»Home » PK Minggu » Cerpen »
Alfred Dama
Masih ada Doa Untukku
Cerpen Victor Lende
Senin, 9 Agustus 2010 | 12:13 WITA

IBUKU sering berdoa. Bahkan mungkin selalu berdoa. Bukan hanya ketika ia mengalami masalah, tapi kapan pun ia dapat melakukannya. Banyak harapan yang ia gantungkan padaNya.

Misalnya saja agar ayah yang telah pergi menghadap Tuhan dapat merasakan indahnya surga atau ia meminta kesehatan yang baik untukku. Dalam doanya aku paling sering mendengarkan namaku.

Seperti saat ini, ketika matahari masih terlalu jauh untuk menyapa kami. Hari masih subuh. Ibu tengah berdoa di samping tempat tidurku. Ibu tak tahu kalau sebenarnya aku sedang terjaga.
Dalam genggaman tangannya ada kontas yang selalu menggantung di lehernya dan hampir tak pernah dilepasnya kecuali ketika ia sedang berdoa.

Matanya terpejam tapi ada yang lain dalam mata ibu. Sebuah sungai kecil tengah mengalir dan membasahi pipinya. Sangat jarang aku melihatnya seperti ini.
Aku pernah melihatnya berdoa sambil menangis tapi itu sudah cukup lama. Yaitu ketika ayah meninggal. Selain itu aku tak pernah melihatnya lagi atau mungkin ada sesuatu yang terjadi padaku, karena sejak pemeriksaan ke dokter kemarin, air muka ibu sepertinya agak lain dari yang biasa kulihat.

Aku telah bertanya padanya namun ia hanya mengatakan bahwa ia mendoakan kesembuhanku dari sakit kepala yang kualami ini.

Aku masih mendengarnya berdoa. Doanya begitu syahdu. Namun, doa yang sering kuucapkan itu terasa berbeda saat ia ucapkan. Doa yang benar-benar keluar dari kedalaman hatinya. Aku mencoba untuk tetap tenang dan membiarkannya terus dalam doanya. Ia berdoa kepada wanita yang disebut Perawan Maria Bunda Allah. Bunda kami semua.

Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu...
                                                                     * * *
 Ibu, aku ingin ke sekolah,” kataku pada ibu yang baru saja memasuki kamarku.

 Kau masih sakit, Mario. Kata dokter, kau harus banyak istirahat,” terang ibu sambil mengelus keningku.
 Tapi, Bu, akan ada ulangan hari ini. Lagipula, keadaanku telah lebih baik sekarang. Sakit kepalaku telah hilang setelah beristirahat sejak kemarin,” jelasku pada ibu, sedikit memaksa.
 Baiklah kalau begitu. Ibu akan menyiapkan air hangat untukmu,” kata ibu sambil beranjak dari sampingku.
Pada wajah keibuannya, aku melihat kekhawatiran yang begitu dalam yang tak pernah ditunjukkannya sebelumnya. Keras kepalaku telah membuatnya meng- iya-kan keinginanku.

Tapi dalam mata beningnya aku melihat doa yang terus ia lantunkan untukku. Sekali pun aku tak tahu apa yang ia sembunyikan dariku, namun aku rasa, semua yang sedang terjadi ini ada hubungannya dengan sakit kepala yang sering kualami.

Dalam pemeriksaan dokter kemarin, ibu terus mendaraskan doa, sambil meneteskan air mata dari wajahnya yang khawatir. Mungkin ada sesuatu yang akan terjadi padaku.

Tapi, entah mengapa, tak ada kekhawatiran yang melekat pada diriku sedikit pun, karena aku tahu, doa ibu selalu menemaniku, serupa malaikat empat penjuru yang selalu mengiringi aku.
* * *
Malam sudah cukup jauh. Aku dan ibu baru saja selesai menyiapkan bunga-bunga yang akan dijual besok serta beberapa pesanan pelanggan yang datang dua hari sekali.

Pekerjaan itu sudah merupakan rutinitas kami berdua sejak ibu memulai usahanya sebagai penjual bunga. Setelah tak ada lagi yang harus dikerjakan, kami berarak masuk ke dalam rumah. Ibu memegangi pundakku dan mengiringi aku menuju kamarku. Aku sempat melihat wajahnya.

Dalam wajahnya yang lelah bercampur kemelut, ia mencoba untuk tetap tersenyum. Setelah sampai di depan pintu kamar, ia melepaskan pegangannya dan memintaku untuk masuk.

 Selamat tidur,” ucapnya padaku.
 Selamat tidur, Bu,” balasku.
Aku yakin, dalam ucapan itu, ada doa yang ia sisipkan di sana. Aku memasuki kamar dan menuju tempat tidurku. Aku sebenarnya belum bisa tidur tapi berusaha untuk memejamkan mata sambil tetap terjaga.

Dalam hati aku berharap semua ini dapat segera berlalu. Terbersit dalam kepalaku untuk melakukan sesuatu saat ini.
Aku membuka mataku, menuntun tanganku menuju sebuah meja berlaci di samping tempat tidurku. Aku membuka laci itu dan mencari sesuatu di dalamnya. Sebuah kontas biru muda yang kudapat dari ayah ketika ia masih bersama kami.

Kontas itu selalu kugunakan ketika aku, ayah dan ibu berdoa bersama. Aku bangkit dari tidurku dan duduk bersila. Mataku kupejamkan dan aku mulai berdoa. Doa yang sudah tak asing lagi bagiku, seperti gerimis mengenal pelangi.
Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu...
* * *
Aku masih memandanginya, seorang wanita yang berdiri tak jauh dariku. Jika ibuku sekarang berkepala empat, menurutku wanita yang sedang kupandangi ini berbeda beberapa tahun di bawah ibuku.

Ada sesuatu yang menarikku untuk tetap memandanginya. Wajahnya teduh, aku melihat ada ketenangan di sana. Matanya bening seperti mata ibuku dan yang membuatku tetap bertahan memandanginya adalah senyum mataharinya.

Senyum itu seperti datang menghangatkan segala yang dingin dan mencairkan kebekuan. Saat aku memperhatikannya, aku sadar kalau sebenarnya ia juga memperhatikan aku. Ia melemparkan senyum mataharinya. Aku membalas, meski tak seindah senyumnya. Wanita itu menghampiriku.

 Apakah namamu Mario?” ia bertanya. Sesaat aku bingung. Dari mana ia mengetahui namaku.
 Iya, Bu. Nama saya Mario. Dari mana Ibu tahu nama saya?” tanyaku menyelidik.
 Aku mengenalmu dari Ibumu,” jawabnya dengan senyum kecil di bibirnya.
 Jadi, Ibu mengenal Ibu saya?”

Ya... aku mengenal Ibumu dan banyak yang ia ceritakan padaku tentang dirimu.”
     Benarkah itu? Apakah ia pernah menyinggung tentang penyakitku?” aku bertanya padanya, berharap ia dapat memberikan jawaban.

 Ya, ia pernah menceritakannya padaku.”
 Apa saja yang ia ceritakan, tolong katakan padaku,” kataku memohon.
Ia terdiam sebentar kemudian mengangkat suaranya.

 Ibumu takut ada sesuatu yang mungkin dapat terjadi padamu. Penyakitmu cukup serius dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.”

Beberapa lama kami berdua terdiam. Tak ada suara angin di sana. Hanya sunyi yang kami temukan. Dengan nada datar akhirnya aku memecahkan keheningan itu.

 Aku sudah menduganya,” kataku nyaris tanpa ekspresi.
 Mario, ada yang ingin aku katakan padamu. Tapi berjanjilah untuk tetap tenang,” pintanya padaku.
 Apa itu Ibu...? Katakan saja.”
Kini kami terdiam lagi. Sebuah jurang sunyi berdiri di antara kami. Namun, jurang itu tak terbentang lama ketika wanita itu menyeberanginya.

 Mario, maaf kalau aku harus mengatakan ini... Tak lama lagi kau harus pergi...,” ucapnya lirih.

 Apa yang Ibu maksud?!” aku bertanya. Tapi belum sempat ia menjawabku, seberkas cahaya menyilaukan mataku dan membuatku tak dapat melihat apa-apa.
Aku terbangun dari mimpiku, setelah bias mentari pagi menerpa wajahku. Ternyata aku hanya mimpi. Mimpi yang aneh, pikirku. Aku mencoba merangkai kembali pecahan mimpi-mimpi itu. Namun, belum sempat selesai, suara ibu membuyarkan semuanya dari pikiranku.
                                                                          * * *
 Apa kau tidak ke sekolah hari ini?” tanya ibu padaku ketika aku menghampirinya.

 Tidak, Bu. Hari ini sekolah kami libur karena guru-guru akan mengadakan rapat,” terangku pada ibu dengan raut muka yang masih mengantuk.
 Syukurlah kalau begitu. Sebentar lagi ibu akan keluar tapi ada yang akan mengambil bunga. Tolong bantu ibu jika ibu tidak ada di rumah,” pinta ibu padaku.
 Baik, Bu,” jawabku singkat.

Aku berbalik meninggalkan ibu sendirian di dapur. Aku melangkah dengan gontai menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhku pada kursi. Sejenak aku terdiam.

Ingin rasanya aku tidur lagi dan melanjutkan mimpi yang belum sempat kuselesaikan. Aku hanya dapat mengingat dengan jelas perkataan wanita dengan senyum matahari itu. Tak lama lagi kau harus pergi.

Kata-kata itu mendengung dalam kepalaku dan lama- kelamaan membuatku resah. Apa ini semua ada hubungannya dengan penyakitku? Tiba-tiba saja aku merasa khawatir.

Mungkin karena mimpi itu. Aku diam. Cukup lama, hingga aku sendiri tak dapat menghitungnya. Tiba-tiba saja suara ibu mengagetkanku.
 Mario, tolong ambilkan tali untuk mengikat bunga di dapur!”

 Baik, Bu,” balasku yang langsung berdiri dari dudukku, bergegas menuju dapur.
Namun, baru beberapa langkah, kepalaku terasa sakit. Rasanya seperti tertindih beban berat. Sakit kepala yang biasa kurasa kini datang lagi.

Tapi kali ini terasa lebih sakit. Perlahan, aku merasa penglihatanku kabur. Pada saat yang bersamaan, kurasakan ada cairan yang merembes dari hidungku, membasahi sekujur mulutku.

Dengan sisa-sisa tenaga aku mencari tahu cairan itu. Kulihat pada tanganku ada bercak merah yang kental. Darah. Kini aku sudah tak dapat bertahan lagi. Sekejap semuanya gelap. Pekat.
                                                                 * * *
Aku telah sadar. Kulihat ibu sedang di sampingku bersama beberapa tetanggaku. Mata ibuku sembab. Sepertinya ia baru selesai menangis.

 Mario, syukurlah kau sudah siuman. Ibu sangat khawatir saat kau pingsan tadi,” kata ibu pelan.
 Aku baik-baik saja, Bu. Ibu tenang saja,” aku berkata sambil membuat senyum di bibirku, berharap ia akan lebih tenang.
 Mario, soal penyakit kanker otakmu, kau tidak usah khawatir. Ibu telah mendapat pinjaman uang. Kau pasti sembuh,” ucapnya lirih seperti berbisik.
Aku membalasnya dengan senyum. Baru kali ini aku tahu bahwa aku mengidap kanker otak. Penyakit yang juga diderita kakekku.

Aku tahu ibu selama ini menyembunyikannya dariku karena sebuah alasan. Ia tak ingin aku terlalu memikirkan penyakit itu karena ia yakin aku dapat sembuh. Dan aku senang semuanya telah aku ketahui sekarang.

 Ibu, semalam aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang mengaku sebagai teman ibu.”Aku memandangi wajah ibu.
Ibu tetap diam dan mendengarku sambil menggenggam erat tanganku.

 Ia bercerita banyak padaku dan sebelum kami berpisah, ia mengatakan bahwa tidak lama lagi aku harus pergi dan...,” belum sempat aku menyelesaikan ceritaku, tangis ibu pecah.
 Huss... jangan bicara sembarang. Kamu akan sembuh, Nak,” kata ibu sembari menggenggam tanganku lebih erat. Seperti tak ingin melepaskanku.
Kini aku tahu bahwa aku memang harus pergi. Pergi meninggalkan ibu. Aku tahu sangat sulit untuknya melepasku.

Tapi ini adalah jawaban dari mimpiku. Sebentar lagi aku akan bertemu ayah. Tapi aku yakin, Bunda Maria akan selalu bersama ibu.

Ibu terus menangis sambil mengelus keningku. Ingin rasanya aku menghapus air matanya namun aku tak dapat. Aku seperti merasa lelah. Aku tak lagi punya daya.

 Ibu, aku ingin tidur,” kataku pada ibu. Ibu hanya memandangi wajahku dan matanya terus mengalirkan sungai bening.

 Tidurlah, Anakku.” Aku mendengarnya berkata dengan lirih. Aku tahu ia mengatakan itu dengan berat hati. Aku dapat mengerti lewat nada suaranya.
Aku mendapat firasat, kalau setelah ini aku sudah tak dapat lagi bertemu dan berbicara dengan ibu sambil menyiapkan bunga dan dagangannya.

Saat mataku masih terjaga, aku menemukan seseorang yang kukenal berdiri di samping ibu dan memegangi pundak ibu.

Kini aku tahu bahwa dialah yang disebut Perawan Maria, wanita yang pernah menemuiku dalam mimpi. Aku melemparkan pandanganku lagi pada wajah ibu. Bibirnya seperti sedang berkata-kata tapi terlalu pelan seperti berbisik.

Aku tahu ia sedang berdoa. Dan doa itu pasti untukku.    Perlahan, aku menutup mataku. Genggaman ibu sepertinya tak aku rasakan lagi. Suara- suara di sekelilingku perlahan hilang dan kini tinggal aku dan sunyi.
Mengingat semuanya, aku menjadi semakin tenang, masih ada doa untukku. *

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 55 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Minggu, 29 Januari 2012 | 21:56 WITA
Senin, 23 Januari 2012 | 13:34 WITA
Minggu, 15 Januari 2012 | 20:34 WITA
Senin, 9 Januari 2012 | 00:49 WITA
Minggu, 18 Desember 2011 | 21:22 WITA