Informasi yang dihimpun Pos Kupang di Borong, pekan lalu menyebutkan, warga cukup antusias menerima rumah translok bantuan pemerintah itu. Sebab, sarana dan prasarana yang disiapkan pemerintah memadai. Bahkan pemerintah memberi jaminan hidup (jadup) bagi penghuni translok. Namun belakangan ini rumah itu tak berpenghuni karena warga cenderung kembali ke kampung halamanya.
Anggota DPRD Manggarai, Jemain, mengatakan, rumah translok di Buntal mubazir. Kondisi rumah di translok itu tidak terawat, bahkan beberapa bagian rumah sudah ada tanda terjadi kerusakan. Rumah itu mulai ditempati ketika musim tanam dan saat panen saja.
Karena itu, Jemain berharap perlu campur tangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur untuk menertibkan warga penerima rumah bantuan pemerintah pusat tersebut, dan warga yang menerima bantuan rumah di lokias itu harus memberi jaminan akan menempati rumah itu.
Jamain menjelaskan, tim DPRD bersama instansi pemerintah daerah sudah meninjau ke lokasi translok Bunta, beberapa waktu lalul. Di lokasi itu ditemukan banyak rumah tidak terawat dan dipenuhi semak belukar. Karena itu, pemerintah daerah perlu menata ulang agar rumah bantuan itu tetap dihuni dan ada pengembangan ekonomi bagi masyarakat di lokasi itu dengan memanfaatkan lahan pertanian yang ada di kawasan itu.
"Bagi warga yang menerima bantuan rumah translok tapi tidak menempatinya sebaiknya dianulir/dibatalkan lalu digantikan dengan warga lain yang lebih tepat dan membutuhkan. Anggota tim dewan yang berkunjung ke lokasi translok itu merekomendasikan agar yang tidak dihuni rumahnya agar ditinjau kembali," ujarnya. (*)