Dari: yang mengagumimu..
AYUMI nama gadis itu. Nama ini mirip nama orang Jepang. Tapi... akh, dia bukan orang Jepang. Ia tertegun memandangi sepucuk surat tanpa pengirim yang untuk kesekian kalinya didapatinya di atas meja ini. Ia tak pernah tahu orang yang mengiriminya surat-surat romantis itu.
Ayumi belum sekali pun bertanya pada teman-temannya atau pun kepada Adieth - sosok yang ada di hatinya - sejak dia menerima surat-surat itu dua bulan yang lalu. Selama dua bulan ini hampir setiap hari Ayumi menerima surat kaleng penuh ungkapan romantis yang kadang membuatnya tersenyum bahagia. Sejak pertama kali menerima surat, Ayumi selalu berusaha datang ke sekolah lebih awal supaya tak ada orang yang tahu kalau dia menerima surat-surat romantis. Ia sering bertanya dalam hatinya, kapan pengirim surat itu datang? Setiap dia tiba di sekolah, dia tak pernah bisa menjumpai orang itu. Hari ini, hari ini dia harus tahu siapa orang itu.
"Hai.. Ayumi," sapa seorang sahabatnya. Tita. Ya, Tita sahabat dekatnya yang selalu setia menemaninya. Tapi, Tita pun belum tahu soal surat-surat romantis itu. Ayumi yang terkejut mendengar sapaan Tita itu tak sempat lagi menyembunyikan surat yang ada di tangannya.
Tita tersenyum. Mendekatinya lalu merangkulnya, "Happy valentine, Ay.."
"Happy valentine too," balas Ayumi.
"Surat dari Adieth, ya?" tanya Tita. "Hari valentine begini memang kalian yang sudah punya pasangan pasti bahagia."
Mereka tak bisa melanjutkan percakapan mereka karena teman-temannya mulai berdatangan. Mereka saling mengucapkan happy valentine. Ada yang saling bertukar kado tetapi ada yang hanya saling bertukar ciuman pipi dan kening, tak ada yang berani sampai ciuman bibir.
"Ti, kita ke kantin sebentar!" ajak Ayumi. "Aku ingin bicarakan sesuatu dengan kamu."
"Tapi..." Tita tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Ayumi sudah menarik tangannya. Mereka melangkah tergesa memasuki kantin dan mengambil tempat agak ke pojok, supaya tak terganggu anak-anak lain yang sedang bersenda gurau. Maklumlah, valentine day.
"Ada apa, Ay? Sepertinya penting sekali!" Tita tak sabar ingin tahu, ketika mereka sudah duduk di tempat yang mereka pilih.
"Kamu mau tahu surat ini kan?" tanya Ayumi.
"Ah, tak perlu. Itu kan surat dari Adieth."
"Bukan. Ini bukan dari Adieth," Ayumi menyodorkan surat itu pada Tita yang langsung serius membacanya.
Hening.
"Siapa penulisnya?" tanya Tita.
"Mana aku tahu. Kalau aku tahu pasti aku tak akan menceritakannya ke kamu."
"Lalu.."
"Begini, Ta. Aku ingin kamu membantuku mencari tahu siapa pengirim surat ini. Aku muak diperlakukan seperti ini. Masa sih masih ada laki-laki yang penakut seperti ini. Hanya berani surat-suratan."
Hening.
"Jangan-jangan ini idenya Adieth?" Tita mencoba menarik kesimpulan. Sekarang kan valentine. Mungkin ini kejutan dari dia.
"Itu tidak mungkin karena surat seperti ini aku terima hampir setiap hari sejak dua bulan yang lalu. Aku juga tahu, Adieth tak terlalu suka mengungkapkan perasaannya lewat surat. Dia.."
"Kalau menurutku, tetap Adieth. Mungkin dia hanya mau melakukan sesuatu yang berbeda."
Hening.
"Coba kamu baca dulu bagian awal surat ini," ujar Ayumi perlahan. "Si penulis belum tahu kalau aku sudah punya kekasih. Dia bilang aku bunga yang belum dipetik."
"Iya juga, ya," ujar Tita beberapa saat kemudian. Ia mengangguk perlahan.
"Lambat loading sih," lalu keduanya tertawa keras. Mereka lalu memesan minuman ringan.
"Kamu mau kan membantuku?"
Tita belum sempat menjawab ketika Adieth muncul.
"Happy valentine, sayang!" ujar Adieth lalu langsung mengecup lembut kening Ayumi. Ia lalu berjabatan tangan (saja) dengan Tita.
"Aku, ku permisi," ujar Tita hendak meninggalkan mereka.
"Jangan, Ta. Aku ingin bicarakan satu hal dengan kalian berdua," Adieth menahan Tita yang hendak pergi. Dia lalu duduk di salah satu kursi yang ada, tepat di samping Ayumi.
"Maksud kamu?" tanya Tita yang merasa tak enak berada dekat dengan pasangan ini.
"Ta, apa kamu benar-benar mencintai Valentino?" tanya Adieth serius.
Hening. Tita tersipu. Ayumi masih tak mengerti.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Tita. Ia kebingungan karena Adieth ternyata mengetahui perasaannya. Padahal Ayumi pun tak pernah ia beritahu.
"Aku tak perlu menjelaskannya. Benar kan kamu mencintai dia?" tanya Adieth lagi. Tita mengangguk perlahan.
Hening.
"Ay, sudah dua bulan ini kamu menerima surat-surat kan?" tanya Adieth. Ayumi tertegun. Jadi, Adieth sudah tahu.
"A...ku," Ayumi kebingungan.
"Jujurlah, Ay. Aku sudah tahu soal surat-surat itu karena, karena aku yang meletakkannya di atas meja belajarmu di kelas."
Adieth lalu terdiam.
Ayumi tersenyum memandangi Tita.
"Jadi kamu penulis surat-surat itu?" Ada nada ceria dalam suaranya. Tita bangun dari duduknya hendak pergi tapi Adieth memberi tanda supaya dia tetap di tempatnya.
"Bu.. bukan aku yang menulis surat itu tapi..."
"Siapa?" tanya Ayumi tak sabar bercampur kecewa karena bukan Adieth yang menulis surat itu.
"Valentino," ujaran Adieth membuat Ayumi dan Tita terpana. Tertegun, tak mampu berbuat apa-apa. Lonceng tanda pelajaran akan dimulai berdentang.
"Kita tetap di sini!" kata Adieth singkat.
"Ja, jadi," Ayumi kehabisan kata-kata. Valentino? Ia tak pernah merasa mencintai Valentino. Valentino memang baik, menarik, tapi ia tak sedikitpun ingin menjadikannya lebih dari sekedar teman kelas. Hanya Adieth-lah yang ingin dicintainya.
"Maafkan aku, Ta, Ay. Selama ini aku tak pernah cerita pada kalian. Valentino sekarang tinggal di rumahku karena di sini dia tak punya keluarga. Ayah dan ibunya sudah meninggal dan ia dibesarkan di sebuah panti asuhan yang saat ini sudah tutup lantaran kehilangan para donaturnya. Valentino memintaku merahasiakan semuanya karena dia, dia mengagumi kamu, Ay, dan ingin sekali mengungkapkan rasa cintanya. Sampai saat ini dia belum tahu kalau aku - sahabatnya sendiri - adalah kekasih Ayumi. Dia juga belum tahu kalau kamu begitu mencintai dia, Ta."
Hening.
"Lalu ke mana Valentino?" tanya Tita. Adieth tak menjawab. Diraihnya surat yang masih ada di atas meja itu dan membacanya.
"Aku tak pernah tahu isi suratnya dan," Adieth tertegun memandangi kalimat terakhir surat itu, tidak! Ki, kita harus menemui dia!"
"Tapi, Dieth.." kata-kata Ayumi tertahan.
"Aku sudah atur semuanya. Kita bolos hari ini."
"Itu aku tahu. Kita memang pasti akan bolos. Tapi, bagaimana aku harus bersikap. Aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku tak men..."
"Sudahlah, Ay. Aku juga tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, kamu tak perlu cemas karena kita pergi bersama orang yang mencintainya," Adieth memaksakan tersenyum.
Mereka memang bolos dan ini untuk pertama kalinya mereka bolos. Tak apalah. Hal terpenting adalah aku bisa membahagiakan Valentino di hari valentine ini, ujar Adieth dalam hatinya.
***
Rumah Adieth sudah tampak sepi. Kedua orangtuanya pasti sudah berangkat kerja. Adieth membuka pintu rumahnya lalu langsung mengajak Ayumi dan Tita masuk. Mereka melangkah perlahan menuju sebuah kamar. Mungkin kamar Valentino. Ayumi dan Tita saling pandang. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa Valentino sudah hampir dua minggu ini tak masuk sekolah. Adieth membuka pintu kamar itu dan...
"Hai, Len," sapa Adieth. Valentino berbalik dan tertegun. Ia berbaring tak berdaya. Tubuhnya kurus, tampak tak berdaya. Ayumi menahan nafas. Tita hampir menangis.
"Happy valentine, friend," ujar Ayumi dan Tita lalu berjabatan tangan dengan Valentino. Mereka duduk di sisi pembaringan Valentino.
"Len, aku hanya bisa membawa Ayumi dan Tita ke sini sebagai kado valentine buat kamu. Aku.."
"Te, terima kasih, Dieth," ujar Valentino terbata-bata.
Hening.
"Ay, ka.. kamu sudah ba.. baca suratku kan?" tanya Valentino.
Ayumi mengangguk perlahan.
Valentine tersenyum.
Tita sedih.
"Ay.. aku memang sangat mengagumi..mu. Ta.. tapi aku tak tahu kamu tak mencinta... mencintaiku melainkan mencintai A... Adieth.."
Adieth terkejut. Dia tak tahu kalau Valentino sudah mengetahui hubungannya dengan Ayumi. Tak sadar Adieth sudah meneteskan airmata.
"Ta, tadi waktu ka, kamu berangkat ke sekolah, aku coba melihat-lihat ke kamarmu karena a.. aku tahu aku a..akan pergi jauh."
Adieth mendekati ranjang Valentino dan menggenggam erat tangan Valentino.
"Kamu tak boleh bicara begitu, Len," Adieth berkata perlahan," ma..maafkan aku."
Adieth terisak. Ayumi dan Tita menangis dalam diam.
"A.. aku minta maaaf sudah membaca diary-mu. Aku juga minta maaf pernah mengagumimu, Ay. Aku memang tak pantas dicintai. Tak àda yang bisa...."
"Tapi aku mencintaimu, Len," Tita berujar di tengah tangisnya. Ayumi semakin tertunduk. Valentine tertegun sejenak.
"Carilah orang lain yang llebih pantas untuk dicintai. Aku akan pergi..."
"Tidak, Len! Kami akan membawamu ke rumah sakit. Kamu akan sembuh dan, dan kita akan terus bersama..." Tita tak melanjutkan kata-katanya karena Valentino sudah terdiam. Dia tak lagi bernafas. Nyawanya sudah pamit, pulang kepada sang Mahaada.
Tita merangkul Ayumi.
"Mengapa, Ay, cintaku pergi saat aku begitu ingin ia ada di dekatku?" Tita terisak meratapi nasibnya.
"Maafkan aku, Len," ujar Adieth. Masih terisak.
Hening alam sekitar.
Hanya tangis yang terdengar.
"Selamat jalan, Len. Maafkan aku," ujar Ayumi dalam hatinya. Ia hanya menangis dalam diam. Sedih merenungi kisah tragis Valentino di valentine day. Tuhan, terimalah jiwanya dalam bahagia-Mu. Amin.
Weruoret, 2 Februari 2009