Di tengah gencarnya aksi peduli lingkungan, Bagoes yang digagas tiga anak muda ini merupakan bukti nyata bahwa rasa kepedulian lingkungan juga bisa dikemas menjadi sebuah bisnis.
Apa itu Bagoes?
Bagoes adalah kependekan dari bag dan goes. Idenya, membuat tas belanja sebagai pengganti kantong plastik. Misi besarnya mengajak lebih banyak orang untuk bergaya hidup ramah lingkungan.
Adalah Mufti Alem bersama dua rekannya, Mohammad Bijaksana Junerosano dan Anindito yang menjadi owner Greeneration Indonesia, penggerak bisnis ini. Ketiganya alumnus Institut Teknologi Bandung.
Mufti mengisahkan, awalnya pembentukan Greeneration Indonesia digagas Junerosano alias Sano. Kemudian, di awal 2009, mereka memulai usahanya dengan modal awal Rp 4.000.000.
"Saat itu, saya sudah sempat bekerja sebagai konsultan desain, sedangkan Sano konsultan lingkungan. Tapi, kami akhirnya memutuskan untuk fokus ke bisnis ramah lingkungan ini," kata Mufti kepada Kompas.com.
"Kami berkumpul, ngobrol. Mimpi lo apa, mimpi lo apa, kami satukan, kemudian mengelaborasi mimpi itu dan mengakomodasinya," kisahnya.
Tak ingin menjalankan mimpi orang lain. Itu yang menjadi dasar semangat Mufti dan rekan-rekannya. Mereka percaya, mewujudkan gaya hidup ramah lingkungan bukan sekedar tren, tapi juga filosofi hidup. Jadilah Bagoes menjadi produk perdana mereka yang saat ini produksi per bulannya mencapai 2.500 buah.
Sebagai gambaran, tas Bagoes yang ditawarkan terdiri dari dua jenis bahan, yaitu nylon dan laken. Bentuknya, seperti halnya kantong kresek. Uniknya, tas ini bisa dilipat-lipat hingga berbentuk kotak kecil dan dikancing dengan retsleting. Memudahkan untuk membawanya ke mana saja.
Pemasaran
Lebih kurang setahun berjalan, Greeneration Indonesia sudah bekerja sama dengan salah satu super market ternama untuk penyediaan kantong Bagoes ini. "Dengan begitu, pemasaran kami sampai ke seluruh Indonesia," kata Mufti.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, menurutnya, sudah cukup ngos-ngosan . Ia berharap, ke depannya bisa memproduksi dalam jumlah yang lebih besar sehingga bisa menjangkau pemasaran yang lebih luas.
"Kalau peluang untuk bekerja sama banyak, tapi saat ini kami ingin establish dulu. Peluang-peluang itu juga perlu dipilah-pilah, mana yang bisa dijajaki," ujarnya.
Harga kantong Bagoes cukup bervariasi, tergantung ukurannya. Untuk yang berbahan nylon, tersedia ukuran S, M, L, dan XL dengan harga Rp20.000-Rp60.000. Sedangkan yang berbahan laken, dibanderol Rp12.000-Rp16.000.
Keuntungan
Kalau tak untung, mana mungkin sebuah bisnis bisa berjalan. Sayangnya, Mufti enggan menyebutkan berapa omzet yang dikantongi per bulannya. Yang jelas, kata dia, konsep yang mereka pertahankan harus memenuhi unsur sosial, ekonomi, lingkungan. "Ya, dengan usaha gini pun bisa tajir kok," kata Mufti.
Kuncinya, fokus. Itu yang menjadi salah satu keberhasilan Mufti dan dua rekannya menjalankan bisnis ini. Pengembangan dan inovasi terus menerus menjadi kunci berikutnya.
Mereka tak melulu bicara bisnis. Misi sosial dan pendidikan juga dijalankan. Sekitar 5 persen dari hasil penjualan Bagoes disisihkan untuk menjalankan berbagai program lingkungan.
Yang sudah berjalan di antaranya waste management alias pengelolaan sampah di salah satu perumahan yang ada di Bandung. Kegiatannya, melakukan penyuluhan dan kampanye pemilahan sampah yang melibatkan peran aktif warga.
Program lainnya dijalankan di sejumlah SMP di Bandung, bertajuk "Kebunku" atau singkatan dari Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku. Kertas-kertas yang terkumpul akan didaur ulang menjadi barang-barang dengan nilai ekonomis.
"Perjuangan untuk memulainya memang tidak mudah. Tapi kami akan tetap fokus untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami, tidak hanya untuk bisnis, tapi juga untuk lingkungan," ujarnya optimistis.
Tertarik berbisnis Bagoes? Sebuah website, www.greeneration.org , bisa memberikan gambaran filosofi bisnis berwawasan lingkungan ini. Let's go green! (kompas.com)