POTENSI sumber pangan dari Indonesia beragam tersebar di berbagai daerah. Untuk bahan pokok sumber karbohidrat saja misalnya ada padi dengan aneka varietasnya, sagu, singkong, dan sebagainya. Tapi, kenapa masalah pangan dan malnutrisi masih sering terjadi?
Menurut Dr Arzyana Sunkar, peneliti masalah pangan dan etnobotani dari Institut Pertanian Bogor (IPB), hal tersebut karena belum adanya cara pandang yang benar mengenai pemenuhan kebutuhan pangan. Sehingga sumber bahan pangan yang variatif malah sering tidak dilirik padahal punya kandungan gizi yang tinggi.
"Situasi dan kondisi pangan di Indonesia saat ini masih tergantung kepada beberapa komoditi saja seperti sumber karbohidrat dengan nasi dan gandum, sumber protein dan vitamin yang terbatas, kurangnya ketersediaan benih lokal berkualitas untuk para petani, dan turunnya kualitas tanah karena eksploitasi berlebihan," kata Dr Arzyana Sunkar dalam simposium internasional Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) 2010 di Bali, Selasa (20/7/2010).
Ia mengatakan saat menghadapi potensi krisis pangan seringkali pemerintah dan masyarakat terlalu berharap sumber pangan dari luar, padahal sumber daya lokal tersedia.
Menurutnya, sumber pangan terbaik adalah yang berasal dari sekitar tempat tinggal manusia karena paling mudah beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Misalnya sagu untuk orang papua, singkong untuk orang Gunung Kidul.
"Bukan berarti orang Papua tidak boleh makan nasi, namun alangkah lebih biak jika makanan lokal seperti sagu tidak ditinggalkan. Perlu menghidupkan kembali rediversifikasi pangan di kalangan masyarakat," ujar Arzyana Sunkar.
Selain bagus untuk ketahanan pangan dalam janga panjang, manusia yang mengonsumsi sumber makanan yang variatif secara genetis juga lebih baik.
Meski demikian, hal terpenting dalam pemenuhan kebutuhan pangan adalah keseimbangan gizi agar tidak terjadi malnutrisi. Menurutnya perlu sosialisasi yang benar kepada masyarakat gara paham bagaimana pola konsumsinya.
Misalnya, dari sisi karbohidrat, nasi kalah sama sagu atau singkong, tapi proteinnya lebih banyak. Sagu yang karbohidrat tinggi tapi proteinnya rendah harus dikonsumsi dengan pelengkapnya seperti ulat sagu yang juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat Papua. Ubi jalar bermanfaat karena punya kandungan karbohidrat tinggi sehingga baik untuk menghangatkan tubuh buat masyarakat di pegunungan seperti di Wamena.
Gaplek juga berguna buat masyarakat Gunung Kidul karena sumbernya lokal sehingga tidak terpengaruh harga komoditas lainnya.
Menurut Arzyna Sunkar, langkah paling bijak adalah mengajak masyarakat kembali mencintai bahan pangan lokal karena merekalah yang akan mempertahankan sumber daya tersebut. Jadi, ayo kembali ke bahan pangan lokal demi masa depan.
(kompas.com)
Perubahan Iklim Pengaruhi Pola Tanam
PERUBAHAN iklim yang terjadi akibat pemanasan global, sangat berpengaruh terhadap pola tanam petani sehingga memicu terjadinya gagal tanam dan gagal panen, kata seorang pengamat agribisnis Ir Leta Rafael Levis M.Rur.Mnt di Kupang, Rabu.
"Fenomena inilah yang harus dianalisa dengan baik oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemudian menyampaikan kepada para petani agar tidak keliru dalam menterjemahkan musim tanam," kata Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu.
Leta Rafael mengatakan fenomena perubahan iklim tersebut berpengaruh besar terhadap usaha pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana hingga Juli 2010 masih juga turun hujan yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah NTT.
Menurut hasil laporan dan analisis Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT hingga posisi Juni 2010, tercatat sekitar 1.481 desa di wilayah provinsi kepulauan ini mengalami kekeringan akibat perubahan dan penyimpangan iklim.
Jumlah desa dengan tingkat risiko rawan pangan ringan tercatat sebanyak 400 desa, risiko sedang sebanyak 335 desa dan desa risiko tinggi sebanyak 746 desa.
Leta Rafael yang juga Ketua Komisi Penyuluhan Provinsi NTT ini mengatakan kondisi ini tidak akan terjadi jika sejak awal pihak pemerintah berkoordinasi dengan BMKG untuk memberikan infomrasi terkait iklim dan perubahannya.
"Dengan demikian, para petani kita bisa tahu kapan harus menanam dan kapan tidak boleh menanam dengan alasan-alasan berdasarkan analisa iklim yang dikeluarkan BMKG," katanya.
Akibat minimnya informasi iklim dan perubahannya itu menyebabkan para petani tetap mempertahankan pola konvensional dengan mulai menanam pada bulan November setiap tahun, dengan asumsi pada April musim kemarau sudah tiba, katanya.
Pada kenyataannya, kata dia, hingga Juli 2010 masih turun hujan meskipun dalam intensitas ringan, namun hal ini cukup membingungkan para petani tadah hujan. Ia mengharapkan BMKG lebih berperan lagi dalam menganalisa iklim dan perubahannya agar tidak lagi mengorbankan para petani yang sudah terpola dengan membuka musim tanam pada setiap November tahun berjalan.(ant)
pangan lokal,bila dinikmati dengan hati yang jernih dan pikiran rileks maka ditempat manapun semuanya akan enak ,tinggal manusianya mau makan seperti apa yang sudah di tulis dengan hati atau mengikuti selerah.