KUPANG, POS KUPANG.Com -- "Saya terharu setelah dengar bebas. Puji Tuhan, ini mukjizat. Walau ada pihak yang belum bisa menerima, buat kami ini sudah cukup karena bisa bebas setelah kurang lebih delapan bulan hidup di sel."
Demikian pernyataan Theresia Tawa menanggapi vonis bebas yang dijatuhkan hakim Pengadilan Tinggi (PT) NTT kepada dia dan Rogasianus Waja, saat ditemui di Kupang, Rabu (25/8/2010).
Theresia Tawa dan Anus Waja keluar dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Bajawa, Kamis (19/8/2010). Sebelumnya, keduanya divonis penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Bajawa karena terbukti bersalah membunuh Rm. Faustinus Sega, Pr. Keduanya dipenjara mulai tanggal 8 Desember 2009.
Ditemui di tempat yang dirahasiakan, Theresia Tawa dan Anus Waja tampak lebih fresh (segar). Selama wawancara, keduanya selalu mengumbar senyum dan tawa. Mereka ada di Kupang sejak Jumat (20/8/2010), setelah melakukan perjalanan dari Bajawa ke Ende, difasilitasi Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian (PADMA) Indonesia.
Mengenai upaya banding Kejaksaan, Theresia Tawa yang sarjana jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Denpasar, Bali tahun 2005 ini mengatakan, "Saya serahkan kepada kuasa hukum. Saya ini cuma cewek kampung, yang tidak mengerti hukum. Persoalan hukum kayak apa, kami serahkan ke kuasa hukum."
Lebih lanjut, Theresia Tawa menceritakan kronologi kematian Romo Faustinus, proses pemeriksaan dirinya oleh penyidik sampai hidup di penjara.
"Ada pro dan kontra. Saya memahami kondisi ini. Terserah orang menilai dari sudut pandang apa. Secara pribadi, saya dan dia (Romo Faustinus) yang tahu persoalannya seperti apa. Saya sudah berusaha untuk berkata jujur, tapi tidak dipercaya orang. Bagi saya tidak masalah. Dia tahu dan Tuhan juga tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar anak pertama dari enam bersaudara ini, orangtuanya petani.
Theresia Tawa menuturkan, waktu kejadian hanya ada dia dan Romo Faustinus di lokasi. Tidak ada orang lain. "Saya tidak tahu apa yang dia rasakan. Tiba-tiba dia seperti itu. Sebelumnya, dia tidak pernah menceritakan mengalami gangguaan atau menderita penyakit tertentu. Buat saya dengan dia, tempat itu tidak asing. Kami sudah sering bertemu di tempat itu. Dia putus nafas baik-baik. Tidak ada bekas darah. Jadi, tidak seperti dibicarakan banyak orang bahwa dia mati dibunuh. Karena saya sendiri, jadi ada perasaan takut. Saya tinggalkan dia dan pulang menumpang dengan ojek setelah jalan agak jauh dari lokasi," kenang Theresia Tawa.
Dia kembali menegaskan bahwa kejadian itu tidak ada orang lain yang tahu. Hari ketujuh setelah kejadian baru dia ceritakan kepada kepala desa Raja yang adalah bapak kecilnya. Dia minta kepala desa antar ke Polsek dan menyerahkan diri. Di Polsek tidak sempat diinterogasi, lalu dia dikirim ke Polres Bajawa.
"Selama ditahan, saya diperiksa psikiater karena mereka berpikir saya gangguan jiwa. Saya juga didatangi orang-orang PADMA. Pada tanggal 7 Maret, saya bicara terbuka kepada PADMA. Saya buka semuanya. Dari situ keteguhan hati saya, kebenaran seperti ini. Yang tahu hanya saya dengan dia. Pokoknya baik-baik saja, tidak ada hal yang aneh," katanya.
Kedekatan Theresia Tawa dengan Romo Faustinus sejak Romo Faustinus pindah ke paroki Raja, sekitar bulan April 2009. Dia anggota mudika. Rumahnya dekat dengan paroki, jaraknya sekitar 20 meter. Sebagai Kepala Urusan (Kaur) Umum Theresia Tawa setiap hari harus masuk kantor desa Raja untuk bekerja. Untuk sampai di kantor desa, dia harus melewati paroki. Hal ini membuat dia selalu bertemu dengan Romo Faustinus.
"Beliau orangnya suka berteman dengan siapa saja. Baik sekali. Karena sudah dekat, saya memanggil Romo Faustinus sebagai kakak," ujar Theresia Tawa.
"Sebagai umat, saya merasa bersalah. Berdosa iya! Tapi satu sisi saya pingin jaga dia juga. Di sisi lain, teman-temanya tidak mengerti posisi saya. Dari awal sampai hari ini terus memojokkan saya. Melalui Pater Norbert Bethan, saya menyampaikan pingin ketemu Bapak Uskup, walau kasus ini terus ke pengadilan, tidak apa-apa. Kalau apa yang dikatakan orang benar adanya dan apa yang dikatakan saya bohong, saya sumpah makan tanah minum darah apa saja. Dan, saya taruhkan keluarga saya tujuh turunan," katanya.
Theresia Tawa juga mengatakan, mengalami perlakuan tidak enak pada saat diperiksa penyidik polisi. Waktu di Polres Ngada, dia diintimidasi sehingga dia merasa tertekan.
"Sewaktu diperiksa di Polda, saya juga diintimidasi, dibentak dan diteriaki. Saya dipukul sampai memar. Saya terima diperlakuan seperti itu. Meski begitu, saya tetap pada pendirian tentang apa yang saya alami dengan dia," ujar Theresia Tawa.
Anus Waja juga mengungkapkan, saat diperiksa, dia dipukul di dada, dahi dan ditodong dengan pistol. "Kalau diperiksa di Polda, saya diinjak. Bahkan, sampai di-strom. Saya tahu polisi yang strom. Mereka menyiksa agar saya mengaku membunuh. Padahal, saya tidak tahu apa-apa," kata Anus Waja.
Anus Waja menjelaskan, saat kejadian dia di sawah sedang rontok padi. Jarak sawah dengan lokasi kejadian belasan kilometer. Informasi tentang kematian Romo Faustinus dia tahu hari Senin-nya, tiga hari setelah kematian Romo Faustinus. "Saya tidak tahu-menahu dikaitkan dengan kasus ini," katanya.
Theresia Tawa mengatakan, sewaktu hidup di sel susah. Tapi harus dijalani dan dinikmati. Menurutnya, di sel juga tidak semua orang bisa menerimanya.
Dia menyampaikan terima kasih kepada almarhum karena meninggalkan sesuatu hal yang tidak memberatkan buat dia meski menyakitkan. "Tapi saya tidak pernah mengelak. Tuhan saja yang tahu. Saya pasrah. Saya hanya bisa menangis untuk mengurangi beban yang ada. Begitu banyak orang yang harus jadi korban karena saya. Seandainya dia ada, saya tidak seperti ini. Saya bicara jujur, tapi tidak ada orang yang percaya," katanya.
"Saya minta kehadiran dia dalam mimpi. Minta tunjukkan apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya. Tapi, sampai sekarang tidak pernah mengganggu atau hadir dalam mimpi. Waktu masih ditahan di Polres, polisi taruh fotonya di kepala saya biar dia datang kepada saya. Tapi dia tidak juga hadir sampai sekarang. Jujur, saya bingung karena dikaitkan dengan orang lain. Saya tidak pernah tahu siapa Anus Waja. Banyak hal yang buat saya bingung. Saya berdoa minta pertolongan Tuhan. Saya berusaha untuk selalu bersikap jujur tapi orang tidak menghargainya. Akhirnya saya pasrah, sampai hari ini seperti ini."
Theresia Tawa mengatakan, sejak kasus ini, dia merasa tidak percaya diri. Merasa malu dan ingin menyendiri. Dia juga pernah berniat mengakhiri hidupnya.
Dia mengetahui kalau masih ada pro dan kontra di masyarakat terhadap kasus kematian Romo Faustinus. Meski begitu, dia dan Anus Waja tetap siap pulang ke masyarakat, jika waktunya sudah tiba.
"Saya tidak bisa menghindar terus. Tidak bisa berlari terus. Ini bagian dari sejarah hidup. Masyarakat punya hak untuk tidak menerima saya. Tapi, saya harus pulang. Harus mengurus orangtua dan adik-adik saya. Sekarang saya sudah semakin tenang," katanya. (aca)