Bahkan grup band ini mendapat sindiran dari beberapa kalangan di Kupang saat akan berangkat ke Jakarta.
Di Jakarta, grup ini dipandang sebelah mata oleh band-band lain, peserta Indonesia Creative Icon 2009-2010 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, pertengahan Januari 2010 lalu.
Namun, semuanya terbalik ketika band ini mulai tampil dalam ajang tahunan yang digelar Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) ini.
Bronwnies Band masuk empat nominasi terbaik dan dewan juri Spektrum Music Perfomance, Gilang Ramadhan, Andi Ayunir, dan Pra Budhi Dharma memilih Brownies Band sebagai pemenang spektrum ini.
Ada delapan kota dari kurun Mei - Juli 2009, yakni Manado, Banjarmasin, Makassar, Kupang, Padang, Jepara, Palembang dan Malang. Untuk sembilan spektrum terdiri atas Animation, Digital Comic, Digital Music, Music Perfomance, Dance Perfomance, Fashion, Craft, Games dan Applied Science.
Personil Brownies Band, Yunus Lay Manu, yang dihubungi Senin (1/2/2010) mengatakan, Brownies Band yang terdiri dari dia sendiri (keybora/bass), Agnes Panie (vokal), Aries Bulo (gitar) dan Adit (drum) sudah siiap untuk kegiatan lomba ini sejak Juli 2009 lalu.
"Setelah kita diumumkan sebagai juara lomba tingkat Propinsi NTT, kita langsung siap untuk bulan Oktober di Jakarta, tapi ditunda hingga Desember. Dan, baru Januari 2010 ini kegiatan itu dilaksanakan," jelasnya.
Menurut Yunus, kegiatan lomba ini berlangsung di gedung Smesco, Jalan Gatot Subroto-Jakarta, Jumat (19/1/2010). Kegiatan ini berlangsung sejak Kamis (18/1/2010) berupa pemusatan peserta di Camp-Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta. "Pengumuman pemenangnya Sabtu (20/1/2010), dan kami sebagai pemenang," kata Yunus.
Sebagai juara dalam lomba ini, Brownies Band mendapat hadiah piala, tropi dan notebook. Yang paling menyenangkan adalah ikut tur ke Singapura.
Musik Etnis
Brownies Band tampil memukau membawakan lagu ovalangga asal Rote. Persiapan yang dilakukan full skill bermusik. Tanpa diduga, panitia meminta mereka memasukkan alat musik etnis dalam performance mereka.
"Kita sempat kelabakan juga waktu diminta memasukkan alat musik tradisional, karena kita latihannya full modern musik, tapi kita tetap maju," kata Yunus.
Yunus menjelaskan, musik yang ditambah adalah sasando dan dua alat musik lainnya. Dua alat musik tabuh bisa diatasi, namun alat musik sasando menjadi masalah baru. "Jadi, kami minta Agnes yang memainkan sasando. Agnes hanya berlatih seminggu dan bisa. 'Kan mainnya hanya ritme saja, jadi bisa juga," ujarnya.
Yunus menuturkan, kehadiran mereka di Jakarta masih dipandang sebelah mata. Para peserta dari kota lainnya tidak begitu menggubris anak-anak Kupang. Namun saat sesi cek sound, grup band mulai melihat kekuatan bermusik Brownies Band.
"Waktu cek sound, mereka biasa-biasa saja, tapi setelah giliran kami selesai, band-band lain mulai datang dan minta kenalan. Bahkan ada yang minta diajarkan teknik bermusik," katanya.
Yunus mengaku keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan anak- anak Kupang di Jakarta dan di Kupang. "Kami sangat termotivasi ketika mendapat dukungan. Kami juga termotivasi karena saat datang, banyak teman-teman kita juga sinis pada kami. Dibilangnya kami hanya penggembira saja," ujarnya.
Target band ini hanya ingin memberikan yang terbaik agar tidak memalukan NTT di Jakarta. Tetapi, hasilnya melampui target. Mereka keluar sebagai juara. "Kami memang tidak sangka bisa juara. Padahal kami hanya ingin tampil baik saja," kata Yunus.
Dia menjelaskan, lawan yang paling berat adalah grup band dari Kota Palembang dan Banjarmasin. Namun, jagoan dari Sumatera dan Kalimantan itu tersingkir. (alf)
Cool... gak terasa udah setahun ya? kita berpisah dari jakarta
Mantap bro Yunus! salute to you and the band!
horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
"Pujian adalah Racun dan Hinaan adalah Vitamin"...Sekarang Menjadi Nyata bagi anda semua.....Proficiat atas keberhasilannya....Tingkatkan dan semoga sukses selalu....Kami mendukung kalian.....
Di Ngee Ann Polytechnic, Singapore; Agnes (pemenang dari Kupang) menyempatkan diri utk rekaman vokal di studio dubbing sekolah tsb. Menjadi kebanggaan tersendiri para pemenang yang menjadi Indonesia Icon ini. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menajdi Icon? Kalo bukan sekarang kapan lagi? Indonesia BISA!!