»Home » Kupang News » Kupang Crime »
Beny Jahang
Dua Siswa SMA di Kupang Tewas
Setelah sepeda motor ditendang oknum polisi
Selasa, 13 Oktober 2009 | 11:51 WITA

Peristiwa naas ini terjadi di depan swalayan Barata, Jalan Mohamad Hatta-Kupang, Senin (12/10/2009) sekitar pukul 07.20 Wita. Setelah terjatuh dari sepeda motor, Kristovel Taebenu dilindas angkutan kota (Angkota) Genesis yang melintas dari arah berlawanan. Sedangkan Jefri Lai sempat dirawat intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Prof. Dr. WZ Johannes Kupang. Namun, sekitar pukul 17.30 Wita  Jefri Lai meninggal dunia. Kristovel dan Jefri, tinggal di RT 14/RW 06, Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Suardi, salah seorang saksi mata yang ditemui Pos Kupang di tempat kejadian perkara (TKP) mengungkapkan,  peristiwa itu bermula saat Jefri Lai dan Kristovel Taebenu, mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm melaju dari arah Kuanino, Jalan Sudirman menuju Kupang. Kristovel dan Jefri hendak ke sekolah mereka yang tidak jauh dari Rumah Sakit Wirasakti-Kupang untuk mengikuti ujian tengah semester.

Saat kedua korban melintas di Jalan Mohamad Hatta, mereka dilihat anggota Satlantas Polresta Kupang yang sedang patroli menggunakan mobil Satlantas di Jalan Mohamad Hatta.Petugas Satlantas yang berada di mobil patroli, berteriak menggunakan mikrofon, ''tangkap itu, tangkap itu," ketika melihat keduanya  melintas di ruas jalan itu. Mendengar teriakan itu kedua korban memacu kendarannya lebih kencang menuju arah Kupang.

"Kita mendengar jelas suara melalui pengeras suara dari mobil Polantas yang sempat membuntuti kedua korban dari arah belakang, 'tangkap itu, tangkap itu. Permintaan anggota Satlantas di mobil itu terdengar beberapa kali. Saya lihat kedua anak sekolah itu langsung memacu kendaraannya dengan kencang," tutur Suardi.

Dia mengaku tidak melihat langsung, apakah kedua korban jatuh ditendang atau tidak. Namun Suardi sempat melihat anggota polisi yang bertugas menjaga arus lalu lintas di depan swalayan Barata.

"Beberapa saat kemudian saya melihat keduanya sudah jatuh di aspal. Posisi korban yang meninggal terlindas ban angkota yang datang dari arah berlawanan. Saya mau angkat tubuh korban, tetapi isi otaknya semua terburai keluar, saya takut. Saya lalu tinggalkan lokasi kejadian. Demikian pula Jefri Lai, saat itu tidak sadarkan diri," kata Suardi, didampingi istrinya yang menangis karena merasa iba melihat tubuh Kristovel digilas angkota itu.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang di RSU Kupang menyebutkan, jatuhnya kedua korban bermula ketika dua anggota Samapta Polda NTT sedang membantu menyeberangkan beberapa orang perawat dari depan swalayan Barata menuju RSU Kupang.
Kedua anggota Polda itu sempat mendengar teriakan dari mobil Satlantas. Pada saat bersamaan muncul sepeda motor yang dikendarai Jefri menuju Kupang. Melihat keduanya mengendarai sepeda motor tanpa helm, oknum anggota polisi dari Polda NTT, menendang sepeda motor tersebut. Akibatnya, kedua korban  kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.

Ketika sepeda motor terjatuh, Kristovel dan Jefri terlempar sekitar empat meter. Kristovel terseret ke arah kanan, dan pada saat bersamaan dari arah berlawan melaju Angkota Genesis DH 2067 EA dikemudikan Marthen Daniel Ndolu, warga RT 38/RW 11, Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima.  Saat jatuh dan terlempar itu  Kristovel masuk dalam kolong angkota dan digilas ban depan sebelah kanan Angkota Genesis. Kepala Kristovel pecah.

Sedangkan Jefri Lai, terseret ke sisi kiri jalan depan Show Room Suzuki. Kepala Jefri luka parah akibat benturan di aspal. Jefri kemudian dirawat di RSU Kupang. Namun, sekitar pukul 17.30 Wita, Jefri meninggal dunia di  Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU Kupang.

Disaksikan Pos Kupang isi otak Kristovel Taebenu, masih lengket pada bagian ban kanan depan dan bodi samping kanan Angkota Genesis. Bagian kanan samping angkota dipenuhi bercak darah korban.

Musa Taebenu, orang tua Kristovel Taebenu, menangis histeris ketika melihat tubuh anaknya yang terbaring kaku di Instalasi Pemulasaran Jenazah (IPJ) RSU Kupang. Musa Taebenu bersama istrinya Ny. Yane Taebenu, sempat mengusap mata anaknya yang masih terbuka.


Namun mata anak kedua dari enam bersaudara itu tak juga  tertutup. Sementara bagian kepala belakang korban terus mengeluarkan darah segar.  "Anak saya tidak tahu  bawa sepeda motor, kenapa sampai terjadi seperti ini," kata Ny. Yane Taebenu sambil menangis. (ben/den)

"Anggota Polisi yang Tendang"


WAJAH Marthen Daniel Ndolu (38), terlihat pucat. Sesekali pria berbadan tambun itu turun dari atas Angkota Genesis lalu melihat ke bagian kolong mobil untuk melihat ceceran otak dan bercak darah yang masih menempel di ban dan samping kanan angkota yang dikemudikannya.

Beberapa kali dia menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat bagian samping angkota penuh darah korban Kristovel Taebenu, siswa kelas I SMA El Tari Kupang.  

Marthen Daniel Ndolu yang ditemui Pos Kupang di tempat kejadian perkara (TKP), Jalan Mohamad Hatta, Senin (12/10/2009), menceritakan kejadiannya. Diakuinya, saat itu ia
melaju dari arah Kupang menuju Kuanino.

Dalam angkota, kata Marthen, ada beberapa orang penumpang. Salah satunya seorang pegawai negeri sipil yang duduk di bagian depan sebelah kiri. Ketika sedang mengemudikan kendaraan, tutur Marthen, ia melihat dari arah depan muncul sepeda motor yang dikendarai kedua korban.

Pada jarak yang sangat dekat, lanjutnya, ia melihat sepeda motor ditendang anggota polisi yang bertugas di depan swalayan Barata dan RSU Kupang. Tendangan anggota polisi itu, membuat kedua korban hilang kendali dan keduannya jatuh bersama sepeda motor.
Salah seorang korban terseret ke dalam kolong angkota yang dikemudikanmya, sehingga tergilas ban depan sebelah kanan angkota. "Saya lihat anggota polisi tendang sepeda motor yang dikendarai  kedua korban. Saksinya banyak, termasuk pegawai yang duduk di depan angkota dan konjak saya. Saya tidak bohong karena pandangan saya ke depan," kata Marthen.

Marthen mengatakan, ia bukan pelaku tabrakan yang menyebabkan tewasnya Kristovel Taebenu.  "Yang membuat kedua korban jatuh adalah anggota polisi yang menendang sepeda motor yang dikendarai kedua korban. Saat itu saya sedang melajukan kendaraan, tetapi korban terseret ke dalam kolong mobil sehingga digilas ban," tutur Marthen.

Beberapa warga di TKP sempat memberikan penguatan kepada Marthen Daniel Ndolu untuk memberi keterangan yang sebenarnya. "Tidak usah takut. Bukan bu...(Marthen, Red) yang salah. Banyak yang lihat kalau kedua korban tadi jatuh karena sepeda motornya ditendang anggota polisi," kata beberapa warga di TKP yang menyaksikan peristiwa itu. (ben/den)


Aparat Kepolisian Bungkam


APARAT kepolisian di Polda NTT dan Polresta Kupang, memilih bungkam ketika hendak dikonfirmasi wartawan terkait peristiwa tewasnya Kristovel Taebenu. Para wartawan yang hendak mengkonfirmasi tentang peristiwa itu sempat "dipingpong" aparat Polresta Kupang.

Pihak Satlantas Polresta Kupang yang dihubungi wartawan keberatan untuk menjelaskan kejadian yang menewaskan Kristovel Taebenu  dan Jefri setelah sepeda motor mereka ditendang oknum anggota polisi dari Polda NTT.

Kanit Lakalantas Polresta Kupang, Aiptu Chris Sinlaloe, yang ditemui wartawan mengatakan, tidak bisa memberikan penjelasan karena masih menyusun laporan kronologis kejadian itu untuk diberikan kepada Wakapolresta Kupang, Kompol Kuswoto, S.Ik. "Sebaiknya kaka dong (wartawan, Red) ketemu Pak Wakapolresta saja. Laporan kronologisnya kami akan berikan kepada beliau," kata Sinlaloe.

Beberapa saat kemudian Pos Kupang bersama beberapa wartawan mendatangi Markas Polresta Kupang untuk bertemu dengan Kuswoto, S.Ik. Namun saat itu, Kuswoto sedang menerima Kanit Lakalantas Polresta Kupang dan seorang anggota Satlantas yang membawa laporan kronologis kejadian tersebut.

Setelah kedua anggota polisi itu keluar, wartawan menemui Sekretaris Wakapolresta untuk meminta waktu bertemu dengan Kuswoto. Setelah dihubungi sekretarisnya, Kuswoto mengakui tidak memiliki waktu bertemu wartawan karena alasan sibuk menandatangani Surat Keterangan Catatan Kriminal (SKCK). "Bapak bilang lagi sibuk menandatangani SKCK dan surat-surat lain," kata sekretarisnya kepada wartawan.


Kuswoto yang dihubungi melalui telepon, Senin (12/10/2009) sekitar  pukul 17.30 Wita mengaku telah menerima hasil olah TKP dari anggota Satlantas Polresta Kupang.

Sesuai hasil olah TKP, jelas Kuswoto, korban jatuh dari atas sepeda motor lalu digilas angkota yang sedang melintas. Pada saat kejadian, lanjutnya, kedua korban tidak mengenakan helm dan sepeda motor tanpa plat nomor.

"Memang saat itu ada dua anggota polisi dari Samapta Polda NTT yang tugas di depan swalayan Barata. Saya belum tahu bagaimana kedua anggota polisi itu menghentikan sepeda motor yang dikendarai korban setelah mendengar permintaan anggota polisi di atas mobil Satlantas," kata Kuswoto.

Sementara Dir Samapta Polda NTT, Kombes Polilisi Joko Irianto, yang hendak dikonfirmasi wartawan tidak berada di tempat. Sejumah stafnya mengatakan, Kombes Irianto, tidak berada di tempat karena masih mengikuti kegiatan pengawasan dan pemeriksaan.

Salah seorang perwira di Samapta Polda NTT, mengaku sempat memanggil anak buahnya yang bertugas di depan swalayan Barata. Sesuai keterangan kedua anggota itu mereka tidak menendang kedua korban.

"Kalau anak buah saya menedang, maka kaki anggota saya pasti patah karena sepeda motor yang dikendarai kedua korban melaju dengan kencang. Tetapi, kaki anak buah saya juga tidak apa-apa, artinya mereka tidak menendang sepeda motor milik korban saat kejadian," kata perwira tersebut. (ben/den)

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 100 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 3 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

hidup mati di tangan Tuhan

Komentar Oleh: kian | Sabtu, 6 November 2010 | 12:26 WITA

Ih.. sadis benar, motor dgn keceptan tinggi kalau disentuh saja pake sol sepatu botnya polisi tuh bisa hilang keseimbangan, nah untuk anak-anak yg grogi coba sendiri, praktekkan!!, himbauan saya untuk yang jiwa belum stabil sebaiknya jangan maen motor di jalan umum,kasian banyak oknum polisi yang masuknya pake nyogok. SOP (standar operasional prosedur)satlantas kan beda dengan anggota Samapta atau polisi biasa juga boleh memberikan surat Tilang?. mana yang benar.

Komentar Oleh: Kaboy | Kamis, 16 September 2010 | 14:27 WITA

tragissss!

Komentar Oleh: sma kupang | Kamis, 15 Oktober 2009 | 09:01 WITA

pola hidup yang seperti anjing biasanya akan mengakibatkan hal yang bisa merugikan orang lain. mungkin juga tunjangan untuk polisi masih harus ditambah lagi. kalau bisa ya lebih profesional lagi dong...,biar bisa merubah pola hidupnya....

Komentar Oleh: sam | Rabu, 14 Oktober 2009 | 20:56 WITA

seharusnya tidak perlu melakukan "tendangan" seperti itu.. toh korban tidak melakukan perlawanan pada polisi contohnya memukul dsb..mereka hanya melarikan diri dari polisi. saya rasa tugas kepolisian sebagai pelindung dan pengayom masyarakat perlu di pertanyakan lagi...apalagi tidak mau mengakui perbuatannya sendiri itu berarti mereka hanya seorang pengecut belaka...mohon pada pihak kepolisian untuk menuntaskan masalah ini dengan fair dan terbuka....

Komentar Oleh: daud | Rabu, 14 Oktober 2009 | 08:07 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Selasa, 7 Februari 2012 | 22:42 WITA
Senin, 6 Februari 2012 | 16:03 WITA
Senin, 6 Februari 2012 | 15:45 WITA
Senin, 6 Februari 2012 | 15:27 WITA
Senin, 6 Februari 2012 | 15:23 WITA