Kasus penganiayaan itu disebabkan oleh masalah sangat sepeleh, yakni siswa tersebut duduk saat kepala sekolah menyampaikan pengarahan ketika upacara bendera Senin (15/3/2010). Saat itu korban duduk lantaran sakit.
Tidak terima dengan perbuatan guru, korban bersama pamannya melapor kejadian itu ke Polres Sumtim, Senin siang. Setelah diambil keterangan oleh polisi, korban dibawah petugas ke RS Lindimara Waingapu untuk divisum.
Subhan ditemui di Mapolres Sumtim mengatakan, dua hari sebelumnya ia sakit demam dan pusing. Namun karena sebentar lagi akan ujian nasional (UN), ia memaksakan diri masuk sekolah.
"Sebenarnya kepala saya masih pusing tapi saya paksa ikut upacara bendera. Saat arahan kepala sekolah peserta upacara disuruh istirahat, saya duduk karena tidak tahan berdiri. Pak Rustam tetap menyuruh saya berdiri. Saya bilang saya sakit. Dia mengira saya melawan," kata Subhan.
Saat bersamaan, kata Subhan, pelaku menampar dirinya. Namun karena dia menghindar, pelaku tendang mengenai wajahnya hingga korban menderita memar di tulang pipi dan pelipis kanan. Saat ditendang, ia jatuh.
Meski begitu, oknum guru itu masih terus melancarkan pukulan tapi untung dilerai guru dan siswa. "Saya lalu melarikan diri ke luar sekolah dan kembali ke rumah. Saya tidak terima karena kejadian ini sudah keterlaluan. Saat saya lapor kasus ini ke polisi, banyak teman yang dukung," kata Subhan. (editor kro)
NAH INI SODARA-SODARA...MASIH ADA PREMAN JADI GURU ATAU GURU JADI PREMAN. PAK GURU...PAK GURU...JADI PETINJU SAJA BOS..... LU ITU TIDAK COC0K JADI GURU, JADI DEB COLECTOR SAJA
kurang ajar tu guru. jangan sampe korban rampas pacarnya si guru. makax sang guru dendam. biasanya begitu Pak.....!!!!!!!!!!! he.he.he...