KUPANG, POS KUPANG.Com -- Empat warga negara asing melakukan perjalanan napak tilas dengan menggunakan perahu Bounty dari Tonga, Pasifik. Untuk tiba di Kota Kupang, mereka menempuh waktu 48 hari.
Perahu Bounty sepanjang tujuh meter, tinggi 80 cm dan lebar 190 cm ini tiba di pantai LLBK, Selasa (15/6/2010) pukul 15.30 Wita. Empat warga asing yang menapaki sejarah perjalanan kapal Bounty 221 tahun lalu itu adalah Don MacIntyre (Australia), David Pryie (Tasmania), Chris (UK) dan David (Hongkong). Kapal Bounty mengingatkan kita pada cerita mengenai peristiwa pemberontakan terhadap kapten William Bligh di Haiti.
Perjalanan Don, Pryie, Chris dan David dari Tonga dengan menggunakan alat seadanya. Perahu tidak memakai mesin tapi hanya mengandalkan layar. Makanan mereka selama di atas kapal apa adanya termasuk ikan laut.
David melukiskan perjalanan mereka pertama kali ke Kota Kupang sangat fantastik. Mereka berada di Kota Kupang selama 10 hari.
Meski merupakan perjalanan sejarah, namun kedatangan rombongan ini diterima seadanya saja. Dari pihak pemerintah Kota Kupang dihadiri kepala dinas Pariwisata, Nova A Bessy. Tidak tampak adanya persiapan yang bagus untuk penerimaan rombongan. Empat warga asing itu justru dikalungi empat selendang oleh Edwin Lerrick, agen pariwisata Lavanton.
"Saya sangat menyesal sekali. Ini adalah perjalanan internasional. Tetapi tidak ada sambutan dari pemerintah sama sekali termasuk pemkot Kupang. Padahal informasi mengenai kedatangan rombongan ini sudah kami sampaikan. Sebenarnya ini merupakan salah satu bentuk promosi pariwisata. Lihat saja, kedatangan rombongan ini disambut dengan liputan dari televisi internasional karena ini adalah perjalanan yang sangat berbahaya," kata Lerrick.
Edwin mengungkapkan, perjalanan rombongan dari Tonga dilepas oleh menteri tetapi di Kupang tidak ada sambutan sama sekali. Dia mengungkapkan perjalanan mereka menceritakan mengenai kapal Bounty. Kapal tersebut tiba di Haiti namun sampai di sana, disambut oleh perempuan-perempuan yang cantik sehingga awak kapal tidak mau berangkat lagi. Terjadilah pemberontakan terhadap kapten kapal. Awak merampas kapal Bounty yang besar dan ada 18 orang yang mereka naikan di perahu Bounty yang kecil. Kapal tersebut tiba di Tonga namun mereka tidak diterima dengan baik bahkan ada satu orang yang meninggal dunia. Rombongan lalu melanjutkan perjalanan dan tiba di Kupang setelah berjalan selama 47 hari. Tiba di Kupang satu orang meninggal dunia.
"Ini membuktikan bahwa Kupang sudah dikenal sejak dulu. Kami masih mencari kuburan dari salah satu awak yang meninggal di Kupang tetapi sampai sekarang belum dapat karena ada banyak kuburan yang batu nisannya dicopot," katanya. (ira)
Saya sangat sayangkan juga dengan respond ala kadar / stengah hati dari pemerintah daerah NTT.padahal Napak Tilas Perahu Bounty yg Heroik ini sangat Historis dan mendunia.Moment inipun seharusnya dapat dipakai oleh Pemda NTT untuk sarana propmosi karena Napak Tilas ini diliput oleh seluruh dunia dan menyita perhatian begitu banyak pihak.situs CNN mencatat lebih dari 35 juta orang mengakses event ini.logikanya ada 35 juta orang yang seharusnya tahu tentang dimana kupang dan apa yg ada di kupang,culturenya,places of interestnya dll secara utuh dan benar karena pengambaran kota kupang ala hollywood (sudah 3 film hoolywood yg menyangkut kupang) adalah jauh dari kenyataanya .Sayang sekali pemerintah NTT tidak jeli melihat kesempatan itu.Untuk Pak Edwin saya salut dengan anda yg dengan segala kekurangan dan kelebihanya telah menjadi sumber info baik bagi Pemda terutama bagi tourist yg datang dikupang tuk mencari info bahkan Lonely Planet merekomdasikan nama Anda. Cheers James Toelle Bali Indonesia
Pak Edwin Lerrick yang OK, hal ini mesti dievaluasi dengan pihak Pemkot maupun Pemprop khususnya Dinas Pariwisata. saran saya apabila ada even seperti ini jangan hanya memberikan info, tetapi sebaiknya ada kalender kerja Lavalon yang kemudian juga menjadi kalender kerja bersama dengan pihak pemerintah tingkat kabupaten kota maupun propinsi, sehingga preparetion untuk kegiatan tersebut lebih baik. Sukses selalu buat Bang Edwin dengan Lavalon-nya