Arktusan Taklale (40), salah seorang petani dalam kawasan Cagar Alam Mutis, mengatakan, mereka biasa menjual bawang bombai kepada para cukong dari Kupang dengan harga sangat murah. Hanya Rp 2.500/ikat. Soalnya, mereka tak sanggup membayar truk untuk memasarkan hasil pertanian mereka ke Kupang.
Bawang Bombai di pasaran Kupang biasanya dijual dengan harga Rp 2.000,00/biji atau sekitar Rp 30.000,00/kg, bawang merah Rp 15.000,00/kg dan bawang putih sekitar Rp 20.000/kg.
Namun di Kapan, harganya jauh dibawah standar. Murahnya komoditi pertanian itu, karena kondisi jalan dari dan ke Kapan sangat buruk.
Menurut Kepala Desa Nenas Uria Kore, wilayah Kecamatan Fatumnasi merupakan salah satu daerah lumbung pangan. Selain itu, sebagai objek wisata alam di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Akan tetapi, sarana dan prasarana jalan sungguh sangat buruk sehingga menyulitkan para petani untuk memasarkan hasil pertaniannya dengan baik.
"Jalan dari Kapan ke kawasan Cagar Alam Mutis diaspal sejak TTS dipimpin Piet Alexander Tallo (alm). Saat ini jalannya sudah rusak," katanya.
Menurut dia, ketika kondisi jalan masih beraspal mulus, ada sekelompok pengusaha dari Kupang dengan membawa sekitar 30 kendaraan, berkemah di bawah kaki Gunung Mutis untuk menikmati udara alam di kawasan tersebut.
"Saat jalan mulai rusak, hampir tak ada lagi yang berkunjung ke Mutis," katanya. Dia menambahkan, Mutis berada pada ketinggian sekitar 2.427 meter dari permukaan laut.
Ia mengatakan, saat Gubernur NTT Frans Lebu Raya berkunjung ke Desa Nenas, persoalan itu sudah disampaikan. Namun hingga kini belum ada realisasinya.
"Setiap tahun ada musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan di SoE. Masalah buruknya jalan ini selalu kami angkat. Tapi tidak ada tanggapan," kata Uria Kore dibenarkan Panie.
"Jika ruas jalan dari Kapan menuju Cagar Alam Mutis diperbaiki kami yakin banyak wisatawan akan berkunjung ke Mutis untuk menikmati udara pegunungan. Petani juga bisa memasarkan hasil pertaniannya dengan baik," kata Panie. (antara - editor kro)