Scuter pertama dikendarai Manasye Louro -- yang lebih akrab disapa Ama -- membawa bendera putih menyusuri jalan bebatuan ke arah tepi pantai Lasiana.
Mereka adalah komunitas Scuter Club Ala Kupang (SCAK). Ama adalah ketua kelompok SCAK.
Pada Minggu (31/1/2010), komunitas SCAK mengadakan sosialisasi dan kumpul-kumpul di Pantai Wisata Lasiana- Kupang. Para pengendara yang juga pemilik sepeda motor ini memarkir sepeda motornya di tepi pantai. Jejeran sepeda motor unik ini langsung menyedot perhatian para pengunjung tempat wisata di Kelurahan Lasiana-Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, ini.
Para pemiliknya langsung mengambil tempat di atas pembatas tersebut untuk duduk bersenda gurau dan bertukar pikiran. Ketika disimak, hal-hal yang mereka perbincangkan adalah seputar kendaraan mereka, baik tentang mesin, aksesoris maupun suku cadangnya. Dalam komunitas ini, ada yang mahir utak-atik mesin kendaraan buatan Italia ini.
Salah satu dari mereka mengeluhkan scuter-nya yang tiba-tiba tersendat-sendat ketika jalan. Mendengar keluhan tersebut, mereka bersama-sama mengerumuni dan membongkar scuter untuk mengetahui letak kerusakannya. Itulah kebiasaan yang mereka lakukan ketika bersama-sama.
Mansye Louro mengatakan, SCAK berdiri di Kota Kupang pada tanggal 29 Mei 2004. Kehadiran komunitas ini berawal dari beberapa orang teman yang berkumpul dan memperbaiki salah satu scuter yang rusak. Dalam diskusi-diskusi lepas, disepakatilah untuk membuat sebuah komunitas yang diberi nama SCAK.
Teman-teman dekat ini mulai menghimpun teman-teman lainnya, baik teman langsung maupun mereka yang dikenal karena naik Vespa dengan saling memberikan informasi.
Pada saat berdiri, jumlah anggota SCAK hanya delapan orang, lama-kelamaan berkembang dan menjadi puluhan orang sampai saat ini.
Komunitas ini merupakan komunitas otomotif pertama di Kota Kupang dan sudah terdaftar di Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kupang.
Tujuan pendirian SCAK adalah sebagai ajang refreshing bagi anggota-anggotanya dan menjadi ajang konsultasi tentang scuter tatkala ada kerusakan yang tidak bisa ditangani sendiri oleh pemiliknya.
Selain itu, klub ini juga mengembangkan kegiatan-kegiatan positif, seperti menjalin keakraban dan persaudaraan (brotherhood), bakti sosial di dalam kota maupun di luar kota.
Beberapa kegiatan sosial yang pernah dilakukan oleh komunitas ini adalah membersihkan lingkungan di Pasar Inpres Naikoten Kupang, membersihkan rumah ibadah di Kota Kupang dan SoE atas undangan klub pencinta alam.
SCAK juga pernah dipakai oleh salah satu produk rokok di Kota Kupang untuk mempromosikan produknya (U-Mild).
Dengan jalinan persaudaraan dan kekeluargaan yang dilakukan, komunitas ini mengusung motto "Satu Vespa Sejuta Saudara". Bagaimana tidak, dengan adanya Vespa ini, para pemiliknya menjadi saudara satu sama lain. Kesusahan dan persoalan satu orang menjadi persoalan semua anggota klub ini. Hal ini dimulai dari urusan Vespa sampai urusan rumah.
"Ya, beginilah anggota SCAK. Persoalan satu orang menjadi persoalan semua anggota. Misalnya, satu mengeluhkan kerusakan pada Vespa-nya, kami yang lain pasti akan membantu. Dengan keahlian dan kemampuan yang ada, kami saling membantu. Bahkan kami saling memberikan spare part (suku cadang). Misalnya, satu ada kelebihan akan diberikan kepada teman yang tidak punya dan akan bergulir terus begitu. Sehingga, tidak akan lari ke mana-mana, paling di seputar SCAK saja," kata pemilik rambut gondrong ini.
Membantu sesama anggota SCAK yang memiliki kesusahan bukan hanya di Vespa, tetapi sampai rumah, seperti kedukaan, pernikahan dan pindah rumah atau pindah tugas.
"Kalau ada kesusahan seperti ini, para anggota serta merta membantu dengan memberi dari apa yang dimilikinya," katanya.
Menurutnya, dalam Vespa ada persaudaraan. Ini yang membuat komunitas ini tidak pernah kehilangan kontak dengan teman-teman sesama klub scuter di seluruh Indonesia.
Saat ini, anggota yang aktif sekitar 30 orang. Yang lainnya simpatisan. Kehadiran mereka hanya pada saat-saat ada event saja. Mereka datang dari Kota Kupang dan luar kota, seperti SoE, Kefa dan Atambua.
Keberadaan SCAK di Kupang sudah diketahui oleh kelompok scuter lainnya di Indonesia. Jika ada anggota scuter yang datang ke Kupang, dia pasti akan mencari dan bargabung, biar hanya semalam. (apolonia dhiu)
"Kami yang Pertama"
WARGA Kota Kupang yang melintas di Jalan El Tari-Kupang sekitar tahun 2004, tentu sering melihat sekelompok anak muda yang mangkal persis di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT hampir setiap malam Minggu. Mereka mangkal persis di samping sepeda motor scuter mereka.
Mereka adalah anak muda yang tergabung dalam SCAK. "Kami yang pertama mangkal di situ, dan sekarang banyak komunitas yang juga hadir di sana," jelas Ama yang dibenarkan beberapa temannya.
Ungkapan itu tentu membuat mereka bangga dan senang karena dari merekalah Kupang kini menjadi dinamis dan penuh warna.
Kebiasaan yang dilakukan oleh komunitas -- jika tidak ada kegiatan atau jadwal ke luar kota -- adalah nongkrong di Jalan El Tari, depan Kantor Gubernur NTT pada malam Minggu. Nongkrong di malam Minggu merupakan suatu kewajiban. Selain refreshing agar komunitas ini tetap eksis, juga melakukan konsultasi dan syering mengenai kerusakan mesin dan diskusi lainnya.
Setiap anggota boleh membawa istri, anak, ataupun pacar bagi yang masih bujang. Meski para anggota SCAK ada yang biasa minum minuman beralkohol, mereka melakukan pertemuan-pertemuan atau nongkrong bukan untuk minum.
Bagi para anggota SCAK, masuk dalam komunitas ini memiliki kepuasan tersendiri. Menurut mereka Vespa adalah barang produk tua, namun masih bisa jalan baik dalam jarak dekat maupun jarak jauh. Buktinya, mereka bisa sampai di Mota'ain- Belu, perbatasan RI dan RDTL, belum lama ini.
Di dalam klub ini ada yang memiliki Vespa keluaran tahun 1961, 1972 dan masih tetap eksis di jalan. Walau beberapa alat atau aksesorisnya tidak diproduksi lagi, Vespa tersebut tetap jalan. Inilah yang membuat mereka puas dan bangga.
Vespa memang identik dengan alat yang susah didapat, tetapi anggota SCAK memiliki jaringan yang cukup luas sampai di Jawa dan Bali. Jika ada kerusakan, pasti ada saja yang bisa membantu.
Anggota komunitas ini sangat heterogen, mulai dari yang paling tua sampai anak muda/pelajar. Tidak ada rasa minder ketika naik Vespa. Mereka malah enjoy dan makin percaya diri.
Bagi mereka, gaya Vespa tidak akan pernah berakhir, malah akan semakin eksis. Karena saat ini ada juga dari Jerman dan Australia yang menanyakan soal Vespa di Kupang.
Soal standar motor, walau ada beberapa alat dan aksesoris yang dari pabriknya sudah demikian, tidak membuat komunitas ini melanggar peraturan lalu lintas (lalin) di jalan. Mereka tetap mematuhi peraturan lalin dengan memasang beberapa aksesoris yang dibutuhkan, misalnya lampu dan sebagainya.
Mereka berharap, anggota komunitas semakin hari semakin banyak. Sebab, ada yang memiliki Vespa, tetapi tidak mau bergabung karena malu. (nia)
Komentar Mereka
Joko Srihartanto
Jalan Sendiri
SEBAGAI salah satu perintis berdirinya SCAK, saya bangga sekali. Karena awalnya dari delapan orang, saat ini sudah puluhan orang. Kami merasakan sekali manfaatnya. Kami bisa syering mengenai kerusakan dan saling membantu pada saat ada kesusahan. Jenis Vespa yang saya miliki adalah Super 66. Membentuk komunitas SCAK karena banyak Vespa yang berjalan sendiri-sendiri, ada pula yang disimpan saja di rumah. Sampai saat ini istri dan anak saya sangat mendukung bahkan mereka sering bergabung pada malam Minggu ataupun pada kegiatan sosial lainya. Selain itu, saya senang bergabung karena jika ada kerusakan, ada beberapa teman yang mahir mengenai mesin dan memperbaikinya. Jadi tidak perlu membuang uang ke bengkel. Saya juga sering ke luar kota seperti Atambua menggunakan Vespa. Saya tahu persis kemampuan motor ini sampai di mana. Inilah yang membuat saya bangga dengan motor Vespa dan bergabung dalam SCAK. (nia)
Desi Laiskodat
Banyak Manfaatnya
orang tertua di dalam komunitas ini, saya senang sekali. Kami bisa membantu satu sama lain. Saya memiliki Vespa jenis BX 83. Kami bisa syering dan memberikan masukan jika ada persoalan yang dihadapi teman-teman sesama anggota SCAK. Mulai dari urusan kerusakan Vespa sampai urusan rumah tangga. (nia)
Muhammad Rifa'i
Kepuasan Tersendiri
SAYA pelajar di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Model Kupang. Saya sangat bangga dan enjoy menggunakan scuter ke sekolah. Ada kepuasan tersendiri bisa tampil beda di antara teman-teman. Janis motor yang saya gunakan adalah Starda 86. Saya bergabung dengan SCAK karena informasi dari teman. Saya bangga punya komunitas ini. Kami bisa saling membantu dan memperhatikan. Jika ada kerusakan, bisa dikerjakan oleh senior-senior saya yang mahir di bidang mesin. Kami saling memberi jika ada kerusakan atau ada masalah lainnya. Kami juga kompak melakukan kegiatan-kegiatan sosial. (nia)
Fasilitas obyek wisata Lasiana semakin bagus akan lebih banyak mendatangkan wisatawan asing dan domistic semakin banyak, pendapatan daerah juga akan semakin meningkat , tapi kenapa dibiarkan oleh pihak pariwisata kupang ntt ? pertanyaan tidak wajar ini disampaikan oleh masyarakat. Lasiana sudah menjadi kebutuhan masyarakat. jadi seharus ada perhatian dari pemda.Terima kasih atas perhatiannya.
tolong tampilkan logo scak,mau di bordir buat kemeja untuk bung albert hawu
aku jg orng kupang brow.. kren komunitasnya.........