Adik Kandung Langoday Terlibat
Kamis, 23 Juli 2009 09:58 WITA
Tak dinyana, adik kandung Yohakim, yaitu Lambertus Bedi Langoday, juga terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Yohakim yang ditemukan sudah meninggal dunia di kawasan hutan bakau sebelah timur Bandara Wunopito Lewoleba pada Rabu, 20 Mei 2009 lalu.
Bedi ditetapkan sebagai tersangka pertama dan ditahan di Markas Polres Lembata. Polisi berencana akan menahan lagi beberapa tersangka dalam beberapa hari ke depan.
Penangkapan Bedi berdasarkan keterangan saksi kunci keponakannya, Yohana Langoday alias Yohan kepada Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H, dan tim penyidik Direskrim Polda NTT. Puncaknya terjadi Selasa (21/7/2009) malam sekitar pukul 24.00 Wita.
Saat itu Yohana mengaku kepada tim Direskrim Polda keterlibatan pamannya (bapak kecilnya), Bedi Langoday, sebagai salah satu pelaku. Pada saat di lokasi tempat kejadian perkara (TKP) penemuan jenazah, Bedi menepuk bahu Yohana dan mengatakan, "Lihat kamu punya bapak besar (Yohakim Langoday)."
Drama penangkapan Bedi berlangsung lancar dan aman. Kapolres Lembata, AKBP Marthin Johannis, S.H, memimpin penangkapan bersama tim penyidik Polres Lembata dan Direskrim Polda NTT, AKP I Gede Putra Yasse, S.H, AKP Yeter Selan, Aiptu Buang Sine, Bripka Moris Anung Ilu, Brigpol Bambang Sukoco, S.H, Briptu Amon Jala, dan Bripda Roky J. Lomi, serta belasan anggota Reskrim Polres Lembata.
Kedatangan tim penyidik menumpang dua unit mobil patroli polisi dan sekitar 10 unit sepeda motor tiba di lokasi sekitar pukul 13.25 Wita. Jarak rumah Bedi dengan Mapolres sekitar lima sampai enam menit perjalanan.
Tim penyidik terpencar dua kelompok. Ada yang memasuki halaman rumah korban yang terletak berdampingan dengan rumah Bedi. AKP Yeter Selan, Gede Putra Yasse, serta anggota Reskrim lainnya menuju rumah Bedi. Beberapa anggota keluarga yang kebetulan kemarin siang banyak berada di rumah keluarga Yohakim melayani para tamu ini.
Pintu rumah tembok terbuka. Yeter dan Gede mengetuk bergantian menunggu jawaban pemilik dari dalam rumah ini. Menunggu sekitar tiga menit, Ny. Elisabeth, istri Bedi, keluar dari ruang belakang datang menghampiri polisi yang berdiri di depan pintu masuk. Yeter Selan menyampaikan maksud kedatangannya dan ingin bertemu. Ny. Elisabeth mengatakan, Bedi masih tidur dan ia bergegas ke kamar membangunkannya.
Tak lama berselang, Bedi masih tampak mengantuk mengenakan baju kaus dan celana tiga perempat keluar dari dalam kamar. Rambutnya yang telah banyak uban dipotong rapi pendek, bagian belakang dilepas panjang terurai. Bedi menemui tim reserse. Yeter Selan menyapa, "Selamat siang."
Yeter menyampaikan maksud kedatangan timnya dan membacakan surat tugas yang dimilikinya dan kemudian surat perintah penangkapan. Mendengar dirinya ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana, Bedi dan istrinya kaget bukan main. Ia seolah tak percaya meski masih bisa menguasai diri.
Kenapa saya jadi tersangka? Saya bunuh kakak saya? Ini rekayasa. Tidak mungkin. Pertanyaan Bedi tak diladeni tim penyidik. Yeter menyarankan supaya alasan itu disampaikan pada saat pemeriksaan di Mapolres. Istrinya juga keberatan dengan penetapan status tersangka kepada suaminya, namun argumentasinya tak digubris.
Satu eksemplar surat penangkapan diserahkan kepada Bedi Langoday. Ia minta istrinya mengambillkan kaca mata membaca ulang surat penangkapan tersebut. Tak banyak komentar, Bedi membubuhkan tanda tangannya pada surat penangkapan Nomor. Pol : SP-KAP/5/VII/Reskrim/2009 tanggal 22 Juli 2009.
Usai menandatangani surat itu, penyidik membawa Bedi ke kantor polisi. Bedi minta ganti pakaian yang lebih layak. Sempat tegang karena polisi tak melayani permintaannya. Brikpa Moris mengiring Bedi keluar rumah dan membawanya ke mobil patroli tertutup Polres Lembata. Drama penangkapan Bedi disaksikan sekitar 100 warga yang kebetulan melewati jalur jalan utama di Kota Lewoleba.
Pada saat memasuki pintu belakang kendaraan, salah seorang anggota keluarganya yang melampiaskan emosi menyerang Bedi. Satu pukulannya sempat mengenai tubuh Bedi sebelum berhasil dihalau polisi. Suasana tegang menyaksikan pemandangan mobil patroli yang baru saja keluar dri halaman rumah membawa Bedi ke Mapolres Lembata.
Kaum pria dan wanita berusia lanjut dan sahabat kenalan menangisi penangkapan Bedi. Mereka tak banyak berkata dan seolah tak percaya kalau Bedi diduga terlibat kasus kematian kakak kandungnya, Yohakim Langgoday.
Penangkapan tersangka pelaku pertama, sontak menjadi buah bibir segenap warga Lewoleba. Sejak pukul 15.00 Wita, sampail pukul 20.00 Wita, puluhan warga datang dari berbagai sudut Kota Lewoleba berkerumun di pinggir ruas Jalan Trans Lembata depan Mapolres Lembata. Mereka berdiri bergerombol menceritakan penangkapan Bedi Langoday. Kebanyakan warga tak menyangka, kalau Bedi Langoday menjadi salah satu tersangka kematian Yohakim Langoday.
Ny. Elisabeth, sekitar pukul 16.00 Wita datang ke Mapolres membawa makanan menjenguk suaminya yang meringkuk di balik sel. Tak tampak kerisauan dan kekhawatiran dari wajahnya.
Usai Bedi dibawa pergi dengan mobil patroli, Pos Kupang menemuinya ketika ia ke kios di sebelah rumahnya membeli sebungkus lilin. Ia mengatakan, penangkapanya rekayasa. "Itu rekayasa, suami saya tidak terlibat. Suami saya bukan pembunuh. Kita lihat saja nanti." tandas Ny. Elisabeth. (ius)
Kronologi Penangkapan Lambertus Bedi Langoday
* Sekitar pukul 11.00 Wita: Persiapan surat penangkapan tersangka pelaku
* Sekitar pukul 12.30 Wita: Kapolres Lembata menandatangi surat penangkapan
* Sekitar pukul 13.00 Wita: Apel tim sebelum ke lokasi
* Sekitar pukul 13.12 Wita: Tim Reskrim bergerak ke rumah tersangka
* Sekitar pukul 13.40 Wita: Tim berada di rumah tersangka dan menangkap terangka.