Mobil ini disita penyidik gabungan Direskrim Polda NTT dan Polres Lembata dari rumah ayah Erni Manuk, Drs. Andreas Duli Manuk, di Kota Lewoleba, Minggu (27/7/2009). Penyitaan mobil tersebut dipimpin Ketua Tim Penyidik Direskrim Polda NTT, AKP Yeter Benediktus Selan, dan Kasat Reskrim Polres Lembata, AKP I Gede Putra Yasse, S.H, serta puluhan anggota polisi.
Ratusan warga menyaksikan penyitaan modil itu memenuhi halaman rumah orang Andreas Duli Manuk, dan di jalan raya ingin melihat langsung apa yang sedang terjadi.
Andreas mendadak keluar dari dalam rumahnya. Mengenakan celana pendek dan baju kaos singlet warna putih, Andreas memarahi dan mengusir ratusan warga keluar dari halaman rumahnya yang terletak di belakang Gereja Katolik Lewoleba. Mereka menghindari dari halaman rumah dan jalan raya di depan rumahnya sekitar 30 meter. "Keluar. Keluar, kamu ada urusan apa," hardik Andreas, berkali-kali.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H, dimintai tanggapannya mengatakan, kemarahan Andreas Duli Manuk, kemungkinan hanya emosi sesaat. Sebenarnya, kata Johannis, Andreas tak perlu emosi sejauh itu. Mungkin hanya emosional sesaat, tapi kalau dari jabatan yang sementara diembannya, tak perlu bereaksi berlebihan.
Johannis menjelaskan, sebelum mobil ini disita, dalam suatu kesempatan silahruhami kepada bupati ia sudah menyampaikan bahwa suatu waktu jika dibutuhkan mobil ini akan diambil lagi (olhe penyidik). Andreas Manuk menyilakannya.
"Saat itu mobil disandra oleh keluarga korban (Yohakim). Saya beritahukan kepada dia (Andreas Duli Manuk). Bapak, mobilnya sudah saya ambil dan amankan di kantor polisi. Tetapi, kalau sesewaktu saya butuhkan, sebagai barang bukti saya akan ambil lagi. Ia menerima baik. Kemungkinan tadi, dalam kondisi kurang bagus, emosinya kurang terkendali," kata Johannis.
Drama penyitaan dimulai saat kedatangan ketua tim penyidik menumpang mobil patroli dan sebuah truk Dalmas mengangkut personil polisi belok masuk ke rumah Andreas Duli Manuk. Warga pun berdatangan ke lokasi dan ingin menyaksikan apa yang akan terjadi.
Hanya sekitar 15 menit berselang, ratusan warga sekitar dan dari beberapa penjuru di Kota Lewoleba sudah memadati halaman rumah tersebut. Namun, tim penyidik menunggu sekitar 25 menit sampai mendapatkan tanda tangan surat penyitaan mobil.
Dua kali tim penyidik hanya ditemui dua orang sopir dan seorang anak laki-laki remaja. Sedangkan penghuni inti rumah ini tak memperlihatkan diri dan berada di dalam rumah.
Tak lama berselang, datanglah seorang pria bertubuh tinggi dari jalan raya memasuki halaman rumah Andreas Manuk. Pria ini menghampiri Yeter Selan dan keduanya berjalan masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian surat penyitaan ditandatangani Meli Manuk.
Mobil merah ini diparkir di tengah antara mobil Suzuki X-Trail EB 1 F dengan eks mobil bupati Nissan Terrano EB 2144 F yang telah disewabelikan. Kunci mobil juga tak ada sehingga anggota polisi menarik turun kaca untuk bisa membuka pintu mobil. Mobil ini didorong keluar ke jalan raya dan ditarik truk Dalmas.
Sekitar 100 unit sepeda motor membentuk konvoi panjang ketika mobil merah ini ditarik truk Dalmas menuju ke Mapolres Lembata yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Andreas Duli Manuk. Ada warga yang mengira ada pejabat penting yang diarak di jalan raya, ternyata hanya mobil merah milik Erni Manuk yang selama ini menjadi buah bibir warga. (ius)
Tidak ada warga negara yg kebal akan hukum.Biarpun pejabat dan keluarganya kalau salah ya harus di hukum.sebagai pejabat yg bijaksana harusnya memberikan teladan yg baik bagi masyarakat dengan menghormati hukum sebagai panglima di negeri ini.siapapun yg di duga terlibat di dalam kasus ini harus tetap diperiksa oleh pihak penegak hukum sesuai dgn UU dan ketentuan yg berlaku dan harus tetap menghormati asas pra-duga tak bersalah.
bupati tu jangan sok wibawa,kalau salah,salah aja,jangan sok tau,anak mu itu pantas di hukum,mengaku aja,saya mau yang membunuh yohakim langoday di hukum mati.mreka juga punya anak dan istri,jika hal ini terjadi pada mrka?saya menyarankan polisi jangan terlalu gampang kena rayuan,imbalan uang,itu uang rakyat.
tolong ya saya hanya mau kasus ini di usut sampai tuntas,kasihan istri dan anaknya,buktikan bahwa polisi indinsia itu mampu,jangan asal omong doang,buktikan hukum di indonesia masih brlaku.saya ingin orang lembata yang merasa dirinya sok yang cuma ngomong buktikan kalau kamu itu mampu menjadi pemimpin.
Terimah kasih atas ketegasan Aparat hukum smoga Tuhan memberkati.
Usut sampai tuntas!!!!! Ini Akan menjadi pelajaran