»Home » Regional NTT » Floresa »
syarifah sifah
Lamahala-Horowura Kakak-Adik
Sabtu, 13 Maret 2010 | 23:31 WITA

Demikian dikatakan Asisten I Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Flores Timur, dr. Valens Sili Tupen.

Istilah adat untuk menyebut kedekatan itu adalah "lewo nayu baya". Istilah ini, jelasnya, merujuk pada kesepakatan tidak tertulis antarnenek moyang kedua desa untuk saling memberi dan menerima, saling membantu, tidak saling melukai satu dengan yang lain.

Konsep sejarah ini, kata Sili Tupen, menjadi roh bagi  penanganan masalah perang tanding antarwarga kedua desa tersebut yang memperebutkan tanah di wilayah perbatasan desa.

"Bahwa sengketa ini terjadi salah satunya adalah karena penggunaan areal lahan pertanian di perbatasan kedua desa itu yang selama ini dikelola secara bersama-sama kemudian masing-masing saling mengklaim bahwa ini areal pertanian kami. Padahal, dalam penuturan  sejarahnya kedua desa ini memiliki cerita bahwa mereka adalah bersaudara. "Lein lau weran rae' yang kurang lebih artinya bahwa tanah yang disengketakan itu adalah milik bersama," jelas Sili Tupen kepada Pos Kupang, Jumat (12/3/2010).

Ia mengakui, secara keseluruhan batas wilayah di Flores Timur baru ada secara administrasi sementara pemetaan di lapangan belum ada. Karena tanah di Flores Timur, khususnya Adonara, memiliki keberagaman kepemilikan. "Karena itu, untuk batas ini perlu ada koordinasi lintas sektor sehingga ke depan bisa mengeliminir konflik antarwarga," kata putra asal Adonara ini.

Salah seorang tokoh pemuda Lamahala, Ernes SL kepada Pos  Kupang, mengatakan, warga Lamahala awalnya tidak mau berperang namun ada warga dari Horowura dan lainnya merusak tanaman warga Lamahala sehingga terjadi perang. Pengakuan yang sama juga diakui oleh warga Horowura bahwa kebun mereka yang sudah berisi tanaman ditebang oleh warga Lamahala.

Terhadap masalah itu, Sili Tupen mengatakan bahwa pemerintah tetap berupaya mencari jalan keluar untuk menyelesaikan sengketa itu.
 
"Pak Wakapolres dan Dandim sudah melakukan penelusuran dan hasilnya akan kita carikan solusinya," katanya.

Kapolsek Adonara Timur, Ipda Abdurahman Aba, S.H yang dihubungi per telephon, mengatakan, kondisi di lokasi kejadian pada Jumat kemarin  kondusif. "Saat ini kondisi sudah kondusif. Tidak ada warga lagi yang ada di lokasi konflik. Kami tetap siaga memantau situasi bersama  anggota Brimobda NTT," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa kondisi di Waiwerang ibukota Kecamatan Adonara Timur, juga sudah normal kembali. Aktivitas di pasar dan di toko-toko sudah kembali berjalan seperti biasa.

"Toko-toko sudah dibuka, pasar sudah mulai ramai dan anak-anak sekolah seperti biasa, "kata Aba yang baru beberapa hari menjabat Kapolsek Adonara Timur ini. (iva)

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 223 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Perang tanding yang terjadi didaratan adonara selama ini disebabkan oleh batas wilayah/tanah (harga diri), untuk itu harus dijunjung tinggi batas yang telah ditentukan oleh nene bele titte, tutu kirin harus dikedepankan untuk menyelesaikan masalah Lamahala dan Horowura bila perlu lakukan sumpah adat untuk membuktikan siapa yang berhak atas wilayah yang disengketakan.

Komentar Oleh: Doel Kadir | Rabu, 31 Maret 2010 | 18:07 WITA

masalah sengketa dpat dselesaikan dngan baik tanpa ada korba jiwa... skr bukan zaman batu lagi, dmna yang kuat yang berkuasa. pemerintah daerah stempat hrus sgra mnjadi fsilitator untk mmprtmukn tkoh kdua phak yg brseteru... bla tdak bsa dslesaikan dngan musyawara, maka jlan yg baik adlah win-win solution.... jgn smp nnt kta mnyesal ktika sdah bnyak korban yg brjtuhan.....

Komentar Oleh: argha maulana | Jumat, 26 Maret 2010 | 01:59 WITA

anarkisme tidak akan membawa kedamaian. dmn hati nurani kita, jika pemikiran kita hanyalah sebagai semantik yg melahirkan brutalisme?Salam damai!hargai pluralisme! Tite ata koli lolon hena. seba teka tenu ta'a reere,biar ribu ratu tie tawan dengan hati yg damai.

Komentar Oleh: Hasan Putra Lamaholot | Rabu, 24 Maret 2010 | 22:09 WITA

Semoga solusi yang terbaik dan kedua desa ini hidupa aman sebagai kakak-adik beneran dan tulus permanen. Kalau kakak-adik saling bunuh kan "mei nawa",itu solusinya berat.

Komentar Oleh: Frans Hena | Senin, 15 Maret 2010 | 10:44 WITA

untuk lewotanah, perang di selesaikan dengan kepala dingin. kia harus yakin bahwa, kita adalah satu. Nusa Tadon Adonara

Komentar Oleh: karol | Minggu, 14 Maret 2010 | 01:00 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 8 Februari 2012 | 12:35 WITA
Rabu, 8 Februari 2012 | 10:35 WITA
Rabu, 8 Februari 2012 | 10:14 WITA
Rabu, 8 Februari 2012 | 00:32 WITA