Puisi-Puisi Theresia Sabu Hadjon
Tanjung Gemukku
(Kenangan Tanjung Gemuk Maret 1992)
Aku terpesona melihat
Rimbunya pohon-pohon
Yang tumbuh subur di atas rahimmu
Yang sulit kujumpai di kota kelahiranku Makassar
Aku juga bangga pada keturunan Adam dan Hawa di Flotim
Yang setia mengaja kelestarian alam
Aku duduk berjam-jam di bibir pantai Pulau Solor
Sembari memandang dan mengagumi keindahanmu
Segala galau dan ketakutanku sirna
Karena jauh dari semua orang yang kucintai
Demi melihat tanah tumpah darah ayah dan bundaku
Tempat mereka lahir dan dibesarkan
Pamakayo Maret 1992
Tanjung Gemuk 2
(Kenangan Tanjung Gemuk April 2001)
Tanjung gemukku
Kini aku datang lagi, aku mengais bersamamu
Karena kulihat tubuhmu bahkan rahimmu
Telah tercabik-cabik oleh tangan-tangan manusia
Tanpa perasaan mereka menghancurkan
Keindahan dan kemolekanmu
Aku berharap mereka tetap setia menjagamu
Agar pohon-pohonmu tetap rimbun dan hijau sepanjang masa
Kini aku duduk di bibir pantai Pulau Solor
Meratap pilu bersamamu karena semua telah hancur
Kusarakan dukamu yang dalam dab menyayat kalbu
Pohon-pohon yang dulu lahir dari rahimmu
Kini telah berubah menjadi pada tandus dan ladang
Tanjung gemukku yang malang redahkanlah tangismu
Karena aku takut tangismu berubah menjadi bencana
Makassar, April 2001
Puisi Buyung
Kaulah Sempurna Untukku
Air mataku jatuh menindih bumi
Dan teresap hilang menjiwaiku
Membuka kalbu
Dikala aku menepi dan meredup
Memanggil Tuhan memohon cintaku
Purnama wajahku
Hilang dari kejujuran hatiku yang putih
Tercurah dari kedua lantera mata hatiku
Terpuruk cinta yang tumbuh tak bertepi
Kesunyian terisik dari bibir rapuhku
Yang berlagu
Dari firman hati yang berbudi dan tinggi kebesaran cintaku yang tak berdosa
Yang kudoakan
Lukisan air mataku tak membawaku pula
Namun, aku terus menari di bawah awan putih
Hingga kunantikan rintikan hujan yang lembut
Membasuh tubuhku
Sebagai bahasa cintamu untukku
Puisi Eby Riang Borot
Aku Seperti Ansuman
Aku seperti ansuman
Seribu sinar abadi padaku
Tertancap kuat takakan lepas
Menjadi otot-optot segar
Merekat erat pada tulangku
Meskipun kupu-kupu indah
Terus bermetamorfosis
Dari hari ke hari
Dan mahkota emas terindah
Jatuh diatas kepalaku
Aku akan berakar dalam pikiran mu
Di ujung bibir dan lidahmu ada aku
Melati, mawar, anggrek
Langkah hatinya begitu erat
Menuju aku yang tengah menanti
Kan pasti ada di tanganku
Tak seorangpun mengatakan
Bercerita tentang semua itu
hanyalah tintah-tintah hitam
Biar pagi cerah yang membuktikannya
Masih Ada yang Tersisa
Tanggalkan jubah dukamu itu
Lepaskankah di dalamnya lautan
Bila kita melewatinya
Biarkanlah dia tenggelam
Menjadi santapan ikan buas
Atau bakarlah diperapian
Kita buat semenit yang lalu
Relakanlah dia hangus dan musnah
Walaupun dirangkai dari halusnya sutera
Memang malam adalah kekasihmu
Cinta yang selalu memelukmu
Pasti bulatnya sang rembulan
Dan bintang yang berseri
Bukan untuk dirimu
Daun yang jatuh berguguran
Masih ada yang tersisa
Di ujung puluhan ranting
Temanku___.
Aku
Dan menyebarnya fajar pagi
Ketika musim berganti
Alam dan dunia hijau kembali
Dalm hidupmu terselip
Tulusnya hati seorang darah