Puisi Mario F Lawi
Delapan Kuatrin Persaudaraan
ARI K
Berapa lama kita menjadi api
Terbakar duka dan airmata
Sehebat itulah kaumaknai sepi
Dan doa diammu adalah senjata
ALLAN L
Sebaris embun mencuci wajahmu
Tapi api di matamu tetap berpijar
Berderailah seperti hujan yang mekar
Bukankah semua di bumi adalah semu?
JUAN
Kaulukis Tuhan dengan hidup
Bahagia tak ada yang menjamin
Demikian pun duka terang-redup
Tapi di situlah kelak kita bercermin
DEDE
Jadilah penari di padang hijau
Dengan bola takdir di bawah kaki
Pahit kenangan kelak akan kautinjau
Setelah bukit terjal keberhasilan kaudaki
ANGELO
Selaksa malaikat turun ke bumi
Sudahkah mereka menemuimu?
Ketulusanmu seperti ajaib jamu
Ketika kering tenaga jiwa kami
INO
Engkau datang dari padang jauh
Seperti musafir melintasi sengat gurun
Batas dermagamu di ujung jalan menurun
Berharaplah kapalmu belum lempar sauh
YANO
Tertawakanlah segala yang menyenangkan
Untung dan malang ibarat roda pedati
Di kedua sisi itulah kita semua digulirkan
Entah dibiarkan hidup atau digilas mati
YOPPY
Keteguhan ada dalam genggaman
Keinginanmu gelora lautan Lamalera
Berjalanlah terus, jangan pernah jera
Mereka menunggumu di sebuah taman
(Naimata, 2009-2010)
Puisi-puisi Ferdy Lelan
Rokok
Untuk setiap barisan puisi
Dia perlukan sebatang rokok, katanya
Disulut dengan api sedapatnya:
Puisi juga butuh penyulut
Apa pun bahannya, apa pun merknya
Barangkali buat pembangkit gairah
Dihisap sedalam-dalamnya:
Biar penat amblas
Jiwa pun sejuk
Lalu raga pun meregang mengikuti irama
Ditahan sebentar di dada:
Sejenak menempati nurani
Biar nafas tertahan memaknainya
Hingga tak kuat menahan gejolak ide di ujung kalimat
Hembuskan lagi...
Tak perlu menegang
Bodoh jika mengganggu
Sejenak keluar untuk masuk lagi
Lagi, lagi dan lagi
Aku percaya kata-katanya
Dari masuk perlu ada keluar
Masuk keluar lagi
Dan perlu pengulangan lagi
Tapi ada yang baru pada pengulangan itu
Ada waktu untuk aku menyaksikan
Ia meregang menjemput kematian.
St. Mikhael, 2010
Aku
Garis-garis bengkok menyusun hidupku
Bagaimana menjawab?
Tentang masalah hari kemarin
Ada penat seolah terpuruk
Siap ditendang bagai sampah
Cuma satu, menyelesaikan soal kemarin
Hanya bingung ketika ditanya soal kebenaran
Bersiap berontak
Juga katanya harus untuk kebenaran
Pembelaan diri pun jangan demi kemormatan
Lalu untuk apa bersoal
Garis-garis bengkok menyusun hidupku
Bagaimana menjawab?
Aku tak tahu tentang kesalahan itu
Aku tersusun untuk hidup
Jika tentang kebenaran aku tak tahu
Aku bersaksi tentang kesalahan
Biar kamu tahu bagaimana garis itu bengkok
Hingga tak mengerti arti kebenaran
Aku cuma terlempar dalam ide
Garis-garis bengkok itu menyusun hidupku
St. Mikhael, 2010
Ferdy Lelan: Asap yang mengepul itu adalah kata yang kau tulis pada langit2 kamarmu, mencari sisa kebenaran yang tidak kau dustai... AKU, yang kau bahasakan bisa jadi sebuah gejolak terhadap struktur yang mengikatmu, sobat... Berjuanglah untuk meluruskan garis-garis itu... Sobat, kalau kau merasa telah terlempar dari ide, maka sebenarnya Engkau telah mati di bawah "hegemoni panggilan" dari sebagian orang.. Bravo!!! Maju terus, jangan mundur.... Duc in Altum, kata seorang padre.........