»Home » Regional NTT » Humaniora »
metil dhiu
Pilih Sekolah di Tahun Ajaran Baru (2)
Oleh Apolonia Matilde Dhiu
Kamis, 11 Juni 2009 | 09:28 WITA

Tidak peduli panas menyengat, diinjak-injak atau disenggol-senggol. Yang terpenting mereka bisa mendaftar. Padahal, dengan kebijakan pemerintah mengategorikan sekolah ke dalam sekolah rintisan berstandar nasional dan internasional, siswa sulit mendapat kesempatan masuk sekolah menengah umum, apalagi yang namanya negeri.

Banyak anak menangis dan merepotkan orangtuanya ketika ia tidak terakomodir di sekolah umum yang diidolakannya. Akibatnya, berbagai jurus dilakukan orangtua agar anaknya masuk sekolah pilihannya, baik melalui 'pintu depan' maupun melalui 'pintu belakang'.

Persoalan bertambah ketika daya tampung sekolah umum terbatas. Namun, kita coba menengok lebih jauh di sekolah-sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan negeri dan swasta memang selalu dipandang sebelah mata oleh orangtua dan siswa itu sendiri. Ketika sudah tidak terakomodir lagi di sekolah umum, barulah mereka memilih masuk sekolah kejuruan.  

Beberapa kepala sekolah yang ditemui Pos Kupang secara terpisah, Selasa (2/6/2009), menyampaikan argumentasi yang sama. Kepala SMA Negeri 1 Kupang, Drs. Bapa Muda mengatakan, penerimaan siswa baru di sekolah ini selalu diwarnai dengan membludaknya siswa yang mendaftar. Namun, sejak SMAN 1 Kupang ditetapkan sebagai Sekolah Rintisan Standar Internasional, penerimaan berkurang dan terbatas. Penerimaan mengikuti sistem ranking dan disesuaikan dengan jumlah rombongan belajar.

Dia menyebutkan, SMA Negeri 1 Kupang memiliki 10 rombongan belajar reguler dan satu rombongan belajar akselerasi. Masing-masing rombongan belajar reguler ditetapkan maksimal 35 orang, tidak boleh lebih. Hal ini seharusnya membuat siswa baru dan orangtua melihat kemampuan anak dan bakat anak mau ke mana dan juga kondisi atau latar belakang.

Menurutnya, jika ingin anaknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, maka wajar-wajar saja memasukkan anak ke SMA. Tapi, kalau ingin agar anaknya tamat dan bekerja, sebaiknya orangtua membuat keputusan yang bijak dengan memasukakn anaknya di sekolah kejuruan.

Bapa Muda mengatakan, kecenderungan orangtua memilih sekolah-skeolah umum karena lemahnya sosialiasi mengenai sekolah kejuruan. Ditambah lagi dengan kebijakan pemerintah yang membuat perbandingan SMA:SMK 70:30.

Bapa Muda mengemukakan, dengan adanya kebijakan Menteri Pendidikan Nasional yang menargetkan tahun 2010-2015 dengan perbandingan SMA:SMK menjadi 30:70 akan sangat membantu orangtua untuk memilih sekolah yang tepat buat anaknya. Menurutnya, sekolah kejuruan memudahkan orangtua yang menginginkan anaknya segera memiliki pekerjaan. Karena di sana, anak dididik bukan saja teori, tetapi juga life skill yang menyiapkan anak terjun ke pasar kerja. Menurutnya, hal ini sangat membantu orangtua yang tidak mampu.

Kepala SMA Negeri 2 Kupang, Drs. Muchsen Thalib, S.Pd, mengatakan, banyak orangtua melihat sekolah umum sebagai peluang untuk berkembang. Menurutnya, dari sisi pendidikan orangtua atau siswa masih memiliki orientasi memilih sekolah umum untuk melanjutkan studi ke pendidikan tinggi. Tetapi, fakta di lapangan banyak anak tamat SMA bukan melanjutkan studi, tetapi mencari kerja. Kalau mau bekerja dan tidak ada skill, maka SDM yang bersangkutan dipertanyakan. Untuk itu perlu sosialisasi intensif dari sekolah kejuruan.

Selain itu, kata Muchsen, nama sekolah masih menjadi spirit orangtua memilih sekolah. Orangtua juga perlu mengenal program keahlian yang dipunyai sekolah kejuruan. Untuk itu, orangtua harus benar-benar memahami karakter anak sehingga memilih sekolah kejuruan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan anak.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kota Kupang, Allan Modjo, mengatakan, SMK sering mengalami kekurangan siswa setiap tahunnya. Pasalnya, banyak orangtua yang tidak paham tentang sekolah kejuruan dan cenderung memasukkan anaknya ke sekolah menengah umum (SMU). Untuk itu, perlu sosialisasi dan pencitraan kembali terhadap SMK.

Menurut Alan, kendala utama yang dihadapi SMK setiap tahun adalah kekurangan siswa. Jika ada SMK yang melebihi target, katanya, hanya merupakan buangan dari sekolah menengah umum karena tidak diterima di sana.

Dijelaskannya, saat ini masih banyak orangtua terjebak memilih sekolah untuk anak- anaknya sehingga enggan memasukkan anaknya ke SMK. Padahal, katanya, kalau mau dilihat lebih jeli, sekolah-sekolah kejuruan sangat baik untuk anak-anak dan masyarakat di daerah ini. Karena, SMK lebih difokuaskan pada program life skill (keterampilan hidup) dan dunia kerja untuk siswa sehingga siap terjun ke masyarakat ketika tamat. Sedangkan sekolah menengah umum bertujuan mendidik anak menuju perguruan tinggi.

"Di SMA tidak ada program life skill. Memang tujuanya agar anak bisa sampai di perguruan tinggi. Ini yang jadi soal, karena banyak orangtua kita yang belum paham tentang sekolah kejuruan. Selain itu, ada semacam gengsi kalau anak masuk SMK, karena dipandang tidak mampu. Padahal, SMK menciptakan output yang siap masuk ke dunia kerja," kata Alan.

Dikatakannya, jumlah SMK di Kota Kupang sebanyak 17 sekolah yang terdiri dari 11 SMK negeri dan enam lainnya SMK swasta. Banyak prestasi yang ditorehkan oleh siswa dari SMK. Sebagai contoh, katanya, ada siswa SMK yang meraih juara sampai di Jepang untuk bidang tata busana dan desain grafis.

Menanggapi pertanyaan tentang sarana prasarana penunjang di SMK, Alan menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih memiliki kendala sarana-prasarana, tenaga pengajar kejuruan. Menurutnya, tenaga pengajar yang dipakai saat ini didatangkan dari Jawa, khususnya untuk kriya tekstil, kriya kayu dan eksterior interior. "Ya, kita tahu kemajuan kan begitu pesat, namun beberapa sarana dan prasarana untuk praktik masih kurang. Bahkan, banyak alat yang masih produksi tahun 70-an atau 80- an. Selain itu, masih banyak tenaga pengajar yang didatangkan dari Jawa, karena tenaga-tenaga untuk beberapa program kejuruan tidak ada di NTT," katanya.

Tahun 2009, katanya, pihaknya sudah mengusulkan kepada Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Kejuruan Depdiknas RI untuk pengadaan dan pembaruan alat.

Sebenarnya apa pun yang menjadi pilihan masyarakat dalam hal ini orangtua ataupun siswa perlu paham dulu apa tujuan melanjutkan studi, melihat kembali latar belakang atau kondisi yang dimiliki masing-masing individu sehingga bisa memutuskan memilih sekolah mana yang tepat, dan mempelajari secara baik jenis-jenis sekolah yang ada.

Selain itu, lembaga penyelenggara maupun pemerintah perlu melakukan sosialisasi yang baik dan terarah sehingga masyarakat bisa memilih sekolah secara tepat dan cermat. Hal ini membantu lembaga penyelenggara maupun pemerintah untuk tidak lagi memusingkan kepala saat memasuki tahun ajaran baru, menghadapi demonstrasi orangtua karena anaknya tidak terakomodir di sekolah umum ataupun sekolah terdekat. (bersambung) 

Editor : »» Penulis : »» Sumber :
Dibaca 111 kali  »»  Dikomentari 0 kali »» Share on Facebook »»
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.
komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Tiang Listrik Miring
Galeri POS KUPANG
Tiang Listrik Miring
more on galeri foto
Selasa, 7 Februari 2012 | 11:06 WITA
Minggu, 29 Januari 2012 | 18:49 WITA
Minggu, 29 Januari 2012 | 18:38 WITA
Selasa, 24 Januari 2012 | 17:28 WITA
Senin, 16 Januari 2012 | 17:28 WITA