Keluarga menduga Nurdin mati tidak wajar dan perlu pengusutan tuntas guna mengungkap pelaku yang tega menghabisi nyawa anak mereka.
Permintaan tim Polda NTT agar turun ke Maumere ini disampaikan kuasa hukum melalui surat yang diterima Pos Kupang, Sabtu (13/3/2010) di Kantor Biro Pos Kupang Maumere, Jalan Gelora-Maumere.
Dalam surat yang diperoleh Pos Kupang, Haji Jusuf ayah korban telah memberikan kuasa kepada Yohanes Tukan, S.H dan Nyoman Rae, S.H. M.H meminta bantuan Polda NTT guna menurunkan tim mengungkap kematian Nurdin.
"Saya ikuti hasil kerja tim Polda NTT yang patut diacungkan jempol dimana dalam satu tahun terakhir mereka berhasil mengungkap kasus kematian di Lewoleba, Larantuka, Bajawa dan Kefamananu. Tim inilah yang kami harapkan bisa bantu tangani kasus yang menimpa klien kami," tandas Yohanes Tukan dalam suratnya.
Tukan menjelaskan, permintaan bantuan tim penyidik Polda NTT wajar dan bukan lantaran kemauan keluarga tapi juga perkembangan prestasi tim Polda NTT yang dilihat banyak orang sehingga tim inilah yang diharap keluarga.
Devyanto Nurdin (20 Th), putra Haji Yusuf dan Hajah Nur Hamidah meninggal tidak wajar di Jembatan Wailiti, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Maumere, Rabu, 17 Juni 2009.
Keluarga menduga kematian Nurdin bukan karena lakalantas tapi ada indikasi pidana. Keluarga melapor kasus itu ke Polres Sikka dengan membawa bukti baru dan ada saksi baik yang mendengar dan melihat langsung peristiwa penganiayaan terhadap Devyanto Nurdin. Laporan keluarga sejak Oktober 2009 silam namun belum ada kemajuan dan perkembangan apa- apa terkait kasu itu. Karena penanganan dinilai lamban maka keluarga mengadu persoalan itu ke Bareskrim, Irwasum dan Kerpala Divisi Prorpam Mabel Polri untuk meminta penyidikan diambil alih Kabareskrim Mebes Polri.
Surat yang dilayangkan tertanggal 24 Januari 2010 langsung ditanggapi dan meminta Polda NTT mengambil alih tugas untuk pengungkapan kasus tersebut.
Pada Kamis (3/3/2010) keluarga menghadirkan Prof. Abdul Mun'im Idris, Spf, ahli forensik UI Jakarta guna melakukan otopsi. Hasil otopsi, korban meninggal dunia karena benturan benda keras dibagian wajah dan kejanggalan korban tidak mungkin jatuh sendiri dari kendaraan.
Keluarga melalui kuasa hukum juga meminta tim Polda NTT yang sukses mengungkap beberapa kasus di beberapa daerah di NTT diturunkan ke Maumere. "Saya baca dikoran ada nama yang sering muncul dari tim Polda NTT adalah Buang Sine. Mungkin kapolda perlu mempertimbangkan Buang Sine turun bantu penyidikan ke Maumere," katanya
Terkait surat keluarga korban, Kapolres Sikka, AKBP.Agus Suryatno melalui Kasat Reskrim, AKP.Samuel Simbolon menegaskan, pihaknya akan menindaklanjuti laporan keluarga. Namun pihaknya masih menunggu laporan berupa surat keterangan hasil otopsi dari Muni'im Idris.
"Kalau suratnya sudah ada kita lakukan pemeriksaan. Kasus ini akan kita dalami kalau ada indikasi pidana kita akan proses sampai tuntas," kata Samuel. (ris)