Status tangkapan ini berlaku 1 x 24 jam bagi kedua tersangka perencana pembunuhan Yohakim Laka Loi Langoday (53). Kemungkinan statusnya akan dinaikkan menjadi tahanan Selasa (4/8/2009) hari ini. Sejak kemarin pagi, keluarganya menunggu selama putri Bupati Lembata ini menjalani pemeriksaan.
Pengamatan Pos Kupang, Senin malam, Erni ditempatkan di ruang tahanan di gedung PPA di sebelah utara gedung Polres Lembata. Ruangan ini sebelumnya ditempati tersangka Mathias Bala. Bala dipindahkan ke kamar tahanan di gedung utama bersama-sama dengan Lambertus Bedi Langoday dan Muhammad Kapitan yang telah ditahan sejak Rabu (23/7/2009).
Ketika Erni digiring dari ruang penyidikan ke kamar tahanan yang terletak di belakang gedung Mapolres, puluhan sanak keluarga dan keluarga korban menyaksikannya. Anggota DPRD Lembata terpilih periode 2009-2014 ini tampak pasrah menerima kenyataan ini.
Wajahnya tampak kusut dan kelelahan menghadapi pemeriksaan maraton. Ia tak banyak berkomentar mengenai tangkapan yang dikenakan kepadanya.
Pemandangan serupa juga tampak dari wajah Bambang. Pria berkulit sawo matang mitra kerja Erni ini juga tak mengira akan dikenakan status tangkapan dan diinapkan di ruang tahanan Polres Lembata.
Erni, yang mengenakan pakaian resmi warna gelap bersepatu hak tinggi, datang ke Mapolres Lembata didampingi penasehat hukumnya, Simon Nahak, S.H, M.Hum. Turun dari mobil nisan terano, ia disambut keluarga korban yang hendak mengalungkan papan bertuliskan 'tersangka'. Niat keluarga tak terwujud karena dihalangi anggota polisi.
Erni yang tak menyangka akan mendapatkan sambutan demikian terlihat kaget. Dia langsung dibawa anggota polisi masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Istri tersangka, Mathias Bala, Ny. Kristina, menyemprotnya dengan kata-kata makian pedas memerahkan telinga. Ny. Kristina melampiaskan kemarahan kepada Erni yang telah menjebloskan suaminya dalam kasus pembunuhan yang sangat menyita perhatian publik Lembata itu.
Belum puas dengan makiannya, Ny. Kristina yang tetap menunggu pemeriksaan Erni Manuk, kembali meluapkan amarahnya saat Erni keluar dari dalam ruang penyidikan hendak ke kamar kecil. Ny. Kristina yang tampak emosional dan kesal menyemprotnya lagi dengan kata-kata kecaman dan makian yang lebih pedas.
Semua orang yang menyaksikan pemandangan ini geleng-geleng kepala. Erni tak membalas sepatah kata pun menanggapi hujatan Ny. Kristina.
Sementara Bambang Trihantara hadir di Mapolres Lembata selang sekitar 45 menit setelah kedatangan Erni. Bambang menumpang sepeda motor ojek. Kehadiran konsultan proyek ini mendapat cibiran dan cemoohan belasan anggota keluarga korban. Ia tak berkutik dan terus berjalan menuju ruang pemeriksaan. Selama pemeriksaan, Bambang didampingi kuasa hukumnya, A. Rachman H Achmad. (ius)
satu permintaan dari istri pa bedy katakanlah dengan sejujurnya...........dia sangat mencintaimu dalam suka dan duka....hati nurani tidak bisa dibohongi....makasih om polres lembata semoga sukses terus ya salam dari negeri samba
sadar bung kekuasaan itu bukan dijadikan sebagai perantara untuk melakukan selakigus melegalkan sebuah tindakan yang biadab
Mengapa harus lempar batu sembunyi tangan..? setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan pasti ada resiko dan konsekuensinya.....perlu ;diingat pepatah kuno mengatakan bahwa" yang berbau kalau disembunyikan serapat-rapatnya suatu saat bau itu akan tercium juga" Proficiat buat kinerja dari pihak Kepolisian POLRES Lembata yang dengan gagah berani mengusut kasus mbak Erni Calon anggota DPR Lembata....BRAVOOOOOOOOO
Akhirnya melalui kerja keras aparat kepolisian POLRES LEMBATA mengambil langkah yang cukup maju dengan melakukan penahanan terhadap tersangka erni manuk.Namun proses proses hukum masih panjang dan masyarakat yang merindukan keadilan hukum harus menunggu.Pengadilan yang akan menentukan apakah hukum akan melindungi masyarakat atau menghamba pada kekuasaan.Karena bagaimana pun juga erni manuk adalah anak bupati lembata dan anggota DPRD terpilih periode 2009-2014.Ini tantangan bagi masyarakat Lembata di tengah rasa pesimis dan ketidak percayaan kita terhadap birokrasi pemerintah kabupaten lembata yang korup,tdk visioner dan reformasi birokrasi yang tdk berjalan..Ketua Lingkar Muda Lembata Jakarta Raya (LINGKAR MATA JAYA)
Wah...rupanya Erni itu Anggota DPRD Lembata terpilih periode 2009-2014...hebaaaaaat, ceeeeeerdas, kreaaaaatif. Luar biasa. Saya jadi semakin paham sekarang kenapa Lembata tidak maju-maju juga. Saya tidak komentar soal terlibat atau tidak anggota dewan kita yang terhormat itu. Biar polisi dan lembaga peradilan yang akan membuktikannya. Tapi satu hal membuktikan betapa aroma otoritarian yang dipraktekkan secara masif selama kekuasaan Soeharto itu sekarang beralih ke Lembata. Buktinya terlalu kasat mata:(1) degradasi moral karena gagalnya pembangunan akhal dan moral. Pemerintah adalah promotor, bukan hanya lembaga adat dan agama. Ketiga lembaga itu harus bersinergi, tidak bisa berjalan sesuai dengan kepentingannya sendiri. Nampaknya Lembaga agama dan Adat berjalan pada satu sisi rel, sementara pemerintah berjalan pada sisi rel yang satunya...ya tidak bakal ketemu. (2) Pembangunan Sarana dan Prasana moda ekonomi tak pernah beranjak. Apa yang ada selama era soeharto tetap seperti yang terlihat sekarang. Yang berubah tentu bertambahnya pemasukan untuk kaum legislator, eksekutor dan yudikator. Mengapa bertambah? Lembata termasuk salah satu daerah yang dipromosikan sebagai daerah tertinggal yang butuh suntikan dana dari pusat. Hal yang kontras dengan kekayaan alamnya. Lantas bantuan dana itu mengalir ke mana? Pembangunan rumah-rumah mewah untuk para pejabat amat kontras dengan rumah kebanyak warga yang berlantai tanah adalah salah satu bukti betapa bantuan itu telah menemukan kanalnya secara keliru. Sementara masyarakat hanya dininabobokan dengan bantuan raskin (untung bukan ubi kayu atau makojawa. (3) Mental permisif masyarakat lembata yang membuatnya hanya menjadi penonton di pinggir lapangan. Membiarkan para pejabatnya bergelimang harta. Mental demikian membuat masyarakat tidak kritis menanggapi situasi sosial politik lokal Lembata. Merasa bahwa oto sudah masuk kampung, ya cukup toh, tidak perlu repot-repot. Sikap ini akan selamanya membuat kejahatan struktural tetap beranak pinak di bumi Lembata. Kasus pembunuhan Alm. Yohakim seharusnya mulai menohok kesadaran masyarakat bahwa kini saatnya bangkit dan melawan struktur dan birokrasi yang korup dan menyengsarakan. Dan bukannya terlena lantaran-misalnya- telah diberi rp 20.000 supaya bisa memilih sesuai dengan arahan. Kalau itu benar, betapa memalukan dan hinanya masyarakatku. Harga dirimu hanya dihargai sebesar itu? Citcitcitcitcitcit....!!!(4) Masih sangat sedikit para gembala umat (para pastor) yang mencoba mencermati situasi korup pada pemerintahan lokal (lebih banyak yang cuek bebek), mulai dari pusat pemerintahan kabupaten hingga ke desa-desa dan memberikan pembelajaran kepada umatnya. Mereka lupa bahwa Yesus dulu juga gencar berpolitik hingga dibunuh sebagai penjahat politik. Yang terdengar hanya seorang Vande Raring, SVD. Atau para imam juga sibuk mempromosikan kemiskinan umatnya untuk mendapat jatah kendati sekedar remah-remah dari meja tuannya di jakarta dan kota besar lainnya? Saya ingat suatu ketika kasus Bupati Larantuka, ada rekan imam yang dengan bangganya menceritakan bahawa dia mendapat sebuah barang yang canggih dan mahal harganya dari Bupatinya...Wuih.... Sontak rekan-rekan imam lain bertanya "terus umat dapat apa?" Tak ada jawaban. Memang iya, tidak ada jawaban karena jatah umat sudah diambil oleh imamnya..Weh weh..adalah lebih baik jika orang itu tidak dilahirkan.