Mungkin ini berlebihan. Tetapi, coba datang saja ke Pasar Inpres Ruteng. Di sana kita akan berjumpa dengan penjual ikan asal Ranggi.
Lantaran profesi sebagai penjual ikan itulah, penjual ikan asal kampung Ranggi, Desa Ranggi, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, membentuk sebuah komunitas kecil, yaitu komunitas penjual ikan asal Ranggi Pasar Inpres Ruteng.
Meski komunitas itu tidak memiliki pengurus resmi, eksistensi mereka sudah mendapat pengakuan publik. Hampir pasti setiap warga Ruteng dan sekitarnya yang hendak membeli ikan di Pasar Inpres Ruteng akan berjumpa dengan penjual ikan asal Ranggi.
Kampung Ranggi terletak di bagian utara, sekitar tujuh kilometer dari Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai.
Tekstur tanah di Ranggi bervariasi. Ada tanah subur, ada juga tanah merah. Ada beberapa lokasi yang amat subur. Di sana tumbuh tanaman cengkeh dan kemiri. Pohon-pohon cukup banyak. Penataan kampung masih asli dan asri. Belum banyak tersentuh arus modern.
Konon awal mula pekerjaan warga Ranggi sebagai penjual ikan dirintis oleh Niko Gagut, berdasarkan pengalamannya sendiri. Ia pernah merantau ke Reok, tepatnya di Robek. Di sana Niko menjadi pelaut. Saban hari bergaul dengan para nelayan. Rutinitas hariannya mencari ikan.
Ikan lalu dipasarkan kepada pembeli. Harga jual selalu bervariasi sesuai hasil tangkapan dan perputaran musim. Musim rezeki, ikan harga turun. Sebaliknya, hasil tangkapan sedikit, harga jual melambung.
Setelah menikah dengan Regina Inal, Niko pulang ke kampung halamannya di Ranggi. Setibanya di kampung halaman, mulailah Niko merintis pekerjaan sebagai penjual ikan.
Semula dia membeli ikan dari penjual asal Labuan Bajo, Bima, Satar Mese atau Reok. Setiap pagi Niko datang ke Ruteng untuk menjalankan rutinitasnya sebagai penjual ikan.
Lantaran pekerjaan itu cukup menjanjikan, beberapa warga Ranggi mulai mengikuti jejak langkah Niko. Jumlah warga Ranggi yang menggantungkan hidup sebagai penjual ikan di pasar Inpres Ruteng cukup banyak. Pasar Inpres Ruteng pun menjadi identik dengan pemukiman sementara warga Ranggi.
Ada gudang titipan ikan, ada ibu-ibu yang menyiapkan makan minum untuk sarapan.
Seiring perjalanan waktu dan jumlah warga Ranggi semakin banyak yang menjual ikan, Niko berinisiatif menyiapkan lokasi jual yang lebih aman. Maka tempat sampah mereka uruk menjadi tempat jual ikan yang layak.
"Lokasi jual ikan sekarang itu semula sebagai tempat sampah. Inisiatif penjual ikan asal Ranggi menguruk tempat sampah mendapat dukungan dari pemerintah setempat sehingga tempat ini sudah dilengkapi dengan sarana yang baik. Konsekuensinya para penjual ikan membayar iuran sesuai tarif yang ditetapkan pemerintah," ujar tetua penjual ikan asal Ranggi, Basilius K.
Menurutnya, semula penjual ikan asal Ranggi hanya menjadi penjual eceran. Ikan yang mereka jual dibeli dari penjual lain yang datang ke Ruteng. Ada jalur sirkulasi penjualan, namun kurang memberi keuntungan yang cukup. Karena itu, beberapa warga mulai menjadi papalele, turun langsung membeli ikan di Labuan Bajo lalu didistribusikan ke Ruteng untuk dijual kepada pengecer ikan.
Melihat penghasilan yang cukup membanggakan, maka beberapa penjual ikan berani kredit di bank untuk membeli kendaraan roda empat. Keadaraan roda empat sebagai fasilitas distribusi ikan.
Maka beberapa warga Ranggi yang semula sebagai sopir kendaraan ikan asal Bima atau Labuan Bajo, sekarang sudah memiliki kendaraan sendiri. Penjual ikan yang memiliki kendaraan sendiri menjadi distributor ikan dari Labuan Bajo.
Sekarang sudah ada jaringan distribusi ikan yang teratur. Jumlah pedagang ikan yanag sudah memiliki kendaraan sekitar delapan orang.
Perkembangan pekerjaan menjual ikan cukup pesat. Sudah ada penjual ikan asal Teras, Telong, dan Ting. Juga dari Rahong, Dalo, Nte'er, Kecamatan Ruteng dan Lelak. Jadi ada peguyuban-peguyuban. Komunitas penjual ikan makin banyak.
"Sudah ada inisiatif untuk membentuk wadah pemersatu, tetapi masih sulit karena terbentur SDM. Meski demikian, solidaritas antara sesama penjual ikan sangat tinggi. Komunitas penjual ikan ini cukup mencolok," katanya.
Dia menceritakan, semula fasilitas penjualan ikan warga Ranggi sangat terbatas. Tidak semua penjual ikan memiliki tempat jual. Tidak semua pemilik stan memiliki gudang. Karena itu, disiapkan fasilitas sewa pakai.
Langkah ini berdasarkan fakta yang terjadi. Kadang-kadang terjadi keributan merebut fasilitas jual ikan. Tidak heran ada pertengkaran-pertengkaran kecil. Namun pertengkaran sering diakhiri dengan damai.
Fasilitas penjualan yang disiapkan sebagai solusi untuk membantu sekaligus membangun jejaring antara sesama penjual ikan. Di sanalah solidaritas komunitas penjual ikan itu muncul.
Sampai saat ini solidaritas cukup kuat dan bertahan.
Indikatornya dapat diukur. Misalnya, ada penjual ikan yang belum ada uang tunai atau uang tidak cukup, maka ikan yang disuplai papalele dari Labuan Bajo, Iteng, Reok atau sesekali dari Borong bisa diambil tanpa uang muka. Setelah ikan terjual, baru bayar.
Atau, jika ikan tidak laku atau rugi, masih diberi kesempatan. Bahkan bisa ditambah jumlah ikannya. Di sinilah solidaritas komunitas penjual ikan menjadi kuat.
"Kami tidak hanya mencari untung, tetapi memahami kendala-kendala yang ditemukan di tempat ini. Meski belum ada struktur dan pengurus yang resmi, kami akui komunitas jual ikan asal Ranggi cukup solid," ujarnya.
Menurutnya, meski penjualan ikan di Ruteng sudah menjadi lahan orang Ranggi, tetapi tidak eksklusif. Pekerjaan ini tetap terbuka untuk umum, untuk yang mau mengais rezeki sebagai penjual ikan, dari mana pun asalnya. Buktinya ada beberapa penjual ikan asal Manggarai Barat dan Manggarai Timur.
Persaingan antara sesama penjual ikan tidak mencolok. Hanya beda saldo dan jumlah modal yang ada di kantong masing-masing. Aspek-aspek lain selalu diperhatikan secara bersama.
Basilius menjelaskan, sejak tahun 2004 kebersamaan sebagai satu komunitas penjual ikan mulai dirintis. Namun belum teratur dan terorganisir. Masih terbentur SDM. Meski demikian, kebersamaan dan solidaritas cukup kuat. Komunitas penjual ikan asal Ranggi memang oke! (lyn)
Bentuk Arisan dan Simpan Pinjam
MESKI belum ada organisasi yang teratur, secara spontan timbul kesadaran bersama untuk membantu ekonomi keluarga dan menambah modal usaha. Salah satu langkah adalah arisan. Memang kegiatan arisan itu tidak rutin, tetapi sudah berkembang di antara sesama penjual ikan.
Menurut tetua penjual ikan, Basilius K, kegiatan arisan dan koperasi simpan pinjam merupakan salah satu kebutuhan mendesak yang akan dibentuk beberapa waktu mendatang. Ini bertujuan membangun komitmen dan solidaritas di antara sesama dalam rangka meningkatkan ekonomi keluarga.
Ke depan perlu suatu wadah yang mengikat. Wadah itu menjadi medium pemersatu sekaligus menguatkan secara ekonomis.
Membantu sesama yang kurang modal atau rugi. Kepada mereka diberi modal awal. Modal yang dipinjamkan itu disertai kewajiban untuk membayar iuran dan cicilan bulanan.
Kesadaran ini mendorong usaha untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
"Secara ekonomis menjual ikan cukup baik, bahkan di atas rata-rata. Hanya lemah dalam mengelola keuangan. Sebab jual ikan selalu mendapat uang tiap hari," katanya.
Basilius bertekat akan memperhatikan potensi-potensi SDM para penjual ikan serta membangun komunikasi agar wadah segera dibentuk. Pembentukan wadah tidak sulit, sebab solidaritas komunitas penjual ikan sudah cukup kuat dan menyatu. Saat ini tinggal mendorong adanya persatuan dan kebersamaan dalam wadah.
"Dulu ada kesebelasan sepakbola ikut main Paska atau perayaan 17 Agustus di tingkat desa. Kami perlu organisir potensi yang ada itu," tekat Basilius. (lyn)
Komentar Mereka:
Fridus Nacor (32)
MESKI tidak resmi komunitas jual ikan sangat menghargai satu sama lain. Misalnya, ada ikan masuk bisa bagi kepada sesama penjual untuk jualan. (lyn)
Stefanus Jewaru (34)
ORGANISASI komunitas ikan perlu untuk membangun kebersamaan sehingga kami bisa bekerja dengan baik. Selama ini kami masih usaha sendiri-sendiri. Meski sudah ada kesdaran untuk saling membantu, perlu ada organisasi terstruktur. (lyn)
Maksi Mansu
KESADARAN untuk membantu sesama sangat tinggi. Sekarang perlu dorongan dari tetua yang kami anggap bisa membantu kami. (lyn)