»Home » PK Minggu » Cerpen »
Alfred Dama
Gadis Itu.......
Cerpen Mariana Sogen
Minggu, 22 Agustus 2010 | 23:55 WITA

KOTAKU kini penuh dengan kesibukan. Semua penghuninya hiruk-pikuk ke sana kemari, tenggelam dalam rutinitas keseharian masing-masing. Malam telah datang ingin menutup hari terakhir bulan Agustus. Perjalanan hari itu harus berakhir.

Aku pun harus pulang. Sebelum ke  kos aku harus melewati tikungan di dekat jembatan yang bersebelahan dengan jalan umum dekat arena pameran.

Di tikungan itu seorang gadis belia tertunduk dan tengah asyik menulis. Tak banyak orang termasuk aku yang menghiraukan  keberadaannya. Penampilannya terlihat begitu kumal, rambut panjangnya dibiarkan terurai seperti tak terurus. Ia tampak tak menghiraukan hiruk-pikuk dan hingar-bingarnya kota ini.

Ada sebagian orang yang kasihan padanya dan melemparkan uang kepadanya. Ia menerimanya dengan senang hati. Namun ketika orang yang memberinya uang telah pergi, ia malah memberikan uang tersebut kepada beberapa anak jalanan yang berada di sekelilingnya.

"Kakak ini baik sekali, setiap kali diberikan uang oleh orang, ia malah memberikannya kepada kita. Padahal uang itu diberikan untuknya karena orang-orang merasa kasihan kepadanya. Tapi sikapnya agak aneh, ia selalu duduk dan menulis di tempat ini tapi kita tak pernah tahu siapa namanya," kata seorang di antara mereka kepada para temannya yang juga heran dengan sikap gadis itu.

Kejadian itu pun berlangsung setiap harinya. Setiap pagi ia telah terlihat sedang asyik menulis di pinggir jalan, namun tetap saja tak ada seorang pun yang tahu dari mana asal gadis itu dan siapa namanya.

Hingga pada suatu hari. "Tantip.....Tantip. Kak, ayo cepat lari". Teriak seorang anak sembari mengulurkan tangannya. "Nanti kakak bisa ditangkap dan dibawa ke panti rehabilitasi oleh para petugas yang jahat itu," lanjut anak itu mengingatkan.

Dan untuk pertama kalinya ia mengangkat kepalanya dan dengan tatapan yang tajam ia berkata, "Aku tidak akan lari. Meskipun aku bisa berlari secepat mungkin dan bisa bersembunyi di mana pun aku mau, tetap saja suatu saat mereka akan datang lagi. Aku tak mau selalu dikejar-kejar oleh mereka."

Anak tersebut tersentak ketika mendengar  suara gadis yang biasa ia sapa dengan sebutan "kakak". Suaranya sangat dingin, tatapannya begitu tajam seolah benci dan bosan melihat keadaan sekelilingnya yang begitu kacau. Tanpa banyak berkata lagi anak tersebut lari menyelamatkan diri dan meninggalkan gadis itu seorang diri.

"Kenapa kau tak berusaha untuk lari, malah tenang menulis di sini. Kau sadar tidak, hanya kau yang tetap bertahan di tempat ini dengan tenang," kata salah seorang petugas sambil menariknya dengan paksa ke atas mobil yang telah siap membawanya ke panti rehabilitasi bagi orang-orang jalanan.
                        ***

Seminggu sudah, ia berada di panti. Namun, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Penampilannya sekarang terlihat jauh lebih baik daripada sebelumnya. Meski begitu ia tetap tak menghiraukan keadaan sekelilingnya. Ia selalu mengisyaratkan perasaannya lewat sepasang matanya yang indah.

Jika ia marah tatapannya terlihat begitu tajam, namun sebaliknya jika ia sedang bersedih ia hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

"Sudah seminggu kau berada di sini, tapi kenapa tak satu pun kata yang keluar dari mulutmu. Aku tahu kau ini bukan orang bisu. Kami hanya ingin tahu siapa nama, keluargamu dan apa yang menyebabkan gadis secantikmu bisa tinggal di jalanan," kata seorang petugas wanita yang membawakan makanan untuknya dengan perasaan iba. Namun, seolah tak mendengar ucapan itu, ia tetap melanjutkan aktivitasnya menulis pada sebuah buku yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi.

"Dari mana kau dapatkan buku itu? Kelihatannya buku itu indah dan mahal," kata Mayang, temannya yang juga terjaring razia yang sama, namun dari tempat yang berbeda. Hanya Mayang yang mau mengerti dengan keadaannya. Meski sudah cukup lama bersahabat, ia enggan memberitahukan nama aslinya.

"Buku ini diberikan oleh almarhumah ibuku pada saat pesta ulang tahunku yang ke-15. Ia memintaku menuliskan semua yang aku alami ke dalam buku ini, namun dalam bentuk puisi. Dari semua kado yang kuterima saat itu, hanya kado ini yang paling tidak kusukai. Namun aku merasa sangat berharga sepeninggal ibuku," katanya sambil meneteskan air mata.

"Lalu kenapa kau mau meninggalkan rumahmu dan hidup di jalanan yang jelas-jelas berlawanan dengan kehidupanmu sebagai orang kaya,"  lanjut Mayang dengan sedikit kebingungan dan perasaan iba.

"Yang kaya ialah ayahku." Dengan sedikit menarik nafas, ia pun melanjutkan ceritanya dengan suara yang hampir tak terdengar.

"Beberapa minggu setelah ibuku meninggal, ayah menikah lagi dengan seorang wanita yang jahat padaku. Ia selalu membuatku terpojok. Aku selalu salah di mata ayahku oleh karena sikapnya yang  licik. Karena itu aku putuskan untuk meninggalkan rumah dan tinggal di jalanan. Aku membawa sedikit tabungan, pena dan buku hadiah dari ibuku ini." Terdengar suaranya sedikit serak, seolah tak tahan menceritakan pengalaman pahitnya itu. Hanya kepada Mayang, Gadis (begitu ia disapa karena sampai saat itu ia tetap enggan menyebutkan nama aslinya) selalu mengadu.
Beberapa minggu setelah itu, mereka berdua diizinkan keluar dari panti. Keduanya mulai menghirup udara bebas. Mayang dan Gadis memulai kehidupan di kota yang penuh dengan

"kekejaman" yang selalu mengintai mereka kapan dan di mana pun mereka berada. Kedua sahabat itu terlihat ingin betul-betul berubah. Mereka berusaha mencari rumah dan pekerjaan yang layak untuk dapat melanjutkan hidup. Dengan penampilan yang meyakinkan dan berbeda dari sebelumnya, mereka diterima bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran ternama.

                        ***
Sebulan sudah pekerjaan itu dijalani dengan senang hati tanpa keluhan sedikit pun, walau pekerjaan yang mereka emban cukup berat dan membuat Gadis sering pingsan karena kelelahan.
Hingga pada suatu petang.

"Gadis, kamu kenapa? Gadis...Gadis !!!!" kata Mayang cemas ketika melihat tubuh sahabatnya itu roboh di hadapannya.  Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Gadis yang mungil itu, kemudian ia dibantu oleh beberapa karyawan membawa Gadis ke rumah sakit. Karena keluar darah segar dari hidung Gadis, maka ia langsung dibawa ke ruang IGD guna perawatan lebih lanjut. Mayang kian khawatir dengan kondisi Gadis.

Dokter dan suster yang berada di situ tak kunjung keluar.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka dan keluarlah seorang dokter dan menyapa Mayang.

"Maaf nona, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi nyawa sahabat Anda sudah tidak dapat diselamatkan lagi."

"Apa maksud dari ucapan dokter?" tanya Mayang tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

Mayang tercengang seketika. Ia hanya bisa menangis melihat  tubuh sahabatnya yang sudah tak bernyawa lagi. Suasana di situ begitu mencekam. Mayang semakin tak mengerti apa yang menimpa Gadis. Ia baru tahu ketika seorang dokter lain menghampirinya dan berusaha menenangkan Mayang yang menangis sesunggukan di kaki tubuh Gadis yang telah terbujur kaku.

"Sahabat anda mengidap kanker darah stadium tiga. Sebenarnya nyawanya masih bisa diselamatkan karena setelah kami cek ternyata ada  sample sum-sum tulang belakang yang cocok dengannya. Tapi, keadaannya begitu lemah saat dibawa kemari. Ia hanya sempat berpesan agar Anda selalu menjaga buku miliknya dan jangan bersedih atas kepergiannya," kata dokter menjelaskan.

Mayang tak bisa berbuat apa-apa kecuali pasrah dan memandangi jenazah sahabatnya itu dengan kesedihan yang mendalam. Setelah itu jenazah Gadis dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. Keesokan harinya jenazah Gadis langsung dimakamkan di TPU setempat.

Seusai dimakamkan, Mayang segera pulang mengambil buku milik Gadis dan membacanya lembar demi lembar. Betapa terkejutnya Mayang, ketika melihat puisi-puisi yang ditulis sahabatnya. Semua puisi tersebut tertulis tanpa judul. Sekali lagi air mata membasahi pipinya yang merah merona.

Dari awal pertemuan hingga ajal memisahkan mereka, ia tak pernah tahu siapa nama asli dari sahabat yang juga sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Ia pun membaca puisi terakhir dalam buku Gadis yang ditulis sehari sebelum ia meninggal. Dalam puisi yang ditulis oleh Gadis, terungkap bahwa sebenarnya Gadis tak ingin pergi meninggalkan dunia ini. Namun, ia tak berkuasa untuk memutuskan kapan ajal akan menjemputnya.

"Apa maksud dari semuanya ini? Gadis tak mau menuliskan judul dari puisi-puisinya sama seperti ia tak mau memberitahukan siapa nama aslinya'. Mayang  berpikir dalam kesepian dan kesedihan.      

Sepintas ia membaca sebuah puisi yang ditulis Gadis sehari sebelum ia meninggal.  Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menyalahkan Tuhan yang tak mau memberi Gadis waktu lebih lama untuk hidup di dunia. Tetapi, setelah tenang ia berkata dalam hatinya,

"Ini sudah kehendak-Nya dan apa pun yang diputuskan akan selalu berbuah manis. Gadis pasti telah tenang berada di sisi-Nya".

Mayang berpikir badai yang menghampiri hidupnya sangat berat dan tak kunjung berakhir, namun ada keyakinan dalam hatinya bahwa pada suatu saat ia akan mendapat kebahagiaan bersama Gadis yang ia sayangi.(*)
 

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 34 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Minggu, 29 Januari 2012 | 21:56 WITA
Senin, 23 Januari 2012 | 13:34 WITA
Minggu, 15 Januari 2012 | 20:34 WITA
Senin, 9 Januari 2012 | 00:49 WITA
Minggu, 18 Desember 2011 | 21:22 WITA