»Home » PK Minggu » Bumi Kita »
Antara
Cagar Alam Hutan Mutis Mulai Terancam
assets.wwfid.panda.org
Kawasan cagar alam hutan Mutis ini terlihat indah, namun terancam rusak bahkan punah bila tidak dijaga dan dirawat dengan baik.
Senin, 15 Maret 2010 | 11:28 WITA



 "Saya sangat mengkhawatirkan kondisi cagar alam hutan Mutis bisa menimbulkan entropi lingkungan," kata Dr. L Michael Riwu Kaho, pengamat ilmu kehutanan dari Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Rabu (10/3/2010).

Berdasarkan hasil penelitiannya, kawasan cagar alam Mutis-Timau mencapai sekitar 87.000 hektar dan telah ditetapkan sebagai kawasan inti cagar alam yang harus dilindungi dan terbebas dari upaya eksploitasi sumber daya alam (SDA).

Secara tradisional, ujarnya, kawasan tersebut telah dihuni oleh sekelompok populasi dari etnolinguistik tertentu, yakni Atoin Meto, yang menganggap bahwa daerah Mutis dan sekitarnya adalah ruang hidup mereka.

"Untuk mempertemukan dua kepentingan ini merupakan suatu dinamika etika lingkungan yang bersifat  dilematik, karena dua kepentingan tersebut memiliki dinamika yang terkadang bertabrakan secara diametral," ujarnya.

Di satu sisi, hutan Mutis harus di lindungi, akan tetapi dinamika perkembangan populasi dan cara-cara pemenuhan kebutuhan bahan makanannya membutuhkan kawasan hutan Mutis sebagai sumberdaya.

"Dalam situasi dilematis seperti ini kelestarian cagar alam hutan Mutis menjadi terancam karena pola penggunaan sumberdaya secara tradisional, antara lain penggembalaan bebas dan perladangan tebas bakar, yang dikhawatirkan dapat menimbulkan entropi lingkungan," katanya.

Data yang diperoleh dari Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) NTT menunjukkan bahwa cagar alam hutan Mutis merupakan daerah tangkapan air (hulu) bagi dua DAS besar di Timor bagian barat, yakni DAS Benanain seluas sekitar 384.331 hektar dan DAS Noelmina seluas sekitar 191.037 hektar.

Dengan demikian, sebagian besar tata air permukaan di Timor barat diatur oleh hubungan antara hutan cagar alam Mutis dan daerah tengah serta hilir dua DAS besar tersebut.

Riwu Kaho dalam suatu penelitian menyebutkan, berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) 1983, luas kawasan cagar alam Mutis mencapai 12.000 hektar, terdiri dari beberapa desa kantung (enclave) dan non enclave serta kawasan pelestarian yang berada pada ketinggian 2.427 meter dari permukaan laut.

Sebagai perbandingan, luas hutan di Timor bagian barat hanya 240.109.178 hektar (14,65 persen) di mana yang tergolong sebagai hutan primer kering tidak lebih dari 6,15 persen.

Sementara data dari Forum DAS NTT menunjukkan bahwa hutan di seluruh DAS Benanain-Noelmina hanya sekitar 11 persen. "Jika jumlah luas kawasan hutan ini dibandingakan dengan ketentuan yang ada di dalam UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, maka hutan di Timor bagian barat sudah dalam keadaan kritis, dan hutan Mutis merupakan sala satu bentang terakhir kawasan hutan di Timor barat," katanya.


Sebuah peta lahan kritis yang dirilis Badan Pengelola DAS NTT menunjukkan bahwa luas lahan kritis di sekitar hutan cagar alam Mutis mendekati angka 80-an persen.

Sebuah survai yang dilakukan WWF (2003) memberikan petunjuk kuat bahwa hutan dan lahan di kawasan hutan cagar alam Mutis mengalami tekanan yang berat karena penggembalaan bebas, illegal loging  dan kebakaran hutan.

"Saya juga pernah melakukan penelitian pada 2005 yang memberikan petunjuk bahwa kendati tingkat kesejahteraan penduduk di sekitar hutan cagar alam Mutis berada di atas garis kemiskinan akan tetapi kerentanan lingkungan telah berada di ambang batas daya dukung (carryng capacity)," katanya.

Ia menambahkan ekstensifikasi pertanian dapat berujung pada kehancuran ekosistem hutan cagar alam Mutis dalam 20-30 tahun mendatang. (ant)
 

Sumba Timur Berpotensi Jadi Gurun

KABUPATEN Sumba Timur di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu.

Demikian dikemukakan Dr. L Michael Riwu Kaho, peneliti kehutanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang di Kupang, belum lama ini.

"Kami mengambil sampel penelitian pada Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 100-200 meter di atas permukaan laut dengan formasi vegetasi asli adalah padang rumput savana," katanya.

Riwu Kaho yang juga dosen pada Fakultas Peternakan Undana Kupang itu menguraikan, iklim di kawasan tersebut merupakan gambaran umum tipe iklim kering dan semi kering atau berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson disebut iklim Tipe E.

Proses penggurunan itu terjadi, katanya menjelaskan, karena hilangnya vegetasi dan penurunan kelembaban tanah.

"Kondisi ini sedang terjadi di Sumba Timur, sehingga kemungkinan terjadinya proses penggurunan di wilayah timur Pulau Sumba itu bisa saja terjadi. Ini semua terjadi akibat aktivitas manusia (man made activities) yang juga dipengaruhi oleh variasi iklim," katanya menjelaskan.

Bukti-bukti perubahan iklim global dan dampak lokal dimaksud tidak bisa terbantahkan lagi, karena sudah melanda juga wilayah Sumba Timur.  Jika dibandingkan dengan kondisi 50-100 tahun lalu, luas hutan di Sumba Timur saat ini tinggal sekitar 6-7 persen saja.

"Ini sebuah kemunduruan formasi vegetasi yang luar biasa. Dari aspek ini pun, gejala umum proses penggurunan patut diduga telah terjadi di Wairinding, Sumba Timur. Akan tetapi bukti ini harus ditelusuri lebih jauh lagi," ujarnya.

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pihaknya pada 10 titik di sekitar perbukitan Wairinding sebagai sampling menunjukkan bahwa total areal basah yang tercover oleh vegetasi tidak lebih dari 20 persen.

Sebagian besar vegetasi adalah rumput jenis annual yang hanya tumbuh semusim, seperti rumput jenis fymbristilis sp dan eragrostis sp.

Riwu Kaho menambahkan, pada semua titik pengamatan yang ada menunjukkan bahwa batuan induk telah berada pada bagian teratas profil tanah, sedang di lembah-lembah sekitar bukit Wairinding kedalaman lapisan tanah hasil erosi dan sedimentasi hanya mencapai 1-2 meter.

Profil tanah normal yang ada di wilayah tersebut menunjukkan bahwa serasah atau sisa-sisa tanah dan bahan organik tanah hasil dekomposisi serasah, horison mineral berbahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap. "Dari berbagai variabel yang ada menunjukkan bahwa proses penggurunan telah tampak di Wairinding, Sumba Timur," ujarnya.

Ia menambahkan proses penggurunan yang dramatis pernah terjadi di The Great Plain, Amerika Serikat sekitar 1930-an.

Proses penggurunan yang dramatis sebagai akibat dari adanya usaha peternakan yang berlebihan (overgrazing) yang terjadi bersamaan dengan pola mosaik iklim mikro dan kebakaran lahan yang masif merupakan penyebab utama perubahan sebagian The Great Plain menjadi gurun.

Riwu Kaho mengemukakan pola penggunaan lahan seperti yang terjadi di The Great Plain tampak jelas terjadi juga di Wairinding. "Sulit untuk dihindarkan jika dikatakan bahwa proses penggurunan telah menampakkan wajahnya di Wairinding, Sumba Timur," demikian Michael Riwu Kaho. (ant/lorens molan)

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 142 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

barangkali iklan Aqua untuk bantu air di NTT akan laku keras dan laris manis... Orang lain yang menyumbang, kita yang merusak... cape deh...

Komentar Oleh: anselmus amo | Jumat, 19 Maret 2010 | 23:16 WITA

Saya sebagai anak asli daerah ingin sekali dan sangat mendukung Dr L.Michael Riwu Kaho tentang cagar alam Mutis itu sebenarnya adalah tanggung Pemda TTS secara kusus dan Pem Prov NTT secara umum.kami ingin sekali agar cagar alam yang sekarang masih sisa di wilayah mutis perlu ditanggapi serius oleh Pemda TTS.krn kalau tidak maka suatu saat nanti P Timor terjadi kekringan yang luar biasa sehingga masyarakat akan sangat susah untuk mencari air sebagai kebutuhan pokok,sekarang masyarakat disekitar Kec Amanatun selatan,Boking,Nunkolo,putain mereka sangat mencari air bersih dimusim kemarau. Oleh karena itu kami menghimbau Pemda TTS untuk serius menangani hal ini agar berkoordinasi dgn DR Riwu Kaho dalam hal kelestarian cagar alam di Mutis. Sekian komentar kami mudah2 an bisa ditanggapi dengan posetif oleh Pemda TTS

Komentar Oleh: Jeremias Betty | Senin, 15 Maret 2010 | 11:50 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 1 Februari 2012 | 10:52 WITA
Senin, 16 Januari 2012 | 18:52 WITA
Selasa, 20 Desember 2011 | 19:12 WITA
Senin, 12 Desember 2011 | 10:53 WITA
Senin, 5 Desember 2011 | 09:35 WITA