tamat harus betul-betul punya pengetahuan, bekal keterampilan, sehingga saat tamat tidak lagi menjadi beban orangtua. Paling kurang dia sudah bisa membiayai diri sendiri, misalnya kecantikan ya dia bisa merias orang. Misalnya di sablon ya dia bisa buat sablon. Demikian juga di otomotif.

Sudah ada anak lulusan SLB yang sukses?
Saya kasih contoh anak-anak yang berhasil dari SLB itu adalah terdapat 60 anak yang kini menjadi instruktur, yaitu jadi intruktur keterampilan. Dari anak yang sudah tamat dan menangani satu keterampilan misalnya keterampilan tata boga, atau keterampilan itu diangkat kembali oleh sekolahnya untuk menjadi intruktur.

Anda pernah melaksanakan workshop nasional di Kupang tentang anak cacat.
Kita juga berupaya supaya SLB di NTT berkembang, supaya dengan setara dengan SLB di luar NTT seperti di Jawa atau Sumatera, jadi saya berupaya agar kegiatan- kegiatan nasional dilaksanakan di Kupang. Dalam arti, teman-teman dari luar NTT bisa melihat langsung perkembangan di NTT dan memberikan motivasi atau reward kepada kita.

Dan kemarin di Kupang sudah dilaksanakan yaitu pendidikan kecacatan tingkat nasional untuk Indonesia bagian timur. Dan, banyak masukan bagi kita untuk penyempurnaan pengembangan SLB di NTT.

Anda mendapat pujian dari para pejabat dari Jakarta. Apakah Anda sudah puas?
Apa yang kita kerjakan ini belum ada apa-apanya, bila dibandingkan dengan  SLB-SLB di Jawa atau Sumatera. Memang kita sudah mendapat pujian, tapi itu hanya motovasi saja agar lebih baik lagi ke depan. Kita boleh berbangga, tapi kita juga harus rendah hati bahwa keberhasilan kita itu belum apa-apa. Saya sering katakan pada para siswa SLB yang berhasil dalam aneka lomba bahwa kita boleh berbangga, boleh tersanjung tapi kita harus tetap rendah hati.

Apa Rencana Anda ke Depan?
Saya punya angan-angan, kalau Tuhan memberkati maka saya siap dan mau menjadi orang nomor satu di salah satu kabupaten dan kota.  Karena saya pikir, kita punya potensi, kita punya kemampuan dan cara bagaimana potensi, kemampuan kita dirasakan oleh orang lain. (alfred dama)


Hobi Pelihara Ayam

DI TENGAH-tengah kesibukan sebagai Kepala Bidang PK-PLK Dinas PPO NTT, Falens Bhalu selalu menyempatkan diri untuk menyalurkan hobinya. Tidak seperti kebanyakan orang, Falen kerap menhabiskan waktu luang bersama ayam peliharaannya.

"Saya memang suka pelihara ayam, jadi kalau pagi-pagi atau sore, ya kita kasih makan ayam. Rasanya fresh," jelas Falens.
Suami dari Fransis Muda Ria ini mengatakan, memelihara ayam juga sedikit membantu dalam keseimbangan hidup antara pekerjaan dengan hobi. Dan, saat-saat bersama beberapa ekor ayam membuatnya melupakan beban kerja di kantor.

Selain itu, Falens juga selalu menghabiskan waktu di pagi hari dengan membaca koran. Baginya, membaca koran sama dengan mendapatkan informasi. "Saya selalu baca koran sebelum ke kantor, jadi setelah sampai kantor saya sudah tahu hampir semua informasi di media. Jadi, sampai kantor tidak perlu baca koran lagi dan siap kerja saja," jelasnya.

Baginya, membaca koran merupakan hal wajib setiap hari. Belum membaca koran sama dengan ada hal yang belum dilakukannya. "Kalau belum baca koran, rasanya ada yang masih kurang. Mungkin ini sama juga dengan orang lain yang suka baca koran. Jadi baca koran itu penting, kita bisa tahu perkembangan informasi terkini," jelasnya.  (alf)

Bio file:
Nama : Drs. Falentinus Bhalu Ria
TTL :   Ruteng 14 Februari 1964
Pendidikan  : SDK Naru Bajawa Tamat tahun 1977
                      SMPN 2 Bajawa   Tamat Tahun 1980
                      SMAN 435  Bajawa   Tamat Tahun 1984
                      S1 Jurusan Sejarah-FKIP Universitas Nusa             Cendana Kupang tamat tahun 1989
Istri    : Fransis Muda Ria
Anak-anak    : Maria Susanti Ria (18)
                        Stevanus Hendra Ria (15)

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 158 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Minggu, 15 Januari 2012 | 21:14 WITA
Selasa, 20 Desember 2011 | 19:39 WITA