47 FOKUs: Bukan Sekadar Foto - Pos Kupang
Pos Kupang
FOKUs: Bukan Sekadar Foto
Sabtu, 24 April 2010 21:45 WITA
Share |

BERBAGAI komunitas hadir tentu dengan latar belakang  yang beberda, namun untuk membentuk sebuah komunitas tidaklah mudah, karena sebuah komunitas minimal semua anggotanya memiliki kesamaan hobi.

Memang awalnya sulit karena setiap anggota membawa karakteristik mereka masing-masing, tetapi dengan komitmen yang kuat dan tujuan yang sama, maka komunitas akan tumbuh dan berkembang.

Hal ini agak berbeda dengan komunitas Fotografer Kupang dan sekitarnya (FOKUs). Kehadiran FOKUs awalnya didukung oleh hobi yang jelas dan juga kepentingan yang jelas. Hanya satu yang diidamkan oleh komunitas ini, yaitu bisa memberikan warna tersendiri dalam membangun masyarakat NTT. Melalui hasil jepretan, komunitas ini bisa menggugah semua pihak lewat obyek yang dipotret.

Dengan kondisi demikian, maka kita sudah bisa menebak, mereka yang bergabung dalam komunitas ini jelas memiliki kesamaan hobi. Ya, suka memotret.

Ide membentuk komunitas ini lahir dari satu keinginan bersama semua teman dalam komunitas ini untuk beraksi mengambil gambar alam dan sekitarnya dengan mengutamakan nuansa sosial.

"Ini sebuah hobi yang harus kami lakukan dalam komunitas ini. Memang awal pembentukan komunitas ini terutama untuk menyalurkan hobi semua anggota," kata Koordinator Humas FOKUs, Noverius H. Nggili, yang ditemui di sekretariat Yayasan PIKUL-Kupang, Jumat (23/4/2010).

De facto komunitas ini berdiri di Kupang pada 14 Februari 2010.  Pada kesempatan itu, anggota yang mulai bergabung melakukan pertemuan sekaligus menentukan visi bersama, strategi dan juga apa yang hendak dilakukan komunitas ini, termasuk menyepakati nama komunitas.

Keanggotan FOKUs sekitar 20 orang. Yang terdaftar melalui jejaring sosial facebook sebanyak 75 orang. (yel)

Agenda Kerja Terfokus


NAMA FOKUs untuk komunitas ini bukan sekadar nama, tetapi melalui suatu pergumulan. Melatarbelakangi nama tersebut, FOKUs pun memiliki sejumlah agenda kerja yang terfokus dengan berpatokan pada mantra. Ya, semacam visi dan misi dari komunitas ini.

Menurut Koordinator Humas FOKUs, Noverius H. Nggili, beberapa agenda yang sudah dilakukan komunitas itu adalah mengunjungi gedung bekas lembaga pemasyarakatan (LP), benteng dan beberapa lokasi bersejarah.

"Kami mau melihat gedung-gedung tua atau peninggalan sejak dulu yang masih ada di Kota Kupang. Tempat dan gedung itu kami jadikan obyek jepretan. Secara historis obyek-obyek ini memiliki makna yang besar bagi generasi saat ini," tutur Noverius.

Dikatakannya, jika pemerintah memiliki itikad baik untuk menjaga atau melestarikan gedung-gedung tua dan bersejarah itu, maka NTT umumnya memiliki kekayaan sejarah yang bisa dilukiskan sebagai momen penting.

"Ini sebuah contoh kritik sosial kami yang ditampilkan melalui FOKUs. Kami juga sudah agendakan beberapa kegiatan pada Mei mendatang, yaitu diskusi dan pameran foto," ujarnya. (yel)  


Wilson M.A. Therik (Ketua FOKUs)

Kritik Sosial

KEBERADAAN komunitas ini harus diakui berbeda dengan komunitas lainnya. Mengapa tampil beda? Karena dalam perjalanan, melalui diskusi yang alot, semua anggota tidak menggunakan visi atau misi, namun mengangkat semua istilah yaitu mantra sebagai bidikan aktivitas mereka.
Mantra ini bukan untuk dibaca atau diapa-apakan, tetapi dijadikan sebagai kompas dan acuan dalam aplikasi mantra.
Menurut  Ketua FOKUs, Wilson MA Therik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh calon anggota, yaitu harus mempunyai kamera (tidak dibatasi jenis kamera). Jika syarat pertama tidak dipenuhi, tapi yang bersangkutan bisa memotret, maka bisa dilakukan dengan kamera pinjaman.
"Tapi, kalau persyaratan pertama dan kedua tidak dipenuhi, maka yang bersangkutan bisa menjadi anggota dengan syarat bersedia untuk dipotret atau mempunyai bakat menjadi model," kata Wilson.
Salah satu syarat yang juga tidak ketinggalan, yaitu anggota komunitas tersebut berdomisili di Kupang. Namun tidak tertutup kemungkinan bagi mereka yang berdomisili di luar Kota Kupang. Hal ini bisa dilakukan dengan mengakses jejaring sosial facebook.  
FOKUs juga sudah mengunjungi masyarakat yang ada di Pulau Kera. Di sana banyak sekali hal yang ditemui berkaitan dengan masalah sosial kemasyarakatan, kesehatan, pendidikan dan pemenuhan kebutuhan pokok, terutama air minum bersih. (yel)

Tanggapan Mereka
Sylvia Fanggidae


Semua Gembira
BERGABUNG dengan komunitas ini, kegembiraan semua anggota sangat nampak karena momen yang ditampilkan berupa gambar. Meski sederhana, banyak memberikan arti. Siapa saja yang menikmati hasil jepretan tentu akan berempati, karena semua semua hasilnya selalu bernuansa sosial.
Dalam komunitas ini, tidak semua anggota diwajibkan memiliki kamera. Dengan handphone saja juga bisa. Ini semua kita jalani dengan gembira. (yel)     


Margaretha Heo
Tampilkan Fakta

APA yang dilakukan FOKUs memang tidak seperti halusinasi atau fatamorgana saja, tetapi mengambil potret berdasarkan fakta-fakta. Karena sesuai tema jepretan bernuansa sosial, maka yang jelas hasilnya itu memberikan sebuah momentum yang banyak berbicara atau bercerita dari sudut pandang berbeda bagi siapa saja yang melihat. Dengan ini, maka siapa saja akan berempati tentang apa yang ditampilkan.  (yel)

Torry Kuswardono
Nilai dari Foto

INTINYA, FOKUs yang tampil di Kota Kupang dan sekitarnya ini bisa memicu empati dari semua komponen masyarakat. Bukan berempati pada fotografer atau orang yang menjempret gambar atau obyek, melainkan pada obyek yang dijepret sehingga masyarakat menikmati foto itu dan merasakan apa yang disajikan. (yel)

Komposisi FOKUs
Wilson M.A. Therik:Ketua
Palce Amalo: Koordinator Pelatihan
Danny Wetangterah: Koordinator Publikasi
Noverius H. Nggili: Koordinator Humas
Gusti Brewon: Koordinator Usaha Dana

Anggota FOKUs
Olyvianus Dadi Lado
Aries Sudarmono
Robby Lay
Buce Gah
Dion DB Putra
Winston Rondo
Donald Mangngi
Godlief Tabun
Andre Nubatonis
Alfred W. Djami
Erlina Dangu
Robby Lay
Gusti Brewon
Vico Patty
Reinhart Damanik
Palce Amalo
Danny Wetangterah
Noverius H. Nggili
Bintang Intan Oematan
Jemris Fointuna
Sylvia Fanggidae
Margaretha Heo
Torry Kuswardono
Asis Tokan
Oddy Messakh
Yesti Kumanireng