MANTAN model senior Indonesia Ratih Sanggarwati mengatakan, untuk mewujudkan keluarga sakinah tak selalu harus menggunakan pendekatan persamaan derajat antara pria-wanita seperti hitungan matematika, tetapi bagaimana menyikapi persoalan dengan ikhlas.
"Karena persamaan hak antara wanita dan pria dalam rumah tangga bukan seperti matematika," kata Ratih dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Juri Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Nasional 2010 di Jakarta, Jumat.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Dewan Juri Prof. H.A. Mubarok dan Ketua Panitia Penyelenggara Pemilihan Keluarga Sakinah Dr. H. Rohadi Abdul Fatah.
Menurut Ratih, peranan isteri dalam kehidupan rumah tangga -- dalam kaitan mewujudkan keluarga sakinah, mawadah dan warohmah -- tak bisa dipersepsikan harus selalu sejajar dengan suami. Terlebih menuntut persamaan hak sebagaimana dalam kehidupan berdemokrasi.
Ratih mengatakan, ada saat-saat tertentu dimana para isteri mengambil peran tanpa harus meminta pertimbangan suami, misalnya, isteri sebagai wanita karir yang ingin memberikan rasa nyaman dalam kehidupan rumah tangga bisa saja menyisihkan uang untuk membeli sesuatu tanpa minta pertimbangan suami.
"Yang penting, ada rasa nyaman. Dijalankan penuh ikhlas," ia menjelaskan.
Dalam mewujudkan keluarga sakinah, ujarnya, kecukupan materi bukan ukuran. Bisa saja seseorang sukses dalam karir namun gagal dalam membina rumah tangga.
Sukses dalam karir dan rumah tangga menjadi salah satu indikator terbentuknya keluarga sakinah, katanya.
Prof.H.A. Mubarok mengatakan, keluarga sakinah ikut menentukan terwujudnya masyarakat yang harmonis. Namun untuk mewujudkan masyarakat harmonis bukan satu-satunya ditentukan oleh keluarga-keluarga sakinah, tetapi juga ikut ditentukan oleh sistem budaya, nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat.
"Tradisi yang berkembang di masyarakat ikut menentukan kehidupan masyarakat yang harmonis," kata Mubarok.
Tantangan membentuk keluarga sakinah, menurut Rohadi Abdul Fatah, dewasa ini terasa makin berat. Pasalnya, tayangan melalui media massa ikut pula berpengaruh pembentukan perilaku seseorang. Terlebih tayangan itu dapat disaksikan setiap hari. Untuk itulah penyuguhan tayangan melalui media massa perlu diisi dengan edukasi sesuai kebutuhan masyarakat bersangkutan.
Perhelatan Pemilihan Keluarga Sakinah Teladan Nasional 2010 berlangsung 13-19 Agustus diikuti pasangan suami-isteri dari seluruh Indonesia.
Perhelatan akbar itu dianggap penting karena Indonesia saat ini butuh figur teladan di tengah kehidupan yang makin berat dan kompleks.
Ancaman terhadap keutuhan rumah tangga akibat penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kekerasan dalam rumah tangga termasuk masalah klasik seperti ekonomi, pendidikan anak maupun orang ketiga dalam perkawinan.
Acara ini akan dibuka Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar MA, sedangkan penganugrahan pemenang pemilihan sekaligus penutupan pada 17 Agustus 2010 dilakukan Menteri Agama Suryaddharma Ali.
Sebanyak 33 peserta dari seluruh Indonesia, dengan rata-rata usia perkawinannya sudah 30-50 tahun berharap bisa menyandang predikat sebagai yang terbaik bagi daerahnya masing-masing. (ant)