»Home » PK Minggu » Community »
Muklis Alwi
Whats Up Radio, Tempat Tongkrongnya Anak Muda Kota SoE
Foto Dokumentasi
Komunitas Anak Nongkrong di Radio Whats Up SoE
Sabtu, 20 Februari 2010 | 14:10 WITA


Salah satu tempat tongkrong favorit untuk menambahkan teman dan melakukan aneka kegiatan positif anak-anak muda gaul di Kota SoE adalah studio Radio What's Up yang terletak di depan terminal lama Kota SoE.

Tongkrong bagi fans dan pendengar setia radio tak hanya duduk terpaku mendengar cuap-cuapnya penyiar dan lantunan lagu-lagu pilihan. Bahkan fans dan para pendengar sering datang untuk tongkrong bersama VJ (penyiar, Red) Radio What's Up.

Tak sekadar tongkrong, para fans dan pendengar sering berkeluh-kesah, berbagi pengalaman dengan VJ dan memberikan masukan bagi majunya Radio What's Up. Kedekatan VJ dengan pendengar menjadikan manajemen tersebut menggagas melibatkan fans untuk satu acara anak muda.

"Kedekatan para fans dan VJ menjadikan kami sebagai anak nongkrong merasa memiliki radio ini. Tak pelak, berbagai event kegiatan yang disponsori radio ini sering melibatkan anak nongkrong," kata Ina Dima, salah satu anak tongkrong yang tinggal di Kota SoE.


Komunitas anak muda SoE terbentuk karena seringnya tongkrong di tempat ini. Mereka memiliki kesamaan yaitu sebagai pendengar setia radio ini.

 Ina yang sudah menjadi fans Radio What's Up sejak tahun 2004 merasakan cocok tatkala pertama kali mendengar para VJ dan acara yang disiarkan. Lantaran cocok akhirnya ia memberanikan diri datang ke studio untuk berjumpa darat dengan para VJ.

Setelah berbincang lama, kata Ina, akhirnya dia ketagihan untuk datang ke studio. Sikap terbuka dan menerima apa adanya yang ditunjukkan para fans menjadikan ia betah berjam-jam tongkrong di studio What's Up. 

"Kita di sini yang tidak tahu, tetapi akhirnya jadi tahu dan bisa maju selangkah ke depan," tandas Ina sambil menyatakan acara yang disukainya Planet What's Up dan SoE Tommorow.

Lain halnya dengan Ina, Gracella dan Deda dipertemukan untuk berpacaran gara-gara sama-sama suka tongkrong di radio tersebut. Bahkan pasangan itu bangga lantaran ikatan pacaran mereka diketahui seantero anak-anak yang sering tongkrong dan mendengar siaran Radio What's Up.

Bukan sekadar itu saja, lantaran jadian di Radio What's Up, para VJ-nya sering mengajak mereka berdua untuk siaran bareng dalam program Nongkrong bersama VJ. Bahkan keduanya pun manjadi kecanduan untuk bercuap-cuap di depan mikrofon bersama VJ atau penyiar.


"Aku pertama kali gugup. Tetapi lama-kelamaan enjoy juga kok.  Bahkan orangtuaku jadi suka dan sering mendengar lagunya radio What's Up. Ke depan aku ingin menyiar seperti itu," tandas Gracella yang masih duduk kelas I SMKN 2 SoE.

Pratama, fans lainnya, mengatakan kegemarannya tongkrong di Radio What's Up menjadikan dia memiliki banyak teman dan kini ia pun bergabung dalam komunitas pendengar.

Bukan hanya itu, ia pun bangga lantaran sering diikutkan sebagai panitia langsung dalam satu acara yang disponsori radio tersebut.
"Terakhir kami dilibatkan dalam acara donor darah saat ulang tahun radio ini yang keempat," jelas Pratama.

Pratama menambahkan, persoalan-persoalan pribadi yang dia alami pun sering mendapatkan solusi dari VJ atau penyiar yang mendengarkan curhat-nya. Baginya, radio dan para VJ-nya dianggap sebagai keluarga sendiri.

Pratama mengakui mengenal Radio What's Up dari temen-temannya yang sudah lebih dahulu tongkrong di radio tersebut. Saat datang ke radio pun ia sering menjumpai para fans lain yang akhirnya bisa dijadikan teman.

"Sebagai ungkapan terima kasih pada What's Up dan krunya, saat ulang tahun kami para fans datang langsung ke studio untuk memberikan selamat dan bertemu dengan pendengar lainnya. Bukan hanya itu, berbagai kado unik dari teman-teman tongkrong pun langsung diberikan pada hari ulang tahun radio tersebut," kata Pratama.  

Untuk menghargai kesetiaan para anak tongkrong, Station Manager, Roy Fatah, menggagas ke depan akan mengumpulkan para fans dalam acara khusus. Acara itu dalam bentuk outbond di lapangan sehingga menjadi satu komunitas yang memiliki aktivitas yang terjadwal.

"Tentunya tak sekedar outbond saja. Di sela-sela acara akan ada sosialisasi dari sponsor seperti LSM yang bergerak dalam bidang anak," kata Roy. (aly)


Radio Gaulnya orang SoE-TTS

SIAPA yang tidak mengenal radio What's Up. Di kalangan muda warga Kota SoE dan sekitarnya radio What's Up tidak asing di telinga. Berbagai acara yang on air dan off air di lapangan banyak mengangkat dan melibatkan kawula muda di SoE dan sekitarnya.

Tak pelak, radio yang secara resmi berdiri empat tahun lalu tepatnya 20 Januari 2006 ini mendapat sambutan positif, terutama dari kalangan muda dan pelajar di wilayah Kota SoE.

Pasalnya, acaranya nuansa dan temanya banyak mengangkat  hobi dan persoalan anak muda di zaman sekarang.
Lahirnya Radio What's Up berawal dari Abdul Majid yang menginginkan adanya perubahan suasana di Kota SoE awal tahun 2003. Selama dia berada di Jogja, salah satu hiburan yang menemaninya saat belajar adalah radio.

"Dulu  di sini memang ada radio pemerintah, tetapi siarannya terbatas. Acaranya pun belum mencerminkan dan mengisi keinginan kawula muda. Jadi agar teman-teman bisa mendengar lagu baru,  saya mendirikan radio dengan apa adanya," ujar Abdul Majid, Direktur PT Radio Hasta Group, What's Up Radio FM, kepada wartawan di SoE, Kamis (11/2/2010) sore.

Saat pertama kali berdiri, lanjut Majid, ia mengajak teman-temannya untuk berpartisipasi menyiar dengan kemampuan apa adanya. Isi acaranya pun tidak banyak, berkisar menyampaikan salam dan mengirim lagu untuk teman yang dikenal dalam radius siaran sekitar satu kilometer.

"Radio ini lahir ibarat tanpa bapak dan ibu. Radio ini lahir tanpa ada perencanaan mau dibawa ke mana ke depannya," kata Majid.

Selang setahun kemudian, kata Majid, dua penyiar seniornya kini, Roe dan Dhani, hadir membantu memajukan radio. Ia menyerahkan urusan program dan acara kepada kedua temannya itu.

"Untuk meramaikan radio kami memanggil teman-teman yang dulu pernah iseng-iseng datang ke sini. Sejak itu kami melakukan siaran reguler dengan jadwal yang ada," kata Majid.

Majid mengatakan, sebelum bernama What's Up, radionya sering berubah nama. Seingatnya pernah diberikan nama M-Zone Radio, On The Sky Radio dan terakhir What's Up Radio.
Kata What's Up memiliki cerita sendiri. Sekitar pertengahan tahun 2003, ia membawa alat radionya yang rusak ke Atambua.

Di ibukota Kabupaten Belu itu ia membeli kaset bekas yang isinya lagu rapper dari Malaysia. Salah satu judul lagu kaset itu yakni Tupet yang syairnya berulang-ulang menyebut kata-kata What's Up.

"Kata What's Up bagi kami sangat berarti lantaran ingin menyapa dan membawa keakraban bagi para pendengar," kata Majid sambil menyatakan frekuensinya juga tiga kali berubah dari 90 ke 102,3 dan terakhir di 102,2 FM.

Lain halnya dengan Majid, Station Manager Radio What's Up, Roe Fatah menyatakan, mendirikan sebuah radio yang betul-betul profesional tidaklah gampang. Bahkan radionya sempat mati suri selama satu tahun dari 2006 sampai 2007.

Persoalan izin dan alat menjadi penyebab mati surinya radio tersebut. Radio What's Up betul-betul beroperasi resmi sejak 20 Januari 2008. (aly)
 

Dari Cuap-cuap Hingga Donor Darah

BERCUAP-CUAP menyapa pendengar di belakang mikrofon di studio bukanlah hal yang asing bagi penyiar. Namun beraksi di lapangan dan mengajak para pendengar untuk memberikan satu liter darah dalam aksi sosial bukanlah hal yang gampang. Butuh cipta kondisi opini agar para pendengar tergerak untuk ikut berpartisipasi berdonor darah.

Bagi manajemen Radio What's Up, membentuk komunitas di udara dan dipertemukan di darat butuh waktu yang panjang. Satu-satunya cara agar komunitas cepat bergabung yakni dengan memberikan apa yang menjadi keinginan masyarakat yang selama ini tersumbat salurannya.

"Kami mau idealnya sasaran untuk anak muda. Kami mau SoE dikenal buat anak muda-muda di sini punya sesuatu dengan berbagai hiburan dan informasi yang kami berikan. Visi kami ingin membentuk komunitas yang penuh kreativitas dan vitalitas. Kedua sebagai media informasi dan komunikasi, dan ketiga, berperan untuk menjalankan kendaraan bisnis di Kota SoE," ujar Roe.

Tak hanya itu, lanjut Roe, ia ingin membangun daerah ini dari berbagai masukan dari orang-orang yang mendengar radio dengan sasaran anak muda.

Namun dengan berjalannya waktu, bukan hanya anak muda, orang tua yang berjiwa muda juga menjadi pendengar setia radionya.

Untuk memadukan minat yang tersumbat, manajemen sering melibatkan langsung para pendengar dengan menggaet sponsor dari perusahaan ternama dalam berbagai acara. Dengan melibatkan para pendengar, mereka akan merasa memiliki Radio What's Up.


"Ketika tahun 2008 dipercayakan sebagai event organizer Pesta Rakyat Simpedes, kami banyak melibatkan para pendengar atau fans What's Up ikut bersama menggarap acara tersebut. Hal ini kami lakukan agar fans atau pendengar betul-betul merasa memiliki radio tersebut."

"Contoh lain, lomba wall grafity (melukis di tembok). Kami memberikan kesempatan kepada pendengar untuk berkreasi daripada mereka menggambar di tugu-tugu. Terakhir, kami kemarin menggelar acara donor darah yang mensyaratkan peserta berumur di atas 17 tahun. Namun banyak peserta di bawah 17 tahun datang meski tak ikut donor darah sebagai bukti kecintaan mereka terhadap What's Up," ujar Roe. (aly)
 

Mereka yang di What's Up

Majid, Direktur
Tak Menyangka

SELAIN reportase, kami juga ingin memperbanyak acara anak muda dengan materi muatan lokal. Memang masih jauh dari maksimal. Use tempat apa adanya dengan sistem sewa. Ketika kami bekerja sama dengan LSM seperti sosialisasi Dewan Anak yang menyuarakan hak-hak anak, kita bisa sosialisasikan hak-hak anak.

Ketika terjadi kasus anak-anak yang dipukul guru, mereka langsung lapor. Kalau zaman duhulu tidak ada. Jadi efektivitas cukup berpengaruh. Mereka akhirnya ikut menyuarakan hal itu.

Contoh lomba lukis di tembok setelah kami sediakan wadah, ternyata anak SoE bisa juga. Sekarang persoalan tidak adanya wadah. Tahun 2008 PRS berlangsung, saya tidak menyangka band yang hadir sebanyak 20 band.

Di SoE hanya ada dua studio musik yang biasa, tetapi ketika kami gelar acara lomba band, mereka dengan semangat berani mengekspresikan diri. Itu berarti selama ini ada yang tersumbat. Tidak ada tempat berekspresi. Daripda mereka nyanyi di pinggir jalan sambil minum.

Danny, Kepala Bidang Pemasaran
Konflik dengan Keluarga

SEBELUM bekerja di Radio What's Up ia pernah menjadi tukang ojek. Tak hanya itu, ia pun pernah menjadi caleg. Saat ini untuk menambah penghasilan, ia membuka usaha kios.

"Sekarang anak saya sudah empat. Yang nomor satu sudah kelas II SMA. Persoalan kadang-kadang konflik di dalam rumah tangga lantaran menyiar di radio itu ada. Meski demikian, akhirnya istri memahami. Walaupun saya sudah berkeluarga, saya rasa sampai kini tidak ada masalah. Ke depan mungkin bagian manajemen. Mungkin kami mundur untuk tidak menyiar, tetapi mengurus manajemen. Banyak kesempatan dan berkat dan ditegur akhirnya banyak dikenal orang," ujar Dhani. (aly)
 
n Roe Fatah
Bisa Memperbaiki diri

APA yang saya bicarakan di radio itu adalah hal yang ideal dan positif. Kami mengajak para pemuda untuk menjauhi narkoba dan miras. Akhirnya itu membentuk diri saya untuk menjaga apa yang saya bicarakan sehingga tidak melakukan hal itu.

Jangan sampai orang bilang omong menjauhi miras, ternyata mabuk minum miras di jalan. Saya dikenal banyak orang dari anak yang tidak dikenal sampai orang berpengaruh dan saya mendapat job di sana. Hobi yang mendatangkan uang. Kalau saya jadi pegawai negeri mungkin datang duduk, kerja dan pulang. Kreativitasnya sangat kurang. (aly)

 Novi
Banyak Teman dan Pengalaman

AWALNYA suka dengerin lagu di Radio What's Up. Kemudian ada teman yang ajak untuk ikut siaran. Eh, tak tahunya jadi ketagihan dan akhirnya betul-betul bisa jadi penyiar. Setelah jadi penyiar, banyak teman dan bisa lebih sering dengar lagu. Tak hanya itu, saya juga mendapatkan penghasilan, pengalaman dan pengetahuan. (aly)

 

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 211 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

Mantap... tingkatkan saja, kami selalu mendukung...

Komentar Oleh: Lusty Sae | Kamis, 25 Maret 2010 | 18:27 WITA

Proviciat buat What's Up FM Radio kotaku tercinta Soe. maju terus dalam membangun daerah lewat media ini. saya harap studio radio ini juga mengangkat masalah2 program pemerintah yg tidak pro-rakyat maupun yg pro-rakyat agar masy. dpt memberikan apresiasi maupun kritik trhdp perkembangan daerah. GBU.

Komentar Oleh: David Bansele | Minggu, 7 Maret 2010 | 14:14 WITA

congratulation soe,qt yang dirantau bangga bangat ma kmu...........keep it up ok,what'su so'e.jesus bless all of u!!!!!!

Komentar Oleh: megi | Minggu, 28 Februari 2010 | 09:40 WITA

hai whats up fm !!, maju terus... VJ CUPID - jerall

Komentar Oleh: jerall | Senin, 22 Februari 2010 | 23:31 WITA

bbravo whats up soe,,, dan biar tambah maju,,,big boss harus berani kirim anak vj buat nambah ilmu di luar kupang( soe ) makin banyak melihat makin keren siarannya,,, maju terus what`s up

Komentar Oleh: kael | Sabtu, 20 Februari 2010 | 21:06 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Rabu, 18 Agustus 2010 | 16:21 WITA
Sabtu, 31 Juli 2010 | 10:49 WITA
Sabtu, 31 Juli 2010 | 10:43 WITA
Minggu, 2 Mei 2010 | 19:27 WITA
Sabtu, 24 April 2010 | 21:45 WITA