Pemilik wajah tembeb dengan postur tubuh besar ini menepis pemikiran tersebut. Baginya, remaja tidak sekadar membutuhkan perhatian, tetapi bisa memberikan perhatian.
Kepada Pos Kupang di sela-sela penanaman pohon di Jalur 40, Kelurahan Fatukoa, Kelurahan Alak, Kota Kupang, remaja kelahiran Kupang, 4 September 1999 ini mengatakan, dirinya merasa prihatin dengan keadaan lingkungan alam saat ini yang sedang dilanda pemasan global.
Putri dari pasangan Drs. Prihartono dan Dwi Kurniawati ini mengatakan, sebagai pelajar tidak saja diisi dengan kegiatan teori di kelas, tetapi perlu juga turun ke lapangan untuk merasakan langsung dampak dari pemanasan global.
"Setiap hari kita mengeluh panas dan saat ini panas memang mencapai puncaknya yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Menanam pohon adalah salah satu cara untuk mengatasi dampak dari pemanasan global dan menanam pohon juga bisa menjaga ketahanan air pada saat musim kemarau. Pada saat hujan seperti ini, air tidak turun semua ke laut, tetapi bisa tertahan dan meresap ke dalam tanah karena adanya pohon. Makanya tanam pohon sangat penting," kata siswa kelas X, Jurusan Boga I yang meraih ranking di kelasnya ini.
Ayu yang baru kembali dari Denpasar-Bali mengikuti Telkomsel School Community Come Outbond ini mengatakan, sebagai remaja dirinya mendukung program sekolah untuk melakukan penghijauan. Dengan kegiatan penghijauan yang melibatkan langsung siswa seperti ini memberikan pemahaman kepada siswa untuk termotivasi melestarikan lingkungan di sekitarnya.
Juara I dalam debat bahasa Inggris antarsekolah yang diselenggarakan SMK Swastisari Kupang ini mengatakan, penghijauan sangat bermanfaat bagi manusia karena dapat menyerap panas dan menghasilkan oksigen bagi manusia. (teenagers'/nia)