»Home » Editorial » Salam »
Histeria Mas Gibol Sambut Piala Dunia
Senin, 14 Juni 2010 | 11:07 WITA

SEPAKBOLA memang membius. Siapapun dia, tua muda, perempuan laki-laki, kecil besar, sepakbola mampu menyatukannya. Agama, suku, etnis, ras dan lainnya tidak bisa menghalangi dia untuk masuk. Seluruh dunia mengenal sepakbola dan sudah sepakat agar kalau bola masuk ke gawang disebut gol.

Hari-hari ini, hingga 11 Juli mendatang, mata dunia tertuju kepada Afrika Selatan. Negera Afrika pertama yang menjadi penyelenggara Piala Dunia ini sedang berpesta. Negara dunia ketiga yang disebut masih terkebelakang. Namun, mereka berani mengundang seluruh dunia untuk melihat mereka meniup vuvusela (terompet khas Afrika Selatan) untuk menghipnotis para pemain. Mereka ingin agar setelah 11 Juli nanti, jangan hanya sang juara yang dikenang, tetapi vuvuzela, yang bunyinya seperti lebah sedang terbang itu membuat Afrika Selatan tetap ada di hati dunia.

Apa efek Piala Dunia 2010 ini bagi Indonesia? Presiden SBY yang menyaksikan partai pembuka antara Afrika Selatan melawan Meksiko melontarkan sebuah pertanyaan kepada para menteri dan staf yang mendampinginya menonton. "Kapan ya Piala Dunia digelar di Indonesia?

Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun untuk merealisasikannya butuh perjuangan yang panjang. Mungkin juga tidak akan pernah tercapai. Sepakbola yang membius, membuat siapa saja pasti menggunakannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Tahun lalu, ketika klub Liga Inggris, Manchester United hendak melakukan tur ke Indonesia, tiba-tiba sekelompok teroris membon Hotel Marriot, tempat yang hendaknya digunakan sebagai penginapan Wayne Rooney dkk. Batal datang, Manchester United pun mungkin tak lagi mau memasukkan Indonesia dalam rencana turnya.

Ada hal menarik yang terjadi selama beberapa hari Piala Dunia 2010 digelar. Di Kupang bahkan di NTT, gebyarnya sangat terasa. Animo Masyarakat Gila Bola (Mas Gibol) sebuah komunitas pecinta bola di Kupang cukup tinggi. Contohkan saja. Biasanya bila malam Minggu, antara pukul 20.00-24.00 Wita, Jalan El Tari I Kupang akan dipadati manusia. Namun, yang terjadi Sabtu (12/6/2010), jalan utama dalam Kota Kupang itu sepi. Hanya beberapa pemuda tanggung yang nampak menikmati jagung bakar ataupun sekadar duduk-duduk. Polisi lalu lintas yang biasanya sibuk menertibkan kendaraan, terlihat santai mengobrol di pos penjagaannya.

Nampaknya perhelatan sepakbola ini juga digelar di saat yang tepat untuk sedikit 'mendinginkan' suhu di NTT. Enam kabupaten di NTT yang melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (pemilu kada) --diluar Flores Timur-- yang masih dalam proses cukup menyita perhatian. Saling tuding, saling menjatuhkan, saling menjelekkan, saling bakusikut, saling memuji dan bersaing untuk memenangkan pertarungan terasa sangat melelahkan. Baguslah kalau piala dunia ini kita jadikan ajang untuk sekadar meluruskan urat-urat yang sempat tegang.

Makna apa yang harus kita petik dari event ini? Sepakbola tetaplah sepakbola. Semua tahu apa itu bermain bola. Semua orang bisa mengenal pemain dunia meski sering keliru melafalkan nama-nama mereka. Ada juga yang memanfaatkan moment ini untuk meraup keuntungan baik lewat bisnis halal maupun taruhan. Namun, ada yang hanya karena hobi tak perduli berapa duit yang dikeluarkan, asalkan bisa menonton dengan nyaman.

Tak kenal siapapun dia, artis, politikus, narapidana, gelandangan hingga pemain bola benaran saat ini hanya bicara bola. Ada yang malah diminta menjadi komentator di televisi, radio maupun surat kabar. Porsi pemberitaan media pun makin besar. Ada media yang malah menambah halaman khusus atau durasi lebih hanya untuk pemberitaan tentang Piala Dunia 2010 ini.

Seharusnya event ini menjadikan kita --terutama buat para pengambil keputusan-- untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat. Masyarakat yang 'sering disalahkan' dalam proses pembangunan harus diketahui keinginannya. Anak-anak muda yang sering balapan liar di Jalan El Tari Kupang pun ternyata bisa diredam dengan sepakbola. Tak ada balapan liar, polisi pun tidak sibuk, angka kecelakaan pun menurun.

Apakah sepakbola bisa dijadikan sarana pemersatu di NTT? Almarhun mantan Gubernur NTT, EL Tari sudah punya gagasan tentang itu sejak lama. Dia menggelar turnamen El Tari Cup hanya untuk menyatukan masyarakat NTT.

Adakah makna lain dari sini? Sepakbola tetaplah sepakbola. Bola tetap telanjang meski ditendang ke sana ke mari. Siapa pun yang menjadi kampiun, itu urusannya nanti. Tetapi, hari- hari ke depan ini, tak bisa disia-siakan karena sepakbola memang harus ditonton. **

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 76 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 8 Februari 2012 | 09:26 WITA
Sabtu, 4 Februari 2012 | 09:13 WITA
Selasa, 31 Januari 2012 | 09:38 WITA
Senin, 26 Desember 2011 | 19:30 WITA
Senin, 12 Desember 2011 | 08:56 WITA