Gula lempeng yang diproduksi warga Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, harganya bersaing ketat dengan masuknya gula lempeng dari daerah lain. Kondisi ini membuat para pembuat gula lempeng di Lasiana resah, apalagi harga jual gula lempeng terus anjlok.
Hal ini diungkapkan dua warga Kelurahan Lasiana masing-masing, Ibu As dan Kornelis Nalle saat ditemui di Lasiana, Sabtu (12/6/2010).
Menurut keduanya, saat ini sudah banyak gula lempeng yang diproduksi dari berbagai tempat masuk ke pasar- pasar di Kota Kupang. Misalnya dari Tuasene, Oebelo, Amfoang dan Rote Ndao. Akibatnya, harga gula lempeng terus melorot.
"Kami masak gula lempeng sejak April lalu dan kami rasa ada persaingan harga yang cukup ketat di pasar. Sebelumnya harga gula lempeng Rp 6.000 - Rp 7.000/kilogram (kg), tapi kini turun sampai Rp 5.000/kg," kata Ibu As.
Padahal, lanjutnya, untuk memasak gula lempeng cukup membutuhkan ongkos yang besar yakni untuk membeli kayu bakar perlu pengeluaran mencapai Rp 250.000/truk. Belum lagi tenaga untuk mengambil nira lontar, serta duduk berjam-jam untuk memasak di tungku api. "Kami rasa, apa yang kami buat ini cukup menguras tenaga, waktu dan biaya, tetapi setelah dijual harganya sangat memrihatinkan," keluh Ibu As.
Kornelis Nalle, menambahkan, harga jual gula lempeng di pasar saat ini tidak merata, karena masing-masing penjual menerapkan harga semaunya. "Misalnya dari Rote harga lain, dari Oebelo atau Tuasene harganya lain lagi," ujar Nalle.
Pantauan Pos Kupang, deretan pedagang yang menjual gula lempeng baik di Pasar Kasih Naikoten 1 Kupang maupun di Pasar Oeba, bervariasai. Ada gula lempeng dari Rote Ndao, Kupang Barat, Oebelo, Lasiana dan juga dari Tuasene.
Ukuran gula lempeng yang paling banyak adalah ukuran kecil dengan diameter sekitar 2 centimeter yang dijual Rp 2.500/lima lempeng. Ada juga yang dijual dengan harga Rp 2.000/ 5 -6 lempeng .
Mikael Neno, salah satu penjual gula lempeng di Pasar Oeba Kupang, mengatakan, gula lempeng yang dijual selama ini harganya selalu berubah. Bahkan dalam setahun harga gula bisa berubah sebanyak dua atau tiga kali. "Memang gula lempeng ini bukan makanan pokok, tapi harganya selalu berubah, meski perubahannya tidak seperti bahan makanan pokok," kata Neno. (yel)