Tempat yang biasanya digunakan untuk rapat, seminar atau pertemuan lainnya menjadi tempat Lomba Sasando yang digelar Kementerian Kebudayaan Seni dan Pariwisata RI.
Lomba terbesar dalam skala nasional ini untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Tingginya prestise lomba ini pun memacu para seniman sasando untuk menampilkan yang terbaik.
Bahkan festival ini seakan menarik kembali para seniman sasando di berbagai penjuri bumi Flobamora untuk berkumpul dan berkreasi untuk menampilkan yang terbaik bagi NTT.
Perlombaan musik sasando ini sebenarnya sudah ada sejak beberapa waktu sebelumnya dan digelar di setiap daerah seperti di TTU, Kupang, TTS dan Rote. Namun yang dilakukan saat itu adalah perlombaan musik sasando untuk memperebutkan pila Presiden SBY.
Gagasan untuk menggelar perlombaan ini, berawal dari kunjungan Presiden SBY ke Kupang pada 14 Juni 2009 lalu. Pada saat itu SBY memberi arahan agar masyarakat NTT perlu melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kesenian tradisional. Niat dan gagasan ini akhirnya diwujudkan dengan beberapa tahapan mulai dari seminar dan perlombaan hingga festival sasando.
Muncul pertanyaan pula, apakah jika tidak ada gagasan itu, kegiatan akbar itu bisa digelar? Festival Musik Sasando Piala Presiden RI yang bertema 'Ku Yakin Sampai di Sana' berlangsung sukses, pada Kamis hingga Minggu (17-20/12/2009).
Sebanyak 300 pemusik sasando yangterlibat dalam kegiatan yang baru pertama di gelar di Kupang ini. Pesertanya adalah dari Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS dan TTU, sedangkan dari Rote Ndao tidak sempat hadir karena cuaca buruk.
Puncak kegiatan ini adalah Konser Musik Sasando yang menampilkan perpaduan para musisi sasando dengan Dwiki Darmawan Orkestra di Aula El Tari Kupang, Minggu (20/12/2009).
Festival yang digagas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bersama Korem 161 Wirasakti Kupang ini menjadi obat kerinduan para pecinta sasando di NTT. Festival ini seperti memanggil dan mengumpulkan kembali para pencinta sasando dari berbagai tempat di NTT untuk bersama memberi citra yang lebih kuat pada musik sasando.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, Ir. Jero Wacik, S.E, mengatakan, Presiden SBY dan dirinya akan terus mendorong agar semua musik tradisional tetap eksis. Upaya itu dilakukan guna menghindari aset-aset budaya dan seni itu dari kepunahan.
Penguasaan kemampuan bermain alat musik ini hanya ada di kalangan tertentu saja tergambar jelas dalam Festival Musik Sasando Piala Presiden kali ini. Tergambar jelas bahwa para juaranya dari keluarga tertentu saja.
Mungkin hanya keluarga atau orang tertentu saja yang secara khusus menaruh minat pada musik jenis musik tradisional ini, tapi perlu disadari bila tidak ada pengembangan yang luas pada sasando, maka tidak mustahil suatu saat sasando akan tinggal cerita.
Sebenarnya sasando sudah menjadi ikon NTT sehingga jika orang membicarakan soal sasando maka masyarakat Indonesia langsung tahu, alat musik tersebut berasal dari NTT.
Upaya Pemprop NTT, menjadikan sasando sebagai salah satu bahan ajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah merupakan bentuk terobosan dan patut diberi apresiasi, sebab untuk menjadikan sasando bahan mulok, perlu ada aturan dari pemerintah daerah.
Kondisi yang sama pula harus diterapkan pada pengelola sekolah atau kursus musik, yang pelu menambah mata ajaran sasando. Karena, kemungkinan ada peminat musik ini, tetapi tempat belajar musik ini yang tidak ada.
Karena itu, para pemusik sasando diharapkan memberi ruang kepada siapa saja untuk berniat belajar musik ini. Menjaga agar tetap eksklusif dalam bermusik hanya akan menjadikan sasando kurang berkembang, baik dalam dinamika musik maupun peminatnya.
Sasando sendiri sudah kita ketahui, adalah sejenis alat musik petik dengan ruang resonator dari haik (anyaman dari daun lontar) yang sudah terkenal di kalangan masyarakat NTT.
Memang alat musik ini boleh dikatakan unik, karena merupakan salah satu instrument musik petik dengan keunikan ada pada bentuk, cara memainkannya dan juga bahan pembuatannya.
Alat musik ini cukup terkenal belakangan ini di tengah-tengah masyarakat, namun pertanyaannya, apakah semua masyarakat NTT mengenal sasando, ataukah semua masyarakat bisa memainkannya. Ataukah jangan sampai suatu saat alat musik ini punah dan masyarakat NTT harus 'berguru' lagi ke daerah lain untuk memainkan sasando yang sebenarnya?.
Sejarah atau asal-usul sasando ini, kita semua hanya peroleh dari ceritra-ceritra secara turun-temurun yang sudah diwariskan secara lisan maupun tulisan, namun yang pasti alat musik ini terdiri dari dua jenis, yaitu sasando gong dan sasando biola.
Perkembangan alat musik ini berjalan terus seiring dengan perkembangan zaman, terjadi pula modifikasi bentuk serta kualitas bunyi dengan pergantian dawai. fifik diganti dengan tulangan daun lontar, kulit bambu berganti senar kawat, senar tunggal diganti dawai rangkap, akustik berkembang pula ke elektronik, sasando gong berkembang ke sasando biola.
Menjadi kebanggan tentu bagi orang Rote dan juga NTT umumnya akan bentuk dan keindahan, bunyi dari sasando yang telah mengalami modifikasi, namun dipihak lain pemain sasando semakin hari semakin berkurang. Tentu menjadi sebuah pertanyaan yang muncul, mengapa pelestarian sasando menjadi menurun atau mengalami hambatan? bahkan sekarang ini pemain sasando biola pun tinggal sedkit saja. Bahkan secara umum jumlah pemain sasando tidak lebih dari 20 orang.
Menyadari akan hal itu, masyarakat NTT umumnya perlu memasyarakatkan dan melestarikan alat musik ini sehingga kekayaan seni budaya dapat dikembangkan serta dipertahankan. keterlibatan semua elemen masyarakat sangat diperlukan dalam melestarikan dan mengembangkan alat musik ini.(yel)
Sansando atau Sasandu
SALAH satu faktor yang mempengaruhi lahirnya kebudayaan suatu daerah adalah struktur dan kondisi alam dari daerah itu. Hal ini juga tampak yang terjadi pada kebudayaan orang Rote tempat asal alat musik sasando. Keberadaan tanaman lontar di Pulau Rote cukup memberi arti bagi NTT karena dari pohon itu, ide membuat sasando muncul, karena itu pohon lontar sendiri sebagai peletak dasar kebudayaan masyarakat.
Masyarakat Rote sendiri tidak memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber kehidupan, yaitu sebagai penghasil tuak, sopi (minuman tradisional), gula lempeng,gula air, gula semut, tikar, haik, sandal, topi atap rumah maupun bahan bangunan, tetapi lebih dari itu, masyarakat sudah menganggap tanaman ini memiliki nilai lebih karena sudah menginspirasi lahirnya alat musik sasando. Sampai sekarang daun pohon lontar ini masih tetap dipertahankan sebagai resonator alat musik ini.
Yusak Meok, salah satu pemateri pada seminar Musik Sasando di Hotel Kristal, Kamis (17/12/2009) lalu, mengatakan, Sasando yang seharusnya bernama sasandu (bunyi yang dihasilkan dari getar), lahir dari inspirasi penemunya dari hasil interaksi dengan alam.
Menurut Meok, ada berbagai fersi mengenai sejarah tentang alat musik ini, diantaranya, alat musik ini konon ada seorang pemuda bernama Sangguana pada tahun 1650-an terdampar di Pulau Ndana, Sangguana memiliki bakat seni, sehingga penduduk membawanya ke istana, kemudian putri istana terpikat dan meminta Sangguana menciptakan alat musik. Sangguana pun bermimpi pada suatu malam sedang memainkan alat musik yang ciptakannya, kemudian diberi nama sandu (bergetar).
"Ada jua cerita lain, alat musik ini ditemukan oleh dua penggembala yang bernama Lumbilang dan Balialang, ada juga cerita lain, sasandu ini ditemukan oleh dua sahabat yakni Lunggi Lain dan Balok Ama Sina," papar Meok.
Karena alat musik yang telah dipasang dalam haik itu beresonasi, maka disebut sandu atau sanu yang mempunyai arti bergetar atau getaran. Alat ini kemudian disebut sebagai sasandu yang berasal dari kata berulang sandu-sandu atau bergetar berulang-ulang.
Dengan perkembangan yang terjadi, maka sasandu ini lebih dilafalkan menjadi sasando, sehingga terbawa sampai saat ini, namun ucapan ini tidak merubah bentuk dan suara dari alat musik ini.
Sementara itu Petrus Riki Tukan, pemateri lainnya mengatakan, alat musik sasando merupakan sebuah fenomena budaya pada umumnya dan kesenian (musik) khususnya yang cukup menggoda naluri seniman.
Kiranya dengan perhatian SBY terhadap seni musik ini dapat mendorong semangat anak Flobamora untuk melestarikan, mengembangkan dan melindungi alat musik ini, sebagai kebanggaan daerah NTT. (yel)
"Masyarakat Rote sendiri tidak memanfaatkan tanaman ini sebagai sumber kehidupan, yaitu..." @redaktur yg terhormat: kutipan kalimat di atas, pada rangkaian paragrafnya, jadi sangat janggal tdk n relevan dgn deskripsi yg dituju/tersurat. harusnya ada tambahan kata 'saja' di depan 'tidak' (Masy. Rote sndiri tidak 'saja' memanfaatkan...) agar argumentasinya jadi pas dgn maksud yg diinginkan.