»Home » Editorial » Opini »
Terima Kasih Pak Dan, Pak Frans-Esthon
Oleh Aco Manafe
Selasa, 9 Maret 2010 | 10:22 WITA

Pak Bupati Sikka berkeberatan karena sulitnya transportasi, apalagi hujan dan banjir sungai di Paga yang tanpa jembatan. Bagi saya buruknya cuaca, banjir, sulitnya tranportasi, realitas NTT dan hukum alam, maka bagaimanapun saya harus mencapai Paga-Wolofeo, sumber berita utama.

Dengan mengendarai sepeda motor sewaan, saya menerjang arus deras Sungai Paga, lalu berjalan kaki mendaki kelokan bukit hingga tiba di Wolofeo menjelang sore. Perasaan tersayat menyaksikan bocah-bocah yang kurus tiada berdaya terkena busung lapar, mirip kelaparan kronis di Etiopia-Afrika. Saya menyaksikan Suster Colson yang akrab disapa "Mama Belgi" menggendong anak-anak Wolofeo dengan penuh kasih sayang. Pak Lurah Wolofeo, Dami Djuang, pun keluar menyaksikan pemandangan naas itu.

Sekembalinya ke Maumere, studio foto setempat mencetak foto-foto kelaparan kronis Paga yang bersejarah itu. Paginya saya mencegat Kapten Pilot Dakota Zamrud Jack Rife, menitipkan berita dan foto musibah Wolofeo-Paga. Petangnya berita Paga terbaca di Jakarta. Pak Harto memimpin rapat kabinet dan memerintahkan Mensos Sapardjo segera menangani kasus Paga. Penderitaan rakyat Sikka mendapat perhatian penuh Presiden Soeharto, Mensos Sapardjo dan Gubernur NTT El Tari.

Kisah dramatis Paga tergubah dalam lagu berbahasa Sikka, berisi terima kasih kepada "Wartawan Manafe" yang menyiarkan penderitaan panjang mereka itu, dan karenanya mendapat perhatian nasional serta pemulihan. Berita bencana kelaparan di  Harian Sinar Harapan di Jakarta menghebohkan, bahkan dikutip media asing, termasuk Radio Australia.

Guratan nostalgia ini saya haturkan kepada Pak Dan Woda Palle, kepada warga Wolofeo-Paga yang saya cintai dan banggakan. Banyak pembaca di Nusantara menuliskan terima kasih dan pujian. Sejatinya pujian itu saya  kembalikan kepada rakyat Wolofeo-Paga, Pak Dan (dan mendiang El Tari) yang saya hormati. Lama tidak bersua, rindu pun takkan cukup tercurahkan, semoga terpenuhi melalui media terhormat ini. "Pak Dan, rindu saya kepada Wolofeo yang merintis ketenaran dan kemantapan  di dunia profesi saya. Sikka dan Wolofeo tetap abadi di sanubariku. Apalagi, ketika saya bertemu antropolog AS ahli Sikka, Prof Douglas Lewis, dan istrinya di Perth tahun 1984. Saya terkesima karena Prof Lewis ditilang denda 100 dolar gara-gara melampaui kecepatan normal ketika menjemput saya di Bandara Perth, lewat tengah malam!"
     

Untuk YM Arafat-Whitlam



Aura perbukitan Wolofeo dan Sungai Paga tetap terbayang serta menyemangati ketika saya menelusuri lorong-lorong peperangan di Beirut-Lebanon tahun 1982-1983 dan berhasil menemui Ketua Organisasi Pembebasan Palestina, Yasser Arafat dan istrinya, Suha Tawil. Keduanya berlindung di Universitas Arab-Beirut. Saya berterima kasih kepada Pemimpin PLO dan Presiden Palestina tersebut. Kalau menyeberangi sungai ke Paga, mendaki perbukitan Wolofeo butuh 3 jam, maka mencari Arafat harus menerbangi Samudera Hindia, menerobos ke Athena, ke Heathrow-London, memasuki garis demarkasi Siprus menumpang feri dan mendarat di Pelabuhan Younieh di bawah desingan peluru mortir dan rudal Israel. Saya diperingatkan Ms Nixon, aktivis LSM Amerika, betapa berbahayanya mitraliur pasukan Falangis, dan kemungkinan diculik milisi Mourabitoun. Dua tahun kemudian 1984, dengan tuntunan Dewan Gereja Timur Tengah, saya mencapai Kota Tripoli, 100 mil di utara Beirut, menyaksikan Yasser Arafat dan 12 ribu pasukannya yang didepak Israel keluar dari Lebanon menunju Tunisia.

Semuanya karena eksekutif HU Sinar Harapan yakin saya mampu menjalankan misi akbar Timur Tengah, seperti sukses di Paga, April 1977. Atau sukses menyusup ke Dili tahun 1975 meliput Revolusi Uniao Democratica Timorense pimpinan Joao Carrascalao dan mewawancarai Gubernur Portugis terakhir, Kolonel Lemos Pires.

Ketika saya keluar dari Hotel Mayflower di Beirut Barat, saya dibuntuti wartawan The Daily Telegraph, Inggris yang terus memonitor gerakan saya, untuk ikut menemukan persembunyian Ketua PLO Yasser Arafat.

Reporter terkemuka Inggris ini tewas tertembak dua tahun kemudian di San Salvador, front terpanas Amerika Latin. Saya masih tetap hidup karena perlindungan Bapa Sorgawi, disertai cinta kasih melalui nyanyian para murid di Wolofeo-Paga.

Wawancara dengan Arafat, Menpen Lebanon Mawla Rehman dan Panglima Pasukan Payung Prancis disiarkan Sinar Harapan, Jakarta. Sayang wawancara dengan Presiden Lebanon Bashir Gemayel gagal, karena Presiden Gemayel tewas terkena bom, sebelum wawancara terlaksana.


Melanglang Buana ke Australia


Setelah Beirut saya melanglang buana beberapa tahun ke benua kanguru dengan mengantongi beasiswa CAA, Deplu dan Dewan Gereja Australia. Banyak Indonesianis di Universitas Sydney, Universitas Monash dan Melbourne membantu saya, seperti Prof. James J Fox, ahli budaya Rote-Sabu, Prof. Jammy Mackie ahli China-Indonesia, Prof. Herbeth Feith, Prof. Peter Worseley, dan bahkan Prof. Gough Wthitlam, PM Australia yang juga guru besar politik di ANU-Universitas Nasional Australia. Saya membantu mengajar 'the evening class' yang pesertanya penerbang, resepsionis, dosen, wartawan dan kaum profesi yang tertarik kepada Indonesia.

Pak Dan memang sulit menahan tekad saya ke Paga, dan bolak balik yang butuh tenaga prima, serta waktu sehari penuh. Namun, untuk mewawancarai PM Australia Prof. Gough Whitlam, saya harus rajin melobi para petinggi ANU. Setelah menunggu tiga bulan di Sydney, muncul isyarat bahwa saya bisa mewawancarai PM Australia tersebut. Sekretarisnya mengingatkan saya hanya punya waktu 15 menit mewawancarai beliau. Firasat jurnalis saya muncul. Beberapa pertanyaan kunci terlontar, seperti: "Saya dengar YM justru menyetujui serangan Indonesia ke Timor Timur dalam tiga KTT YM dengan Presiden Soeharto-KTT Townsville, Wonosobo dan Denpasar! Benarkah?"

Pak Whitlam penasaran, menjawab agak gagap. Semua dokumen bukti dibukanya. Semua alasan diobral untuk menampik pertanyaan saya yang tajam, nakal dan secara etika diplomatik sebenarnya kurang wajar, bahkan bisa dinilai kurang sopan.

Sekretarisnya mengisyaratkan, waktu sudah melampaui 15 menit. PM Australia  'menguliahi saya' mulai soal invasi Indonesia hingga ke bantuan sapi-sapi brahman Australia untuk memurnikan sapi-sapi ongole di Indonesia, khususnya di Sumba. Wawancara saya diulas oleh penyiar Radio Australia Seksi Indonesia di Melbourne Mang Ebet Kadarusman. Wawancara berlanjut hingga 1 jam 20 menit. PM dari Partai Buruh tersebut kemudian mentraktir minum kopi di restoran Universitas terkemuka Australia di Ibu kota Canberra itu. Terima kasih saya juga kepada YM PM Gough Whitlam, meskipun Kedubes RI di Canberra menegur, mengapa saya mengenakan blangkon Solo saat mewawancarai PM Australia (termuat di media kampus).

Dalam menekuni profesi kewartawanan semuanya cenderung mulus. Di Jakarta, tahun 2008 saya diminta bantuan mengundang tiga Duta Besar Negara Arab, Gubernur Fauzi Bowo, ulama NU Solahuddin Wahid dan AM Fatwa merangkap Wakil Ketua MPR, mengunjungi mesjid kecil di Kepala Gading-Jakarta Utara. Saya mengenal dekat Dubes Mesir Dr. Mohamad Sayyad Taha, Dubes Palestina Ribhi Awad dan Fariz N Mehdawi, bahkan menjadi penerjemah mereka pada diskusi Front Nasional Jakarta serta seminar umat Kristen Jakarta. Beberapa bulan lalu saya mengantar Dubes Swedia Nyonya Ann Marie Bolin Pennegard dan suaminya Rev Bolin menemui Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dan santap siang di Sonaf Oepura, kediaman Wagub Ir. Esthon Funay. Kepada Pak Frans dan Pak Esthon, bahkan Bupati TTS Pak Mella, terimalah penghargaan saya.

Tahun 2007, Direktur Santa Ursula Jakarta pun meminta bantuan mengundang Dubes Polandia, Kacynzski, dan Dubes Pelestina, Ribhi Awab, di sekolah putri terkemuka Jakarta  itu. Para siswi di SMA Katolik dekat Lapangan Banteng, bebas mempraktikkan bahasa Inggris mereka dengan dua tamu agung negara sahabat.

Semua ini terinspirasi antara lain dari Paga-Sikka dengan semangat cinta kasih, dan keikhlasan mengabdi profesi. Sebagai orang NTT, saya bersyukur kepada Tuhan, karena berpengalaman dan belajar dari mewawancarai bapak-bapak, sehingga memenangkan beasiswa unggulan jurnalistik internasional tahun 1984-1985, untuk studi di Harvard University dan School of Law and Diplomacy Tuft University, AS.

Kepada pimpinan dan staf Harian Pos Kupang, khususnya mitra Damyan Godho dan para wartawan,  terimalah hormat, penghargaan dan salam profesi yang terdalam. Semoga amal bakti Anda selalu diberkati Tuhan Maha Pengasih. *


Wartawan Senior, tinggal di Jakarta

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 50 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Perjuangan kemanusiaan selalu mempunyai tempat dan ruang untuk memberikan waktu bertemu dan saling menguatkan untuk terus berjaung. Awal Maret 2010 merupakan waktu yang tidak disangka ketika orang Mama Belgi, Pak Daniel Woda Palled an Aco Manafe bertemu untuk saling bercerita tentang bagaimana perjuangan menyelamatkan kelaparan yang dialami oleh masyarakat di Wolofeo ( Lio ) pada Tahun 1976. Pertemuan dalam ruang dan dimensi yang berbeda. Ketika Aco Manafe menuliskan tentang bagaiman perjalanan kewartawanannya dalam opini di Pos Kupang ( 9 Maret 2010 ) dalam salah satu isinya tentang usaha menyelamatkan nyawa-nyawa anak manusia yang kelaparan di Wolofeo, Pak Aco Manafe mungkin tidak tahu pada tanggal 7 Maret 2010 Mama Belgi ( Mama Colson ) merayakan Ulang Tahun ke 75 dan dalam buku kecilnya mama Belgi menceritakan tentang bencana kelaparan di Wolofeo. Ketika diberi kesempatan sebagai sesepuh masyarakat Pak Daniel Woda Palle juga mencerikan kembali tentang bencana di Wolofeo. Tak disangka 3 orang bernostalgi. Mama Belgi telah tua, begitu juga bapa Dan Palle dan Bapa Aco Manafe. Mama Belgi telah menerima cincin Eman Kelas II dan Pemda NTT dan pada 17 Agustus 2010 akan menerima Cincin Emas dari Pemda Kab. Sikka. Buat Pa Aco Manafe jika membaca tulisan ini tolong email ke Mayus_woga@yahoo.com atau telp ke : mayus : 085239424594. Karena kami membutuhkan info dari bapa. Terima kasih.

Komentar Oleh: mayus woga | Selasa, 11 Mei 2010 | 11:13 WITA

Merenungkan tulisan opini Om Aco Manafe membawa saya pada satu kata kunci yakni "Ketulusan". Wolofeo-Paga merupakan titik misioner Om Aco dalam menyuarakan mereka yang voiceless. Sayang seribu sayang, situasi aparatur dulu masih tetap terlihat saat ini di NTT, yakni semangant sebagai "birokrat." Terima kasih Om Aco untuk ketulusan panggilan tersebut, seperti Mama Belgi yang di Paga tersebut...(Servulus Bobo Riti, anak Sumba di BNP2TKI/Depnaketrans/081381121968)

Komentar Oleh: Servulus Bobo Riti | Jumat, 19 Maret 2010 | 15:41 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Senin, 6 Februari 2012 | 09:50 WITA
Sabtu, 4 Februari 2012 | 09:02 WITA
Rabu, 1 Februari 2012 | 10:05 WITA
Selasa, 31 Januari 2012 | 09:19 WITA
Selasa, 31 Januari 2012 | 09:17 WITA