Kanal

Dialektika Ruang Publik dan Public Civility

ilustrasi -

Public Civility

Kontestasi demokrasi adalah momentum untuk menciptakan dan memperkuat public civility (keadaban publik). Keadaban publik dikonstruksi melalui proses yang berpijak pada akal sehat. Proses ini dimulai dari para elite politik. Mereka bertanggung jawab untuk menjadikan kontestasi demokrasi sebagai momentum mendewasakan rakyat.

Baca: BERITA POPULER: Harga BBM Naik, BTS Ditolak di Negaranya & Calon Istri Ahok Penggemar Drakor

Tetapi hal seperti tidak mungkin terwujud manakala elite-elite politik selalu memakai paradigma kapitalis. Mereka tidak menjadikan pesta demokrasi sebagai "sekolah politik" bagi rakyat, tetapi justru menjadikannya sebagai kontestasi untuk memperkuat agenda proyek elektoral mereka.

Para Para elite politik seringkali mengutamakan aspek politik yang kanalitatif pragmatik. Maka tidak heran, produk demokrasi (yang diseleksi dan dipilih melalui proses demokrasi elektoral) seringkali mengecewakan rakyat. Mereka acapkali menjadi figur yang "beroposisi" dengan rakyat.

Di sinilah tugas para elite politik. Kita berharap agar para elite politik menjadi agen-agen restoratif yang merevitalisai praksis berpolitik dan menciptakan dialektika dalam ruang publik dimana rakyat diperlakukan sebagai subyek politik.

Elite politik bertanggung jawab menciptakan deliberasi publik. Itu berarti dalam ruang publik itu terselenggara proses dialektika yang berpijak pada aspek-aspek elementer dalam demokrasi.

Mengikuti Habermas (1996), ruang publik merupakan suatu jaringan untuk mengkomunikasikan informasi dan pandangan. Di dalamnya rakyat diberi otoritas untuk berpartisipasi dalam proses timbal-balik: berdiskusi dalam keadaan bebas dan setara tentang problem-problem sosial dan bersama-sama memikirkan cara untuk mengatasinya.

Dengan kata lain, dialektika dan deliberasi memungkinkan terciptanya public civility. Di sini, tugas elite politik adalah mengemukakan gagasan-gagasan substansial untuk menjadi santapan publik dan kemudian memberi peluang kepada publik untuk memberikan koreksi.

Baca: Jika Tak Ada Jungkook BTS, Nyawa MC Korea Ini Mungkin Sudah Melayang

Dari situlah, elite politik mengkonstruksi pandangan-pandangan politik untuk dikonversi dalam praksis berpolitik. Dengan demikian, apa yang menjadi gagasan berpolitik yang ditawarkan, bukanlah milik mereka (elite politik) saja, melainkan juga milik rakyat, sebab telah diproses melalui mekanisme dialektika dan deliberasi publik.

Dengan itu pula, gagasan-gagasan berdemokrasi direkonstruksi melalui proses yang mengutamakan persoalan kewargaan (citinzenship). Maka legitimasi publik pun bukan saja terletak pada keterpilihan figur atau tindakan memilih rakyat, tetapi juga terletak pada aspek dialektika dan deliberatif sebelum pemilihan.

Halaman
1234
Editor: Putra
Sumber: Pos Kupang Cetak

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer