Dan itu sudah dilakukan tim kesenian asal Sabu Raijua yang tampil di Hotel Shanti-Denpasar dan Bali Dance Festival Jimbaran-Bali 25 Januari 2010. Grup kesenian yang dipimpin Fritz B Mone ini tampil dalam Perayaan HUT 25 Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali.
Acara yang di gelar salah seorang putra Sabu di Bali, Daniel Mone, S.E yang juga owner Bravo Indonesia Tour & Travel ini mendapat sambutan dan pujian dari para wisatawan.
Wisatawan mancanegara memuji tarian ini. "Fantastic dance". Itulah ungkapan spontan dari mulut Suzan Smith, wisatawan asal Belanda yang menyaksikan tarian tersebut. Dia juga memuji Tarian Ledo yang dipertontonkan di Bali Dance Festival Jimbaran-Bali, 25 Januari 2010 lalu.
Lain lagi apresiasi Reene, wanita asal Melbourne Australia, "I Hope some day, saya akan datang to Sabu Island," katanya dalam bahasa Inggris campur bahasa Indonesia.
Wanita Australia ini mengetahui tentang Sabu dan tarian Pado'a-nya dari brosur-brosur yang ada di sejumlah hotel atau agen perjalanan wisata di Bali.
Putra NTT di Bali, Mario Kundus mengatakan, di mata wisatawan, Bali Dance Festival Jimbaran Bali merupakan salah satu tempat yang sering menyajikan tarian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga selalu menjadi salah satu tempat incaran wisatawan mancanegara maupun domestik yang kebetulan berlibur di Bali.
Penampilan tim kesenian Sabu di tempat ini diawali dengan tarian Ledo, sebuah tarian sebagai ungkapan selamat datang sekaligus menunjukkan keramahan yang tulus dari orang Sabu kepada setiap tamu. Keceriaan dan kelincahan para penari menarik perhatian para penonton.
Para penonton semakin terpikat ketika tim kesenian ini mulai memperagakan tarian pado'a. Tarian tersebut seakan akan menghipnotis semua pengunjung. Gerakan gerakan lincah dan dinamis dipertontonkan oleh para penari memperlihatkan jati diri orang Sabu yang sebenarnya.
Acara terus berlanjut dan puncaknya ketika para tamu dari berbagai negara seperti India, Belanda, Swedia, dan Australia ini dipersilahkan untuk bergabung dalam tarian Pado'a. Walaupun agak kaku awalnya, namun dalam waktu singkat mereka bisa mengikuti irama Pado'a.
Sebuah pemandangan indah yang mengajarkan simponi kehidupan yang indah antar berbagai suku, agama dan ras. Itulah salah satu nilai yang bisa dipetik dari tari padoa, dimana semua orang bisa saling berdekatan, bergandengan tangan, bahkan berangkulan dalam lingkaran (irama) kehidupan yang indah.
Para penari ini juga mengajak para pengunjung untuk menari bersama bahkan para para penari dan warga Sabu mulai mengajak para wisatawan untuk berkunjung ke pulau asal tarian ini, Pulau Sabu. Sebab dengan berkunjung langsung ke Sabu, wisatawan bisa melihat lebih banyak. Pulau Sabu bukan hanya menyimpan wisata budaya saja melainkan wisman bisa menikmati wisata alam dan wisata bahari.
Walaupun decak kagum diberikan oleh wisatawan baik mancanegara maupun domestic bagi penari asal Sabu ini, namun sangat disayangkan masih belum adanya perhatian dari pemda setempat yang justru akan menikmati hasil dari promosi tersebut.
"Kami sudah berupaya untuk mengontak Pemda setempat melalui perwakilan yang ada di Kupang, namun mungkin di mata pemda masih melihat-lihat dulu...karena masih ada skala prioritas lainnya yang harus dilakukan," kata Daniel Mone.
Daniel Mone dan Bravo Indonesia Tour & Travel Bali yang menjadi salah satu sponsor dalam acara ini mengatakan, "Kurangnya perhatian dari Pemda tidak akan menyurutkan semangat kami. Walaupun upaya ini terbilang masih sangat kecil, namun itulah setitik upaya orang Sabu di Bali, terutama Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali".
Sudah saatnya kita mulai dan belum ada kata terlambat untuk melakukan kolaborasi guna mempromosikan keunggulan NTT di Pulau Dewata. (alf/*)
The Island of Paradise
ADA Ungkapan yang mengatakan kalau ingin mempromosikan budaya, maka datanglah ke Bali. Sebab Bali adalah surganya pariwisata dunia. Bali memang dikenal sebagai The Island of Paradise dan menjadi tempat awal kedatangan wisatwan mancanegara sebelum mereka mencari tempat-tempat wisata yang lain untuk berlibur.
Ungkapan inilah yang mengilhami salah seorang anak Sabu, Daniel Mone, SE yang juga owner Bravo Indonesia Tour & Travel di Bali. Obsesi yang sudah lama dipendam sejak 25 tahun lalu ketika pertama kali ke Bali untuk melanjutkan kuliah di Undiknas Denpasar tahun 1986 yang lalu.
Akhirnya keinginan tersebut baru terwujud ketika Daniel, sapaan akrabnya, ditunjuk menjadi ketua Panitia HUT 25 Tahun Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali 23 Januari 2010 lalu. Melalui perjuangan panjang, akhirnya panitia berhasil mendatangkan tim kesenian Sabu sejumlah 25 orang melalui jalur penerbangan yang sudah tentu memakan biaya yang cukup mahal.
"Kalau bicara soal biaya, ya relatiflah, namun yang terpenting adalah niat. Setiap niat yang tulus pasti selalu ada jalan," katanya.
Dan usahanya membuahkan hasil. Justru dengan kedatangan tim kesenian dari Sabu itu yang menjadikan perayaan HUT 25 Perhimpunan Keluarga Suka Duka KOLORAI HAWU Bali menjadi berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya.
Dengan make up seadanya mereka berhasil memukau warga Sabu di Bali yang kebanyakan adalah orang Sabu kelahiran Bali dan masih banyak diantaranya yang belum pernah ke Pulau Sabu, tanah tumpah darah tercinta.
Seperti diungkapkan Mince, wanita asal Sabu kelahiran Bali yang sama sekali belum pernah ke Sabu. Begitupun Janet Sulaeman, wanita asal Manado yang bersuamikan Jefry Rade asal Sabu. "Minimal saya bisa melihat dan memahami karateristik orang Sabu berupa sifat dan keramahan-tamahan, keceriaan, serta keterbukan walaupun hanya ditunjukan melalui tarian ledo dan pado'a," kata Janet. (alf/*)
Memang kalo mau berharap pemerintah ya lama pak..pemerintah kan suka slow motion gituuu!!! hehehe.. Salut buat pak Daniel Mone,dkk yang mau keluar biaya untuk promosi budaya Sabu. Budaya Sabu dan pemandangan alamnya memang eksotik dan patut dipromosikan... tetap berjuang pak...