Namun, dari segi reaksi atau ekspresi para peserta ujian atas pengumuman ini tampak tidak beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di Kota Kupang misalnya, mereka tampak sangat gembira dan bangga, tetapi terkesan berlebihan sampai mencorat-coret pakaian seragam mereka yang secara fisik masih layak dipakai. Bahkan rambut dan wajah mereka juga disemprot dengan cat pilox.
Mereka bergerombol bahkan melakukan konvoi di jalan-jalan umum dengan tampang mereka yang sudah hampir tidak dikenali lagi. Ini perilaku buruk yang tidak patut dicontoh dan diulangi pada tahun-tahun berikutnya.
Sejumlah kepala sekolah di Kabupaten Lebak, Banten, meminta siswa yang lulus Ujian Nasional (UN) tidak berlebihan dengan melakukan aksi coret-coret pakaian dan konvoi kendaraan di jalan raya.
"Kami minta siswa yang lulus UN nanti sebaiknya bersyukur kepada Allah SWT dan jangan merayakan hura-hura yang bisa merugikan diri sendiri," ujar Kepala SMK Setiabudhi Rangkasbitung, Armin, (14/6).
Armin mengatakan, apapun alasannya bila dilihat dari kacamata pendidikan, hura-hura dalam merayakan kelulusan tetap tidak dibenarkan, karena aksi semacam itu merupakan tindakan tak terpuji.
"Daripada baju seragam dicoret-coret lebih baik dikumpulkan dan disumbangkan kepada orang yang membutuhkannya, karena masih banyak warga miskin yang sangat membutuhkan pakaian seragam itu," tambah Armin.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Asep Komar Hidayat, mengatakan, pihaknya sudah memberikan instruksi kepada seluruh kepala sekolah. Mereka diminta tidak merayakan kelulusan UN secara berlebihan dengan mencorat-coret baju seragam atau konvoi sepeda motor.
Asep juga menambahkan, bagi siswa yang melakukan perbuatan tidak terpuji saat merayakan kelulusan, kemungkinan besar tidak akan diberikan Surat Kelakuan Baik (SKB) sebagai persyaratan untuk mendaftarkan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi. (ati/antara)
Saya bukannya menentang Ujian Nasional (UN). Tapi saya merasa kasihan dengan pendidikan kita di Indonsia, lebih kasihan lagi pendidikan kita di NTT. Mengapa kita begitu terobsesi dengan yang namanya Ujian Nasional? Ujian Nasional dilihat sebagai satu-satunya alat ukur pencapaian pembelajaran dari anak didik. Kita sudah dikekang. Lalu dimanakah kemerdekaan? Dimanakah keadilan untuk anak-anak yang tidak lulus itu? Harus ada perubahan kebijakan dalam sistem yang diterapkan. Standardised Test such as the National Exam (Ujian Nasional) does not provide any directions for teachers to improve students' learning. Memang perubahan itu akan sangat sulit, tetapi kenapa kita tidak mencobanya? Perubahan itu bukan untuk kepentingan anda atau saya, tapi untuk anak didik kita di masa mendatang.