BORONG, Pos Kupang.Com -- Egidius Manukule, petani asal Golo Lada di Manggarai Timur (Matim) menemukan teknologi pengolahan lahan yang sangat membantu petani karena biayanya murah, dan mudah diterapkan, menggunakan bahan lokal serta ramah lingkungan.
Teknologi ini diberi nama teknologi bedeng jerami tanah (BJT). Teknologi ini merupakan kombinasi antara teknologi jerami dengan teknologi mulsa jerami dan bedeng.
Manukule yang ditemui di lahan ujicoba miliknya di Golo Lada-Borong, Rabu (23/06/2010), mengatakan, teknologi yang ditemukannya ini hampir sama dengan teknologi pengolahan lahan yang paling mutakhir, yakni teknologi mulsa jerami.
"Teknologi ini kombinasi antara teknologi mulsa jerami, jerami dan bedeng. Dalam teknologi mulsa jerami, bedeng dibuat baru dideder jerami. Sedangkan dalam BJT, bedeng dibuat, jerami dideder baru tanahnya di atas," jelas Manukule.
Keunggulan teknik ini, lanjut Ketua KTNA Kecamatan Borong ini, bisa menekan pertumbuhan gulma, menekan penguapan dan mempertahankan kelembaban tanah.
Menurut praktisi teknologi tepat guna (TTG) dan penyuluh swakarsa ini, teknologi BJT lahir dari topografi dan iklim Borong yang panas, curah hujan sedikit dan air yang tidak lancar.
"Teknologi ini dikembangkan agar masyarakat petani tidak harus menyiram tanaman setiap saat (pagi dan sore), tetapi bisa tiga hari baru siram satu kali. Kiat ini dicoba dikembangkan agar para petani lebih serius mengembangkan tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Teknologi ini sudah diujicoba pada tanaman paria, kacang panjang, lombok dan jagung," katanya.
Mengenai proses pengolahan lahan dengan teknologi BJT, Wakil Ketua Komisi Penyuluhan dan Pertanian Matim ini, menjelaskan, pertama-tama lahan diolah (dicangkul semua). Setelah dicangkul lahan dibiarkan satu minggu agar terkena matahari. Setelah seminggu, tanah yang sudah gembur itu dicetak bedeng lalu diikuti pendederan jerami.
Bedeng dibuat setinggi 20-25 cm dan dederan jerami setebal 3-5 cm. Tebal tanah diatas dederan jerami maksimal 5 cm. Ketika bedeng sudah dibuat, diatur jarak tanam dan diberi pupuk kompos/bokasi. Dengan demikian, saat menanam, sudah ada rongga pada tanah.
Mengenai kualitas tanaman, Manukule mengatakan sangat relatif karena tergantung aplikasi perlindungan tanaman, yakni bagaimana aplikasi pestisida dengan pupuk. (gg)