»Home » PK Minggu » Cerpen »
Alfred Dama
Take Me Out Flobamora
Cerpen Amanche Franck
Minggu, 21 Februari 2010 | 22:18 WITA




Aku orang baik. Apalagi aku dilahirkan dari keluarga taat beriman, dengan lingkungan desa yang penuh tata krama, sopan santun, dan sejenisnya. Yang lebih penting kalian semua tahu, Aku adalah Lipus si anak desa yang baik.

Akhir-akhir ini aku lagi kecewa bahkan stress karena diputus kekasih idamanku, wanita tercantik di seluruh jagat desa kami. Merry namanya. Merry pun anak desa. Kecantikan dan  keanggunannyalah yang membuat aku bahkan nyaris tak tidur nyenyak semalam suntuk.

Merry, bukan hanya sebuah nama, lebih dari itu Merry adalah seluruh hidupku. Entah setan siapa yang sedang merasuki hati si Merry akhir-akhir ini, sehingga dia mengambil keputusan di luar dugaan. Dia memutuskan aku, Lipus kekasih hatinya.

Aku bukanlah Lipus, kalau aku hanya pasrah pada keputusan Merry. Aku harus bangkit dan bergerak. Dan aku telah memutuskan sesuatu yang di luar kebiasaan adat-istiadat kampung kami. Aku ikut dalam sebuah acara pemilihan jodoh di ibu kota propinsi kami. Acara apalagi kalau bukan TAKE ME OUT FLOBAMORA. Acara ini adalah kesempatan bagi para pria belum menikah untuk mencari jodoh.

Tentu aku harus mempersiapkan diri, karena selain pencarian jodoh acara ini adalah ajang pertaruhan harga diri sebagai lelaki. Aku pun memutuskan untuk merelakan beberapa ekor babi yang sudah layak jual demi biaya menuju ibukota propinsi. Anak desa harus bisa. Begitu pikirku.

Aku akan membuktikannya. Wajahku tak terlalu jelek, walaupun sudah kukatakan biasa-biasa tadi, penghasilanku memang tergantung pada omzet penjualan babi.

Namun siapa bilang babi-babi kampung tak laku di pasaran hewan korban saat ini, Jadi dari segi penghasilan aku terbilang mapan. Kalau dilihat dari kepribadian, aku pun tak kalah saing dari peserta lain, Aku baik. Aku tak pernah sekalipun terlibat urusan dengan kepolisian karena masalah kriminal.

Di desaku, aku bahkan adalah pemuda teladan yang ulet beriman dan mapan. Ini pun pernah disinggung kepala desa kami saat membagi jatah beras sumbangan untuk beberapa pemuda gelandangan di kampung kami.
Ada satu hal yang perlu dipersiapkan dalam mengikuti ajang bergengsi ini.

Aku pasti kalah dalam hal penampilan, khususnya dalam hal tata busana, tata rambut, dan tata gerak. Maklum aku orang desa yang jauh dari hal-hal ini. Busanaku tergolong sederhana, walaupun telah kukatakan bahwa aku adalah pengusaha babi.

Busana terbaikku adalah jeans biru kaki kecil, dipadu baju putih lengan panjang, itu pun pemberian Merry mantan kekasihku, saat aku merayakan ulang tahun. Soal rambut pun, pasti aku kalah jauh. Potongan rambutku adalah model tahun 1980-an, lebih mirip seorang penyanyi daerah kami.

Belah tengah tipis samping. Demikian model rambut di desa kami pada umumnya. Untuk tata gerak, aduh... ini pun parah. Aku bisa dikatakan kaku. Sekali lagi maklum. Anak desa hanya terbiasa dengan gerak yang itu-itu saja. Penampilanku perlu dibenahi.

Aku adalah Lipus, yang tak kenal putus asa. Lipus anak desa harus bisa. Aku pun meminta bantuan Anis, seorang anak desa kami yang pernah kuliah di ibukota propinsi. Sebagai mantan anak kota propinsi, Anis pasti sedikit tahu tentang penampilan alias performance. Anis juga tahu secuil tentang gaya busana anak kota dari dulu hingga sekarang. Anis kini kuangkat menjadi manager-ku sekaligus sebagai penata busana, rambut dan gerakku.

Persiapan satu minggu cukup. Anis sudah tahu strategi. Kami pun meluangkan waktu menyaksikan acara Take Me Out Flobamora sebelum nantinya aku sendiri tampil pada perhelatan cari jodoh ini. Aku bisa pasang target.

Pria-pria yang mendapat jodoh pada acara ini pun bisa kubandingkan dengan diriku, Malah ada seorang pengusaha ojek kampung mendapat seorang penyanyi lokal yang centil. Aku dan Anis pun berbenah. Anis sudah mendaftarkan aku beberapa hari yang lalu.

Untuk busana, Anis memilih celana tissue warna hitam jahitan Pak Yonas penjahit ternama kampung kami. Untuk baju, aku memilih lengan panjang merah muda, agar kelihatan romantis, ini pun atas usul Anis penata busanaku.

Tak lupa, Anis menambah jas hitam model terbaru berharga ratusan ribu. Katanya, jas akan semakin menunjukkan identitasku sebagai pengusaha babi yang kaya. Untuk sepatu, aku selalu percaya sepatu hitam kulit buaya bermuka tikus, berujung lancip. Sepatu ini peninggalan almarhum kakekku, saat ia bersanding dengan nenek di pelaminan puluhan tahun yang lalu.

Aku semakin percaya diri. Aku sudah siap diri. Penampilanku semakin mantap. Aku bahkan meminta beberapa ibu pengerak PKK desa kami untuk menilai penampilanku sebelum tampil. Mereka semua katakan, 90% siap tempur.

***
Hari penampilanku di Take Me Out Flobamora sudah tiba. Kami pun berangkat pagi-pagi sebelum banyak warga desa kami bangun dari tidur. Aku membawa banyak pendukung. Para sahabat, tetangga, dan kenalan di kampungku turut serta. Ada sahabat-sahabatku Eudes, Patris, Donatus, Melky, Arnold, dan Dami.

Ada juga Aci Ira, Aci Vera, Tanta Mina, dan ToÆo Hero tetangga dekat kami. Tak lupa pula Istri kepala desa kami yang setia mendukung aku dalam ajang bergengsi ini. Memang, aku adalah utusan desa kami. Kami menumpang truk kuning, salah satu alat transportasi usaha babiku.

Menurut informasi Anis manager-ku, acara ini akan berlangsung di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di propinsi kami, tepat di jantung ibukota. Kami tiba, saat matahari menyentuh ufuk barat. Acara Take Me Out Flobamora akan dimulai pukul 06.00. Aku masih punya kesempatan sejam untuk persiapan akhir. Aku dan Anis menuju ruang ganti yang dipersiapkan panitia acara.

Para pendukungku sudah masuk untuk cepat mendapat jatah kursi. Mereka bahkan membawa bendera, dan spanduk bertuliskan: Hidup Lipus!! Anak desa!! Mainkan dia Lipus!! Menurut desas-desus acara ini akan dihadiri Miss Flobamora, bahkan bapak gubernur dan beberapa pejabat. Aku adalah satu-satunya peserta dari luar kota.

Tentu banyak yang ingin tahu siapa pria bau kampung yang berani melamar gadis-gadis kota propinsi?? Di ruang ganti, hampir semua peserta sudah hadir. Kebanyakan dari mereka  adalah pemuda-pemuda tampan dari kota. Umur mereka masih sangat muda.

Pekerjaan pun lumayan. Ada pengusaha elektronik, dokter, penyanyi lokal, pemilik toko, pemilik rumah makan, dan masih banyak yang lainnya. Hanya ada satu duda, namanya Om Tinus, yang ikut acara itu. Istrinya mati setahun silam, meninggalkan beliau dan dua anaknya.

Aku adalah peserta nomor satu yang harus tampil malam ini. Tepat pukul 06.00 acara Take Me Out Flobamora dimulai. Aku sudah siap. Jas hitam ,baju lengan panjang merah muda, dipadu cela panjang tissue hitam. Itulah busana favoritku. Aroma minyak kelapa, khas kampung yang tak lupa kuusap di tipis samping rambutku semerbak harum memenuhi ruang ganti. Anis managerku, tak lupa menyemprotkan minyak wangi cendana di sela-sela ketiak bajuku. Auraku malam itu adalah aura desa yang mempesona. Aku sudah siap.

Pembawa acara masih sibuk menyapa para undangan yang sudah  berjubel di depan dan sisi panggung.

 Setelah itu, dari corong terdengar jelas namaku dipanggil. Lipusà.. Anak desa, pencari jodoh yang datang dari nun jauh. Alunan musik daerahku sengaja dipilih mengiringi tapak kakiku menuju panggung utama. Lipus, anak desa telah tampil. Aku menebar senyuman manis-manis gula air kepada semua penonton.

Tak lupa aku membungkukkan badanku pada gadis-gadis yang sudah terpilih menjadi ratu malam itu. Aku menuju panggung utama. Sorakkan dan gemuruh penonton pecah, sayup-sayup para pendunukung menyeru namaku. Lipuss....Lipuss....

Aku menyalami pembawa acara itu, seorang pria ganteng berwajah blasteran

Flobamora. Aku diminta untuk lansung menyapa dan memperkenalkan diri kepada 30 wanita cantik dari seluruh flobamora. " Hei Nona-nona Flobamora. Aku Lipus. Umur 27 tahun. Pengusaha babi. Aku hanya ingin seorang wanita yang mau mengerti aku. Sudi kiranya jangan matikan lampuàö Demikian perkenalan ku.

Pembawa acara meminta para nona menentukan pilihan mereka. Satu lampu mati. Dua, tigaà empat.. lampu, seterusnya sampai 20 lampu mati. Ini bagian pertama kesempatan untuk memilih. Aku tenang-tenang saja masih ada sepuluh yang bertahan, dan hampir semuanya cantik. Pembawa acara menghampiri seorang yang mematikan lampu untuk tidak memilih aku.

Rupanya ia gadis blasteran Rote Timor. ô Aku tak suka pengusaha babià. Bau babià..ö begitu komentar sinisnya. Aku santai. Ku lirik kearah nona berambut sebahu itu. Namanya, Dorce. Komentar yang kedua ini juga sama sinisnya, datangnya dari seorang gadis peranakan Belu-Sabu, kelahiran SoÆe. "Malas ahh", dia kelihatan kampungan dan bau lokalàö. Aku  senyum tersipu sambil menahan amarah bak ombak laut Timor yang bergemuruh di dadaku. Tak apa masih ada bagian dua, untuk sepuluh wanita cantik. Dengan tak berlama-lama pria pembawa acara tersebut memintaku mengurai kehidupan pribadi. Aku langsung sambar. " Baik nona-nona, penghasilanku, rata-rata tiga juta rupiah per bulan, dari hasil penjualan bibit babi, belum ditambah penjualan babi-babi dewasa. Aku hanya ingin wanita yang mengerti babi dan pengusaha babi serta yang pandai mengolah pangan lokal. Demikianlah, kalau ada sumur di ladang boleh aku menumpang cuci. Kalau ada nona yang mau sambutlah aku sepenuh hati.."
"Tentukan pilihanmu sekarangà..ö sambung pembawa acara. Tetàà Tetà. Tettàà.satu persatu lampu mati. Ku lihat dan ku hitung lampu yang tersisa, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Mati semuaàà.  Gila. Lampu di pusat perbelanjaan, tempat acara Take Me Out Flobamora digelar pun ikut padam. Lampu seluruh kota propinsi ikut-ikutan padam. Gila. Benar-benar gila. Aku Lipus tidak percaya, tidak berdaya.

Aku pulang ke kampungku malam itu juga bersama seluruh pendukungku. Sepanjang perjalanan hanyalah diam membisu. Aku lebih tak percaya ketika sampai di kampungku, banyak di antara gadis-gadis yang mematikan lampu gas di rumah mereka.

Aku Lipus. Umurku 27 tahun, seorang pengusaha babi. Adakah yang memilih aku FLOBAMORA?? *

* Terinspirasi dari acara Take Me Out Indonesia, dengan Pembawa acara Choki Sitohang. Dipersembahkan untuk penggemar acara ini dan mereka yang menikmati hidup sebagai pilihan.

* Komunitas Sastra Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui.

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 79 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 2 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Yang penting kita menjadi diri sendiri, Lipus. Mantap.

Komentar Oleh: Jack | Rabu, 23 Maret 2011 | 10:00 WITA

lipus on ush toe dgn perempuan2 gila donk....lu pasti dapat org yg lebih bae dr dong,ok? keep it up!!!! gbu

Komentar Oleh: megi | Minggu, 28 Februari 2010 | 10:07 WITA

maju trus om Lipus.....be dukung....tunjukan bahwa anak desa pasti bisa....seperti kata Shobat Dani...kita anak kupang..terlalu takut ma gensi..hrs berani....

Komentar Oleh: Martin Seran | Minggu, 28 Februari 2010 | 06:08 WITA

Wkwkwkwkwkwkwkkkk,.... piara babi???jadi ingat waktu masih di seminari st. rafael,...sond tau kalo skrg babi dong masih ada atau su musnah smua a very nice short story,.... LANJUTKAN Take me out seminari *_*

Komentar Oleh: John de Britto | Sabtu, 27 Februari 2010 | 19:49 WITA

maen sang dia lipus....itu dolu baru namanya ana kupang yang sd taku gensi..karna kelemahan katong pung ana muda kupang hanya gensi..sd mau karja yang kotor2 maunya abis lulus cm piko ijasah ko lamar pegwai negri...!! susa jd wirausaha...susa mandiri...sukses ya lipus....

Komentar Oleh: danil | Senin, 22 Februari 2010 | 20:47 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Minggu, 29 Januari 2012 | 21:56 WITA
Senin, 23 Januari 2012 | 13:34 WITA
Minggu, 15 Januari 2012 | 20:34 WITA
Senin, 9 Januari 2012 | 00:49 WITA
Minggu, 18 Desember 2011 | 21:22 WITA