Seperti disaksikan Pos Kupang kemarin pagi di lokasi tersebut, jalan menuju lokasi tambang dijaga ketat oleh warga dengan senjata di tangan. Selain menggunakan senjata tajam, ada tiga pos penjagaan dikawali oleh warga. Ketiga pos tersebut masing-masing berjarak kurang lebih 200-500 meter. Penjagaan tersebut dimulai dari kaki hingga puncak Gunung Mbopong.
Bonefasia Wela (33), warga desa setempat, mengatakan, aksi pemblokiran tersebut sudah dimulai sejak Senin (11/1/2010) lalu. Aksi ini terpaksa dilakukan warga karena pertemuan antara warga dan perwakilan investor serta pemerintah tidak menemui kesepakatan. "Sudah sejak awak kami tolak tambang, namun pemerintah dan pengusaha masih tetap mau datang. Jangan hanya tabrak saja. Anak cucu kami nanti mau ditempatkan di mana?" tanya Bonefasia.
Dia mengatakan, meskipun sudah ditolak oleh warga, namun sejak empat hari terakhir, perwakilan perusahaan dan beberapa oknum warga yang menyutujui tambang terus berusaha untuk masuk. Setiap kali mereka datang, warga selalu menolak dengan halus melalui dialog. Dialog terakhir terjadi, Kamis (14/1/2010).
"Kemarin untung mereka cepat pulang. Kalau mereka tidak pulang dan menerobos pagar betis dari kami, pasti terjadi perang," kata Bonefasia.
Hal senada dikatakan empat orang tokoh masyarakat setempat, masing-masing Fransiskus Rata (85), Bernabas Landa (69), Florianus Loma dan Nikolaus Sagu. Mereka mengatakan, sudah tidak ada tempat lagi untuk dialog. Warga siap mati demi menolak tambang.
"Yang akan meraup keuntungan dari tambang haya dua, yakni pemerintah dan pengusaha. Sementara kami hanya akan menjadi korban," kata Rata dan Landa.
Lebih lanjut mereka mengatakan, aksi warga yang bersiaga dengan senjata di hutan lokasi Gunung Mbopong yang akan dieksplorasi itu tanpa dikoordinir. Langkah tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah dan investor. "Dialog di dalam gedung, tapi di sekitar hutan ini tidak ada dialog. Siapa pun yang datang itu berarti perang," kata Landa. (ee)
salut untuk warga Latung...mempertahankan hak adalah kewajiban!! harusnya bisa dicontoh oleh daerah lain yg menjadi korban!!
Luar biasa : "Yang akan meraup keuntungan dari tambang haya dua, yakni pemerintah dan pengusaha. Sementara kami hanya akan menjadi korban," kata Rata dan Landa. Warga Latung sangat memahami siapa musuh mereka sebenarnya. Dan perhatikan, "aksi warga yang bersiaga dengan senjata di hutan lokasi Gunung Mbopong yang akan dieksplorasi itu tanpa dikoordinir. Langkah tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah dan investor. "Dialog di dalam gedung, tapi di sekitar hutan ini tidak ada dialog. Siapa pun yang datang itu berarti perang," kata Landa. Panjang umur perjuangan melawan tambang dan perusakan lingkungan! Panjang umur perjuangan melawan kapitalisme, komodifikasi alam dan eksploitasi!! Panjang umur perjuangan otonom antihirarki! www.kontinum.org
TAMBANG JADI....DARAH MENGALIR....!!!!
Teman-teman pecinta kehidupan, itulah kecerdasan masyarakat lokal. Mereka tidak menghendaki emas, besi, mangan, atau batubara. Yang mereka kehendaki adalah hidup baik, aman, dalam relasi yang harmonis dengan alam ciptaan. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang memikirkan masa depan, hidup berkelanjutan. Terima kasih untuk kecerdasan anda semua. Ingatlah bahwa anda semua tidak berjuang sendiri. Doa n berkatku
Lihatlah masalah dari berbagai sisi, kalau memang ada masalah masyarakat dgn perusahaan pertambangan sebaiknya ditanyakan masalah tersebut apa kemudian laporkan ke Dinas Pertambangan Ngada sebagai pihak terkait, saya rasa Kadis Pertambangan bisa menyelesaikan masalah tersebut. Kalo rakyat tdk menghendaki ya distop saja. Tolong Dinas Pertambangan jelas jgn anggap enteng masalah ini