KUPANG, POS KUPANG.Com -- "Kami ke Naioni untuk melakukan mediasi. Kami memakai baju biasa, bukan pakaian dinas. Saya tidak bawa senjata. Saya tidak tahu, siapa yang melepaskan tembakan malam itu. Saya perlu luruskan bahwa tembakan itu bukan dari kami."
Demikian AKP Adibert Adoe, saat mendatangi Redaksi Pos Kupang Minggu (14/3/2010). Adoe mengklarifikasi pernyataan Lurah Naoni, Melianus Jerobiam Penum, S.Sos bahwa ada anggota polisi dari Polda NTT mengawal mangan yang diangkut secara ilegal dari Naioni (Pos Kupang, Sabtu 13/3/2010).
Adoe mengakui kehadiran dua anggota kepolisian dari Polda NTT, yakni AKP Adibert Adoe, dan AKP Yonis Kobis di Kelurahan Naoni bukan untuk mengawal truk pengangkut mangan. Keduanya hanya mau melakukan mediasi dengan Lurah Naoni, Melianus Jerobiam Penun, S.Sos, yang malam itu melakukan penahanan terhadap truk yang mengangkut mangan milik Ari Lena.
"Saya datang ke Kelurahan Naoni memakai baju biasa. Bukan pakaian dinas. Saya juga tidak miliki senjata. Saya tidak tahu siapa yang melepaskan tembakan malam itu. Saya perlu luruskan bahwa tembakan bukan dari kami," ujar Adoe.
Dia menuturkan, pada malam itu, warga mulai berdatangan dan memukul tiang listrik dan mengancam akan membakar truk. Karena itu, mereka bernisiatif lari untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Seperti diakui AKP Adibert Adoe, batu mangan yang diangkut truk tersebut merupakan batu mangan milik Ari Lena. Pembelian batu mangan itu bersumber dari dana patungan antara AKP Adibert Adoe dengan Ari Lena.
"Saya jujur mengaku bahwa sebagian uang untuk beli batu mangan itu merupakan patungan antara saya dengan Pak Ari Lena," ujarnya.
Malam itu, lanjutnya, ia mendapat telepon dari Ari Lena bahwa truk pengangkut batu mangan ditahan Lurah Naoini. Berdasarkan informasi itu, dirinya turun ke Naioni untuk melakukan mediasi dengan lurah yang telah mengambil kunci truk dan surat truk dari sopir.
"Penahanan mobil itu bukan kewenangan lurah, sehingga saya coba untuk melakukan pendekatan. Ternyata lurah tetap bersikeras menahan mobil itu," kata Adibert Adoe.
Malam itu, lanjut Adoe, ia mengajak Lurah Naoni untuk menyelesaikan persoalan itu di Polda NTT. Karena itu, ia meminta Lurah Naoni untuk masuk ke dalam mobil.
"Ternyata setelah berada di dalam truk, yang bersangkutan lari keluar. Kami tidak mengejar maupun melepaskan tembakan karena kami tidak memiliki senjata," ujarnya.
Sementara itu, Kapolda NTT, Kombes Yorri Yance Worang, melalui Pelaksana tugas (Plt) Kabid Humas, Kompol Okto George Riwu, menegaskan, pihak Provos Polda NTT sedang mendalami kasus itu. Pihaknya belum mengetahui motivasi kehadiran kedua anggota Polda NTT itu di Kelurahan Naoni.
Sementara itu, Polresta Kupang, pada Sabtu (13/3/2010) malam, mengamankan satu truk pengangkut lima ton batu mangan dari Kelurahan Naoni. Lima ton batu mangan tersebut diduga milik Melianus J Penuh, warga Kelurahan Naoni.
Sebelumnya, harian ini memberitakan, dua oknum anggota Polri bersenjata mengawal dua truk yang memuat mangan. Mangan yang diduga ilegal itu dibawa keluar dari Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Kamis (11/3/2010) malam, sekitar pukul 23.30 Wita.
Lurah Naioni, Melianus Jerobiam Penun, S.Sos, ditemui di Naioni, sekitar pukul 24.00 Wita, Kamis malam, mengatakan, dua oknum polisi itu duduk di depan truk, di samping sopir. Masing-masing mengawal satu truk yang memuat mangan tersebut.
Lurah Penun yang mencurigai kedua truk yang memuat mangan pada malam hari itu, menahan kedua truk itu di RT 002 RW 001, Kelurahan Naioni. Lurah menanyakan izin pengangkutan mangan kepada sopir truk. Saat itulah dua oknum polisi bersenjata itu menghalang-halangi, bahkan mengancam dirinya.
"Saya tetap bersikeras meminta surat izin pengangkutan mangan. Karena saya terus desak, kedua oknum polisi itu tarik kerah baju saya dan mendorong saya secara paksa untuk masuk ke dalam truk. Dalam posisi terdesak, saya tendang pintu depan truk dan lari berlindung di belakang sebuah kios di lokasi kejadian," tutur Penun.
Dia menambahkan, kedua polisi itu bernama AKP Yonis Kobis dan AKP Adibert Adoe. Saat dia berlari, katanya, Adibert Adoe mengambil senjata laras panjang dan langsung mengeluarkan tembakan. Mendengar suara tembakan itu, warga setempat terbangun dan panik. Saat itu juga kedua oknum anggota polisi itu naik kembali ke truk dan ttruk bermuatan mangan itu pun melaju ke arah Kota Kupang.
Namun salah seorang kondektur truk, Nahor Benfaton, warga Noelbaki, tertinggal di lokasi kejadian. Pria ini pun jadi sasaran amukan warga. Nahor menderita luka-luka serius di wajahnya.
Penun mengatakan, dua truk yang memuat mangan itu, salah satunya DH 8642, yang dikemudikan Joseph Aryans Lema, pemilik truk. Truk ini memuat 80 karung mangan. Truk satu lagi, DH 9267, dikemudikan Markus Teme. Pemilik truk ini bernama Herman Susilo, warga Kelurahan Liliba. Truk ini memuat 100 karung mangan. (ben)
ow....ow.ow............whats up........????? hehehehehehehhehe.................... Insting saya,,, mustahil Penduduk yang menembak...... Alasan??? untuk apa Penduduk menembak??? Come on Oknum Polisi,,,Apa memang benar....?????hehehehehe JAngan pake standar ganda dong..........