»Home » Regional NTT » Flobamorata »
Jenis Kelamin Sangat Berpengaruh
Jumat, 20 Agustus 2010 | 22:27 WITA

Kupang, POS KUPANG.Com - Seorang pejabat tinggi dari Kantor BKKBN Pusat,  Andi Wahyono mengatakan jenis kelamin setiap anak yang dilahirkan sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan penduduk di Nusa Tenggara Timur.

"Sebuah keluarga yang sudah memiliki dua orang atau lebih tetapi berjenis kelamin yang sama, misalnya perempuan, maka keluarga bersangkutan pasti akan berupaya untuk mendapatkan anak laki-laki," kata Andi Wahyono, Kepala Bidang Program dan Kerja Sama Puslitbang Keluarga Sejahtera dan Peningkatan Kualitas Perempuan BKKBN Pusat di Kupang, Jumat.

Ia mengemukakan hal itu menjawab pertanyaan ANTARA terkait dengan genjarnya pelaksanaan program KB di NTT tetapi laju pertumbuhan penduduk di daerah ini masih tergolong tinggi yakni rata-rata 2,6 persen untuk setiap kabupaten/kota, kecuali Kabupaten Ende yang hanya 1,6 persen.

"Saya pernah melakukan penelitian di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan beberapa wilayah lain di NTT dan saya menemukan sendiri ada kebiasaan orang NTT dimana mereka harus memiliki anak perempuan dan laki-laki. Tradisi ini masih sangat kuat dan sulit dihilangkan," kata Adi Wahyono.

Dia mengatakan ada satu keluarga yang sudah memiliki lima anak tetapi karena jenis kelaminnya sama, yakni laki-laki maka pasangan tersebut masih ingin memiliki anak lagi dengan tujuan bisa mendapatkan anak perempuan.

"Bisa dibayangkan kalau semua pasangan keluarga di NTT memiliki prinsip yang sama, maka laju pertumbuhan penduduk akan sangat terasa," katanya.

Menurut dia, jenis kelamin anak ini hanya merupakan salah satu faktor tetapi masih ada faktor lain yang ikut berperan mendorong laju pertumbuhan penduduk di NTT yakni tradisi mas kawin berupa belis yang masih sangat mahal di NTT.

Hal ini mengakibatkan seorang ibu rumah tangga memiliki posisi tawar yang sangat lemah karena merasa sudah dibeli oleh keluarga laki-laki sehingga harus menuruti keinginan sang suami.  Artinya, kata dia, berapapun anak yang diinginkan suami, sang isteri harus melayani.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah masalah pendidikan.

Pendidikan yang rendah ikut memainkan peran dalam mendorong laju pertumbuhan penduduk. Dalam konteks ini, sebuah keluarga yang tidak berpendidikan tidak mengetahui secara persis bagaimana sebuah keluarga yang bahagia dan sejahtera.

"Mereka tidak tahu bagaimana bisa makan dan mendapat pelayanan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Yang mereka tahu hanya mendapat keturunan yang banyak," ujarnya.
Akibatnya, para orang tua terus memproduksi anak sebanyak-banyaknya, apalagi ada prinsip di kalangan masyarakat NTT khususnya di daerah pedalaman yang mengatakan bahwa banyak anak banyak rezeki.

Karena itu, perlu ada sebuah kerja sama di antara semua elemen masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa banyak anak tidak memberikan kebahagian bagi keluarga baik secara ekonomi, pendidikan dan kesehatan, katanya. (ant)
 

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 44 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 8 Februari 2012 | 23:08 WITA
Rabu, 8 Februari 2012 | 19:33 WITA
Senin, 6 Februari 2012 | 22:52 WITA
Sabtu, 4 Februari 2012 | 12:39 WITA