Protes itu disampaikan beberapa pelanggan, yakni Martinus Laure dari Kelurahan Kelapa Lima, dan Yuli dari Kelurahan Fontein serta beberapa pelanggan lainnya yang tidak mau menyebutkan namanya, saat ditemui Pos Kupang di kantor PDAM Kota Kupang, Rabu (10/3/2010).
Martinus Laure mengatakan, dia datang ke kantor PDAM Kota Kupang untuk mengklarifikasi karena rekening airnya tiba-tiba meningkat. "Bulan Desember 2009 saya hanya membayar Rp 41.000,00. Tiba-tiba bulan Februari pada saat saya mau bayar, rekening air membengkak menjadi Rp 153.500,00. Saya tidak jadi membayar karena pada waktu itu rekening juga belum dicetak. Hari ini saya datang, rekening juga belum dicetak," kritiknya.
Menurutnya, salah satu kelemahan PDAM Kota Kupang adalah pencetakan rekening air yang tergolong lambat.
Sementara Yuli mengatakan, bulan ini pembayaran rekeningnya agak menurun, tetapi sebelumnya pernah meningkat cukup tinggi. "Kadang rekening air sampai Rp 80.000,00 sampai Rp 125.000,00, padahal pemakaian kami tetap stabil. Kami tidak memiliki bak penampung, sehingga selama air jalan kami tadah air. Satu minggu jalan duakali, yaitu Senin dan Kamis selama tiga jam," kata Yuli.
Dia meminta agar pencatatan rekening air lebih bagus sehingga pelanggan tidak mengalami masalah seperti yang terjadi saat ini.
Mengenai pelayanan PDAM Kota Kupang, Yuli, Martinus dan juga ibu Uum dari Kelurahan Maulafa, mengakui, pelayanan sudah cukup bagus meskipun air tidak mengalir setiap hari.
Ibu Uum mengatakan, dia menjadi pelanggan PDAM Kota Kupang sejak PDAM dibentuk. Selama ini dia tidak mengalami masalah seperti membengkaknya rekening air karena pemakaian stabil.
Disaksikan Pos Kupang, beberapa pelanggan PDAM Kota Kupang terpaksa pulang karena rekening air belum dicetak sehingga mereka tidak bisa membayar air. Mereka mengharapkan agar di masa yang akan datang, pencetakan rekening air bisa lebih cepat sehingga pelanggan tidak perlu datang duakali. (ira)