»Home » Regional NTT » Humbalorata »
eugenius moa
Bedi Langoday: Saya Bersalah
POS KUPANG/EUGENIUS MOA
Tersangka Lambertus Bedi Langoday (baju kaos you can see) digiring anggota Direskrim Polda NTT, Aiptu Moris Laka, menuju mobil patroli polisi dan dibawa ke Mapolres Lembata.
Sabtu, 25 Juli 2009 | 10:04 WITA

Jenazah Kepala Sub Dinas Pengawasan Laut dan Pantai, Dinas Kelautan dan Perikanan Lembata ditemukan di hutan bakau, sebelah timur Bandara Wunopito, Lewoleba, Rabu (20/5/2009) pukul 15.00 Wita. Banyak yang tak percaya, sang adik terlibat dalam kasus pembunuhan kakak kandungnya itu.


Tetapi demikianlah fakta yang ada. Tentu bukan rekayasa atau  karena tekanan, Yohana Langoday, keponakan Yohakim memberikan pengakuan yang jujur kepada  Kapolres Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H. Selama seminggu, Johana  diajak tinggal bersama di rumah dinas  Kapolres Lembata di Jalan Trans Lembata. Siang  berganti malam, wanita remaja berpenampilan tomboi ini menjalani kehidupan yang biasa.

Selama ini, Yohana sering berubah-ubah keterangan. Menyembunyikan sesuatu misteri, Yohana akhirnya luluh. Dia tak tega menyaksikan nyawa bapak besarnya  dihabisi para pelaku pada hari Selasa  (19/5/2009) sekitar pukul 14.00 -16.00 Wita. Keesokan hari, baru ditemukan jenazahnya. Yohana berterus terang, Mr. X yang diakuinya menepuk bahunya adalah bapak kecilnya,  Bedi Langoday

Pengakuan Yohana kembali diungkapkannya  kepada tim  penyidik  Direskrim Polda NTT.  Hari Minggu (19/7/2009), tim dipimpin AKP Yater Selan, Aiptu Buang Sine, dan Moris Anung Ilu, tiba  di Lembata mem-back-up kasus ini. Yohana diajak menginap bersama. Dua hari dua malam  bersama penyidik,  Yohana buka mulut menyebut Bedi Langoday menepuk bahunya. "Lihat kamu punya bapak besar," kata  Bedi kepada keponakannya itu seperti dikutip Yohana kepada penyidik.

Bedi tak berkutik menjadi target diciduk. Hari Rabu  siang, tim penyidik Direskrim Polda NTT dan Satreskrim Polres Lembata menciduknya di kediamannya. Gempar di seluruh Kota Lewoleba. Ternyata adik kandung  yang cukup vokal dan sering ikut bicara tentang ketimpangan salah satu pelaku pembunuhnya.

Pemeriksaan maraton, hari Kamis malam sampai Jumat dini hari terhadap tiga tersangka memberikan hasil maksimal.  Puncaknya antara pukul 03.00-04.00 Wita.  Apa yang dikatakan Bedi tentang keterlibatan para pelaku lain menghabisi kakaknya di tengah  rimbun pohon bakau, Selasa tanggal 19 Mei silam?

Bedi lama berkelit. Tak mau buka mulut. Tetapi, beban yang dipikulnya sangat berat.  Pemeriksaan dengan cara  kasar dan halus  tak mampu meluluhkan pertahanan hati Bedi.

Namun, tim  penyidik tak kehabisan akal. Kehadiran rohaniwan Katolik  melakukan  pendampingan rohani selama pemeriksaan  Jumat  dini hari kemarin itu memberi kontribusi besar.  Menyadari rasa salahnya, Bedi buka mulut menyebut empat tersangka. Aries Langobelen, Aji Eros Ratuloli,  Abubakar,  dan Gori Alexander, bersama-sama dengan Mathias  Bala, dan Muhamad Kapitan  berada di tempat kejadian perkara (TKP).  

Kapolres Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H,  menyatakan, semula ia hanya targetkan dua tersangka yang bisa diciduk. Namun hasilnya lebih dari harapannya.   

Semua pelaku yang ditangkap merupakan pengembangan keterangan dari Bedi.   Menurut Bedi, dia sendiri tidak menyaksikan pelaksanaan eksekusi. Tetapi, dia melihat mereka yang ditangkap kemarin  berada di lokasi bersama korban.  Untuk apa mereka berada di sana? Kapolres menyatakan, ini yang harus diselidiki?

Johannis  menggambarkan ekspresi Bedi ketika mengungkapkan pengakuannya Jumat dini hari. "Awalnya dia menyangkal keberadaannya. Setelah kita menyampaikan alibi, alibi dipatahkan. Kemudian kalau menurut kamu (Bedi), si Yohana yang membunuh, sekarang kamu tulis di kertas ini. Bagaimana caranya si Yohana melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri.  Dia 'patah' dan mengakui berada saat kejadian  di TKP. Pada saat itu dia menangis  histeris cukup lama dan menyebut nama Yesus berulangkali.  Dia katakan Yesus ada di dinding-dinding. Saya  bersalah, saya harus mengaku sudah," kata Johannis mengutip keterangan Bedi.

Menurut mantan Kasat Reskrim Khusus Polda NTT ini,   ungkapan demikian hanya ekspresi orang yang lagi  berat menghadapi permasalahan. Mathias Bala juga menangis membuat kami kaget. Dia sepertinya mengelak, tetapi kami sodorkan bukti-bukti dan fakta-fakta. Setelah minta  minum air,  tiba-tiba dia (Bala)  menangis. Dia memeluk Bedi, dan menyatakan betul-betul dirinya ada di  TKP. (ius)
 

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 110 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
<< Awal < Sebelumnya | 1 dari 1 Halaman Komentar | Selanjutnya > Akhir >>

perkara harus diusut tuntas.saya yakin polwil kupang patut kita hargai atas kinerja yang sudah membongkar kasus ini.

Komentar Oleh: Goend | Minggu, 6 Desember 2009 | 20:47 WITA

media memiliki peran besar untuk ungkap misteri pembunuhan berencana. Masih banyak pembunuhan berencana yang sulit diungkap karena ketiadaan saksi langsung dan hingga kini masih misteri. dalam kasus Langoday ini mirip dengan kasus kematian Rm. Faustin sega, Pr hanya bedanya pada kasus Langoday saksi tidak berbohong, sebaliknya pada kasus Rm. Faustin diduga saksi menyampaikan kebohongan sistematis. Apresiasi buat Polda NTT yang berhasil ungkap 2 kasus besar di Ngada dan Lewoleba, masyarakat dukung kinerja polisi yang demikian asal polisi juga terbuka kepada informasi dari masyarakat. Saksi harus dilindungi agar mereka tidak takut menyampaikan kesaksiannya yang sebenarnya. Selama ini banyak saksi takut memberikan kesaksiannya sebab keamanannya belum dijamin oleh polisi. Bravo polisi, khususnya polda NTT.

Komentar Oleh: anton we | Sabtu, 25 Juli 2009 | 12:41 WITA

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Jumat, 3 Februari 2012 | 23:42 WITA
Jumat, 3 Februari 2012 | 10:15 WITA
Jumat, 20 Januari 2012 | 09:58 WITA
Rabu, 18 Januari 2012 | 09:36 WITA
Rabu, 18 Januari 2012 | 00:21 WITA