Sedangkan tiga tersangka lainnya, yaitu Lambertus Bedi Langoday, Mathias Bala dan Muhammad Kapitan masih ditahan.
Sebelumnya, Kapolres Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H, kepada wartawan di ruang kerjanya usai penangkapan keempat tersangka, Jumat (24/7/2009), mengatakan, keempat tersangka tersebut bersama- sama tiga tersangka lainnya terlibat pembunuhan korban Langoday.
Kapolres juga menegaskan bahwa semua tersangka tidak akan dilepas sampai seluruh proses hukum kasus ini tuntas. Namun, penyidik belum berhasil dikonfirmasi mengenai dilepasnya keempat tersangka itu. Informasi yang dihimpun Pos Kupang, Senin (27/7/2009) siang, menyebutkan, dilepasnya empat tersangka itu boleh jadi merupakan taktik penyidik untuk memancing reaksi dari tiga tersangka lain.
Catatan Pos Kupang, dari tiga tersangka yang masih mendekam dalam sel Mapoles Lembata, hanya Bala yang relatif koperatif dengan penyidik. Ia telah "membuka kartu" mengenai keterlibatanya dan tersangka lain, juga tentang digunakannya mobil Suzuki Vitara merah milik Theresia Abon Manuk alias Erni Manuk oleh para pelaku untuk pergi menghabisi korban.
Tersangka Bedi Langoday yang adalah adik kandung korban, semula kooperatif namun belakangan mulai tutup mulut. Sedangkan tersangka Kapitan masih membantah keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Kepala Sub Dinas Pengawasan Laut dan Pantai Dinas Perikanan Kabupaten Lembata itu.
Hari Senin kemarin, keempat tersangka yang sudah dilepas itu terlihat hadir di Mapolres Lembata. Aji Aries dihadirkan di dalam ruang penyidikan untuk dikonfrontir keterangannya dengan tersangka Kapitan dan saksi Goris Making.
Keberadaan Erni Manuk
Goris Making kepada Pos Kupang di Mapolres Lembata menyatakan ia dikonfrontir keterangannya mengenai keberadaan Erni Manuk di Lembata pada hari hari Selasa (19/5/2009). Goris, hari itu mengurus surat keterangan fiskal di Dinas Pendapatan Penerimaan, Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) mengaku bertemu Erni Manuk, Bambang dan Kapitan di kantor Bupati Lembata.
Erni Manuk, kata Goris, menegurnya dengan menyatakan caleg kalah. "Bukti saya ketemu dia saat itu karena saya datang ke sana urus fiskal untuk ikut tender. Dia (Erni Manuk, Red) katakan 'hei caleg kalah'. Saya jawab dia, kita akan dukung. Saya omong dalam jarak yang dekat," kata Goris.
Abubakar, kepada Pos Kupang kemarin menegaskan dirinya sama sekali tak tersangkut paut kasus kematian Yohakim Langoday.
"Kami empat orang dilepas, tetapi setiap hari masih wajib lapor. Keadaan seperti ini, saya tidak bisa ke kampung-kampung timbang rumput laut. Sudah dua hari, saya tidak bisa kerja. Saya rugi," kata pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat ini.
Abubakar, ayah lima anak ini tinggal di Lewoleba sejak 1990. Ia mengaku cukup dekat dengan korban dan adiknya Karolus Langoday. (ius)
Buka matahati dan lihatlah kebenaran, janganlah uang menutupi kebenaran dengan kekejian. Singkirkan para pembunuh dari bumi Lembata, perbuatan itu terlalu hina jangan mengotori bumi yang tenang dan damai hanya karena uang.